Bagi mereka, sumud adalah puing-puing bangunan yang disusun kembali meskipun puluhan bom dengan ganas menghantam rumah mereka.
Sumud bertransformasi menjadi teriakan-teriakan yang menggema di langit Gaza, sebuah seruan bahwa tanah ini adalah milik mereka, selamanya.
Sumud bisa kau lihat ketika pohon-pohon zaitun luluh lantak tergilas kendaraan tempur berlapis baja dan meriam, namun mereka tak berhenti menanamnya kembali.
Terkadang, bentuk perlawanan yang paling agung tercermin ketika keteguhan hati menjadi satu-satunya hal yang tak mampu dikalahkan.
Seperti Bilal bin Rabbah yang tubuhnya dipanggang di bawah terik matahari dengan batu besar yang menimpa dadanya. Keteguhan imannya tak sedikitpun menggoyahkan lisannya untuk mendustakan Allah.
Hidup mungkin tak segan-segan merebut segala kenyamanan yang kita miliki. Palestina mengajarkan kita untuk melihat kembali, bahwa memilih untuk tetap percaya dan melanjutkan langkah meski dengan hati yang tertatih adalah cara iman mengantarkan kita pada kemenangan yang telah Allah janjikan.