desain tanpa judul (4)

Ihyaa’ Turats

Oleh Departemen Kajian dan Keilmuan

Warisan. Apa yang lebih indah dari sebuah warisan selain peninggalan para ulama? Buku-buku intelektual yang menyimpan begitu banyak khazanah ilmu, menjadi bekal bagi generasi setelahnya dalam menghadapi perubahan zaman. Betapa meruginya kami sebagai generasi muda Islam apabila tidak pernah menyentuh karya-karya agung itu.

Itulah yang beberapa bulan terakhir ini kami proyeksikan, menghidupkan kembali warisan intelektual para ulama melalui kajian kitab. Membuka kembali lembar demi lembar karya mereka, mempelajari ilmunya, dan mengambil bekal yang masih begitu relevan untuk kehidupan hari ini.

Pilihan kami jatuh pada dua tema besar kajian. Pertama, Fikih Muamalah Kontemporer. Di tengah tingginya aktivitas konsumsi dan berkembangnya berbagai bentuk transaksi, bukankah kita semakin sering berhadapan dengan beragam akad, sistem, dan praktik muamalah? Sayangnya, sebagian di antaranya terkadang luput dari batas-batas syariat, tidak jarang pula menyeret seseorang ke dalam wilayah syubhat, bahkan terjerumus pada perkara yang diharamkan. Sebagai seorang muslim, memahami batas-batas syariat dalam bermuamalah tentu merupakan sebuah keharusan.

Kajian diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan biografi pemateri, Ustaz Nur Fajri Romadhon, B.Sh., M.A., seorang ulama muda sekaligus pakar hukum dan studi Islam. Lembar demi lembar kitab Fiqhul Muamalah Al-Maliyah Al-Mu‘ashirah karya Syekh Prof. Dr. Saad bin Turki Al-Khotslan dikupas dengan metode mencuplik paragraf-paragraf yang menjadi pokok pembahasan, untuk kemudian dijelaskan secara rinci. Penjelasan yang disertai berbagai contoh aplikatif turut memudahkan peserta dalam memahami qowaid dan ahkam yang dibahas.

Kajian pun tidak selesai begitu saja setelah materi disampaikan. Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian yang cukup hidup. Berbagai pertanyaan kritis yang bermunculan menunjukkan antusiasme peserta.

Agaknya, empat pertemuan yang kami sepakati sejak awal memang belum cukup. Saking membludaknya materi yang masih krusial untuk dibahas, Ustaz pun berinisiatif menambah tiga pertemuan agar pembahasan kitab dapat dilanjutkan. Rasanya sayang jika harus berhenti ketika masih banyak lembar kitab yang belum selesai dikupas.

Tema kedua yang kami pilih tak kalah menarik, Sirah Nabawiyyah. Sebuah upaya untuk kembali menelusuri perjalanan Rasulullah SAW dalam membangun umat yang kokoh. Bersama Ustaz Hepi Andi Bastoni, M.A., M.Pd.I., seorang pakar sirah yang telah mengabadikan ilmu dan pengetahuannya dalam puluhan karya, peserta diajak menelisik kembali jejak perjuangan Rasulullah SAW dalam membumikan Islam.

Peristiwa demi peristiwa, pengorbanan demi pengorbanan, disampaikan dengan untaian kata yang indah sekaligus ringan untuk dipahami. Pembahasan kemudian disempurnakan dengan menarik benang merah antara berbagai peristiwa pada masa Rasulullah SAW dan realitas kehidupan hari ini. Kajian ditutup dengan sesi tanya jawab yang membahas beragam hal, mulai dari persoalan yang muncul dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW hingga kiat-kiat mendalami sejarah kehidupan beliau.

Sebelas pertemuan, lebih dari 130 peserta, dan mayoritas di antaranya adalah mahasiswa. Angka yang cukup untuk membuat kami percaya bahwa warisan ilmu para ulama masih punya tempat di tengah generasi hari ini.

Maka, semoga Ihyaa’ Turats tidak berhenti sampai di sini. Sebab, bukankah warisan yang berharga layak untuk terus dihidupkan?

Departemen Kajian Keilmuan
Departemen Kajian Keilmuan
Articles: 2

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *