desain tanpa judul (4)

Dua Pekan Berkesan: Catatan dari Tanah Sadawangi

Oleh: Faiza Shabrina

Jumat itu terasa berbeda. Mentari tersenyum lebih lebar dari biasanya. Angin bertiup lebih kencang, lebih meriah. Pepohonan dan tetumbuhan menari-nari. Dahannya melambai kencang sebagaimana umbul-umbul yang berkibar di sepanjang jalan. Agaknya mereka semua kegirangan. Ada apakah gerangan?

Tak ada bisik-bisik dari warga tentang apa yang akan terjadi. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Anak-anak pulang sekolah, para ayah masih bekerja, ibu-ibu sibuk mengangkat jemuran yang nyaris berterbangan tertiup angin. Mereka tampak biasa, tidak seperti aku yang sedari tadi tak sabar menunggu meski tak tahu jelas apa yang sedang ditunggu.

Sekitar pukul dua siang, sebuah bus datang ke terminal desa membawa rombongan pemuda pemudi. Dari Jakarta katanya. Ramai-ramai mereka menurunkan barang, lalu pergi membawanya menuju rumah yang akan mereka tempati. Betul apa kataku tadi, akan ada sesuatu di sini. Sesuatu yang terjadi begitu singkat, tetapi meninggalkan banyak jejak makna dalam diriku.

Sebelum melanjutkan cerita, izinkan aku berkenalan dengan kalian semua.

Hai, perkenalkan, aku Sadawangi. Banyak orang tidak mengenalku, tapi selama dua pekan kemarin, mereka—para pemuda Jakarta itu—mulai memperkenalkanku pada khalayak. Bersamaku mereka membuat banyak cerita. Rumahku, sekolahku, jalananku, serta lapanganku dipenuhi oleh kebahagiaan yang mereka tebar di tiap sudutnya. Sejak kedatangan mereka orang-orangku lebih banyak berkumpul dan menyapa. Jangan tanya perihal anak-anak, mereka amat sangat senang dengan kehadiran kakak-kakak Jakarta itu.

img 3648

Di hari kedua aku baru tahu kalau ternyata mereka ini bukan mahasiswa KKN pada umumnya. Mereka adalah perwakilan dari Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang sedang menjalankan program pengabdian masyarakat. Dengar-dengar dari para tokoh desa yang sudah mereka temui, mereka datang dengan beragam program sosial yang bernilai islami. Aku sangat senang mendengarnya. Di kehidupan yang semrawut ini ternyata masih banyak anak muda yang semangat meluaskan syiar Islam, bahkan sampai ke daerah terpencil sepertiku.

Masjid-masjidku kini lebih ramai dari biasanya. Saf salat yang biasanya hanya satu-dua baris bertambah. Bukan hanya bapak-bapak dan ibu-ibu yang mengisinya, deretan itu kini dipenuhi oleh para pemuda yang ikut salat berjamaah. Tiap bakda Subuh dan Maghrib para pemuda LDK bergantian menyampaikan kultum. Sebagian jamaah antusias menyimak, satu dua mendengarkan sambil terkantuk-kantuk. Setelah kultum usai mereka kembali ke posko masing-masing. Alunan zikir pagi petang terdengar menggema dari posko-posko mereka di kedua waktu tersebut.

Pagi yang biasanya membosankan bagi anak-anak sekolah berubah menjadi waktu yang mereka nantikan. “Pengen ketemu aa-aa dan teteh-teteh,” katanya. Suasana kelas jadi makin meriah. Para pemuda itu membawakan materi dengan berbagai cara baru. Permainan interaktif jadi sesi favorit anak-anak yang sudah bosan menulis banyak materi.

img 3381

Bukan hanya sekolah formal, kelas-kelas madrasah diniah dan TPQ juga dimasuki oleh pemuda LDK yang mengajar berbagai pelajaran. Sayangnya beberapa murid kelas sore jadi sering bolos karena di waktu yang bersamaan, kakak-kakak LDK membuka rumah baca di serambi masjid balai desa. Aku tidak begitu mempermasalahkannya asalkan anak-anak bisa berkegiatan dengan bahagia.

Lain dengan anak-anak yang senang bermain dengan kakak-kakak, para ibu senang karena mereka bisa dapat sembako supermurah. Para pemuda itu menyiapkan paket-paket sembako murah untuk warga. Tentu ini sangat membantu. Beberapa dari mereka yang memenuhi “kriteria” bahkan mendapat paket sembako gratis yang langsung diantar dari pintu ke pintu.

Menjelang tujuh belasan suasana makin gegap gempita. Kalau saja aku bisa bercermin, pastilah aku sudah memuji diri sendiri berulang kali. Perhiasan dan pernak-pernik yang kupakai semakin banyak. Nuansa merah putih semakin menyala. Selain bendera dan umbul-umbul yang menghiasi tepian jalan, aku sangat menyukai lapanganku yang makin ramai dikunjungi warga.

Lihat! Area depan panggung ramai sekali sekarang. Ada lapak pakaian murah yang sedang diserbu ibu-ibu. Lagi-lagi para pemuda itu melakukan gebrakan baru. Makin senanglah ibu-ibu itu dengan kalian. Kantong belanja mereka penuh tanpa harus merogoh kocek banyak-banyak.

Puncak keseruan terjadi sehari setelah upacara tujuh belasan. Meski terhitung hari kerja, perlombaan yang diadakan oleh pemuda LDK itu diminati banyak peserta. Sedari pagi mereka melakukan bermacam perlombaan untuk berbagai jenjang. Lapangan sibuk sekali saat itu. Beberapa bagiannya dipenuhi oleh peserta yang lomba secara bergantian. Saking banyaknya lomba, sore hari menjelang Maghrib pengumuman pemenang dan pembagian hadiah baru terlaksana. Beres-beres pun baru dilakukan saat hari sudah gelap.

Banyak kegiatan yang tak bisa aku sebutkan di sini. Dua pekan kemarin benar-benar berarti bagiku. Tidak bisa dihitung secara materi memang, tapi aku dapat mengumpulkan makna baru. Kalian tahu, anak-anak tak ada hentinya membicarakan kakak-kakak Jakarta. Kepada orang tua di rumah, mereka menyebut kebaikan kakak-kakak. Kehadiran, motivasi, serta pesan yang pemuda LDK sampaikan di kelas-kelas meninggalkan kesan bahwa belajar itu menyenangkan.

img 3634

Aku tidak tahu persis apa yang para pemuda itu rasakan. Aku hanya bisa melihat wajah-wajah bahagia mereka di depan orang-orangku. Namun aku yakin, di balik itu semua pasti ada perjuangan yang mereka usahakan dari jauh-jauh hari. Ada lelah dan luka yang berusaha mereka obati. Mungkin tak semua rencana berjalan mulus, tapi dengan segala cara, mereka berusaha merealisasikan apa yang sudah mereka rancangkan.

Sama sepertiku yang mendapat banyak makna, tiap mereka pasti memaknai dua pekan ini dengan cara berbeda. Aku yakin perubahan bukan hanya dirasakan oleh diriku. Dalam jiwa mereka pasti ada cermin dan ruang-ruang yang mereka sediakan untuk bertumbuh. Ada celah-celah kesalahan yang akhirnya menjadi pelajaran berharga bagi mereka semua.

Harapanku tidak terbatas hanya untuk orang-orangku. Aku juga berharap banyak kebaikan untuk para pemuda Jakarta itu. Semoga titik-titik kehidupan mereka terkumpul selama dua pekan mengunjungiku. Kalau aku boleh berpesan, sampaikan terima kasihku untuk mereka. Tolong katakan pada mereka, jangan lupakan tiap sudutku yang pernah kalian tapaki. Jangan segan-segan untuk mengunjungiku kembali. Di lain waktu, mungkin kita bisa bertemu kembali. 

Selamat melanjutkan perjuangan, Kakak-Kakak Jakarta.

Faiza Shabrina Robbani
Faiza Shabrina Robbani
Articles: 4

2 Comments

  1. Baru baca awalnya aja feel 2 pekan itu udah dateng lagi, apalagi pas baca isinya sampe akhir.. beuhh inimah beneran gamonnya gamau redup 😖😖

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *