desain tanpa judul (4)

Al-Quds di Sebalik Namanya

Sebuah catatan dari podcast mingguan di channel telegram Risalah Amar

Oleh Zahra Haniefrwayne307 al aqsa mosque 196846 1920

Kota milik semua agama. Begitu orang-orang di seluruh dunia mengenalnya. Al-Quds, tanah yang suci itulah namanya. Pendudukan Israel berusaha mengubahnya menjadi Yerusalem. Dan agaknya mereka hampir berhasil, setidaknya itulah yang dikenal dunia sekarang ini.

Nama rupanya begitu penting. Zionis Israel bekerja begitu keras mengubah nama Al-Quds dan juga kota-kota lain di seluruh Palestina. Seperti Al-Khalil menjadi Hebron, Ariha menjadi Jericho, dan banyak daerah lainnya. Mereka berdalih bahwa inilah nama aslinya. Nama lama yang perlu dilestarikan.

Namun sebenarnya, apa yang ada dibalik nama kota suci ini?

 

Dalam catatan surat-surat Amarna di abad 14 SM, kota ini pertama kali disebut sebagai Kota Urusalim. Berasal dari bahasa Kanaan dan merupakan gabungan kata uru (kota) dan shaleem (damai). Bermakna Kota Perdamaian menurut sebagian ahli bahasa.

Kota ini memiliki sejarah panjang yang dilalui agama-agama Ibrahimiyah. Sepanjang perjalanannya, nama kota ini berubah berkali-kali mengikuti penghancuran dan penaklukan yang terus berlangsung memperebutkannya.

Dalam Muqaddimah Ibnu Khaldun disebutkan bahwa kota ini dibangun oleh Nabi Daud. Diawali dengan pembangunan kemah untuk menyimpan Tabut dan atribut-atribut keagamaan dari masa Nabi Musa. Lalu pembangunannya dilanjutkan oleh Nabi Sulaiman. Hingga berdirilah masjid yang luar biasa megah. Disebutkan bahwa tiang-tiangnya terbuat dari perunggu, lantainya dari kaca, dinding dan pintunya pun dibalut emas.

Masjid megah ini sayangnya dihancurkan kemudian oleh Raja Nebukadnezar. Bertahun-tahun setelahnya, pembangunan ulang dilakukan oleh Nabi Uzair. Tapi tetap saja, tidak pernah ada pembangunan yang bisa mengembalikan kemegahan masjid di era Nabi Sulaiman.

Pada masa Kaisar Hadrianus, sebuah kuil Pagan untuk Dewa Jupiter justru diberdirikan di atas reruntuhan masjid ini. Di masa inilah, nama Yerusalem berubah menjadi Aelia Kapitolina atau dalam literatur Arab dilafadzkan Iliyya.

Nama Iliyya untuk kota ini digunakan semasa pendudukan Romawi. Nama inilah yang kelak tercantum dalam naskah perjanjian keamanan yang dibuat Umar bin al-Khattab untuk penduduk Baitul Maqdis menjelang pembebasannya.

Rasulullah juga menyebut kota ini dengan Iliyya. Dalam hadist tentang safar berikut ini beliau menisbatkan Masjidil Aqsha dengan kota Iliyya

حديث أَبي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّمَا يُسَافَرُ إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ وَمَسْجِدِي وَمَسْجِدِ إِيلِيَاءَ. رواه مسلم

Hadits Abu Hurairah: Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Sungguh safar itu pada tiga masjid, Masjid Kakbah, Masjidku (masjid nabawi), dan Masjid Iliyya

 

Adapun penggunaan nama Masjidil Aqsha pertama kali disebutkan dalam Al-Quran di surat Al-Isra ayat pertama

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ۝١

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat

 

Maka kemudian setelah kota ini dibebaskan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, ditetapkanlah nama Islami untuk menyebut kota ini. Istilah Baitul Maqdis pun menjadi nama yang lebih populer dan sering digunakan.

Dari nama Baitul Maqdis inilah nama Al-Quds diambil. Digunakan secara resmi pertama kali di era Abbasiyah. Shalahuddin Al-Ayyubi kemudian mempopulerkan kembali penggunaan istilah Al-Quds ini setelah pembebasannya. Nama ini kemudian menjadi nama administratif yang bertahan hingga era Kesultanan Utsmaniyah.

Di masa kini, Zionis Israel berusaha keras mengembalikan nama kota ini ke nama asli dalam kitab mereka yaitu Taurat. Mengembalikan Al-Quds menjadi Yerusalem. Ironisnya, kata Yerusalem ini konon berakar dari Urusalim, kota yang damai. Tapi kota ini justru terus diperebutkan dan menjadi alasan untuk banyak tindak kekerasan hingga genosida di sepanjang tanah Palestina.

Menurut Prof. Syekh Abdul Fattah Al-Awaisi, ini adalah salah satu bentuk perang narasi. Sebab pada kenyataannya, sekalipun nama asli kota ini adalah Yerusalem, bahasa yang menjadi akar nama ini sudah tidak digunakan lagi.

Dan benar adanya bahwa nama adalah satu hal besar. Sebab bukankah nama selalu menjadi perwajahan pertama yang manusia indrai? Bila nama Al-Quds yang suci ini benar-benar bergeser menjadi Yerusalem, perwajahan kota ini sebagai kiblat pertama muslimin tentu akan berubah pula.

Maka benar bagi kita untuk terus menyebutnya Al-Quds. Mempertahankan nama islami yang dimilikinya. Sebab di dalamnya terkandung doa, harapan dan perjuangan dari ribuan tahun lamanya. Berharap dengan setitik usaha ini, dicatat pulalah cita-cita pembebasan itu dalam kitab amalan.


Sumber Utama: Podcast Channel Telegram Risalah Amar

Sumber lainnya:

https://isamveri.org/pdfdrg/D03564/2011_4/2011_4_AWAISIK.pdf

Aelia Capitolina (Hadrianic Jerusalem) (135 to ca. 300 C.E.) (Chapter 13) – The Archaeology of the Holy Land

تاريخ ابن خلدون، ١, ٤٤١

https://www.encyclopedia.com/places/asia/israeli-political-geography/jerusalem

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *