Oleh: Faiza Shabrina (Staff Media Center 2026)
“Kenapa di agama Islam perempuan harus pake kerudung?” tanya seorang teman saat kami sedang bercakap-cakap.
Eh? Aku menoleh padanya cukup lama sebelum menjawab pertanyaannya dengan ragu.
Seharusnya aku tidak kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh seseorang yang sehari-harinya tidak berhijab itu. Bahkan di lemarinya tidak ada kerudung barang sehelai pun. Saat itu aku kaget bukan karena dia yang bertanya, tapi karena aku yang sudah bertahun-tahun memakai hijab tidak punya jawaban yakin atas pertanyaan tersebut.
Pertanyaan itu seakan gerbang untuk kembali menginsafi banyak hal, utamanya perihal beragama. Barangkali di balik ibadah dalam keseharianku, banyak hal penting yang aku lewatkan. Sepenting mengetahui definisi dari ibadah itu sendiri, tata caranya, atau alasan kuat mengapa aku melakukannya selama ini.
Boleh jadi ketidaktahuan akan hal-hal penting tersebutlah yang membuat ibadah terkadang hampa. Ajaran sedari kecil terbiasa dilakukan secara otomatis tanpa dibarengi ilmu yang cukup dan niat yang lurus. Ini poin krusial yang aku tarik dari sekian alasan kenapa aku tidak yakin saat menjawab pertanyaan soal kerudung itu.
Poin ini adalah sinyal ajakan untuk mempertanyakan pada diri sendiri, sebenarnya untuk apa aku beribadah? Apakah niat ibadahku sudah lurus? Apakah ibadah yang selama ini aku lakukan sudah sesuai dengan ajaran Islam? Dan pertanyaan yang lebih luas lagi, apakah kehidupan ini sudah aku jalani sesuai dengan tujuannya diciptakan manusia, yaitu untuk beribadah?
Pertanyaan-pertanyaan reflektif tersebut akan sulit dijawab tanpa adanya keyakinan dan ilmu. Maka, selain melatih hati agar bisa meluruskan niat, aku juga perlu meluangkan waktu untuk belajar. Belajar kembali perihal hakikat ibadah agar bisa mempraktikkan apa-apa yang baru diketahui, serta meninggalkan semua hal yang ternyata bukan bagian dari ajaran Islam.
Karena barangkali, kurang khusyuknya aku dalam salat-salatku disebabkan oleh ketidaktahuanku akan arti dari doa-doa di dalamnya. Rasa kosongnya aku saat membaca berlembar-lembar Al-Qur’an dikarenakan tidak adanya tadabur terhadap ayat-ayatnya. Atau barangkali, aktivitas yang aku jalani sehari-hari terasa hambar karena tidak adanya pembaruan niat untuk ibadah di setiap pergantian kegiatannya.
Bagaimanapun, keseharian seorang muslim adalah ibadah. Maka, beraktivitas secara berkesadaran dengan landasan ilmu bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Aku akui, itu bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Belajar kembali perihal Islam adalah proses panjang yang membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui kekeliruan, serta keberanian untuk meninggalkannya.
Aku rasa tidak ada kata terlambat untuk kembali belajar dan memperbaiki diri. Tidak perlu merasa malu saat kembali mempelajari rukun iman dan Islam seperti saat kanak-kanak dulu. Tidak perlu merasa takut untuk bertanya sesuatu yang ingin diketahui tentang Islam. Bertanya bukan berarti tidak patuh. Justru akan aneh jika hanya ikut-ikutan berislam tanpa tahu alasan dan ajaran yang sebenarnya.
Aku selalu percaya, belajar akan membuat hati menjadi tenang. Keyakinan yang lahir dari ilmu adalah kemantapan hati yang akan mendatangkan kedamaian. Mudah-mudahan, siapa pun yang berproses untuk kembali mempelajari Islam dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dapat menguatkan keyakinan, sehingga bisa memberi makna pada tiap sudut kehidupan.

[…] hal biasa jika kita butuh waktu untuk memprosesnya, bahkan bertahun-tahun lamanya. Kalau kau baca tulisan kedua sebelum ini, kau akan menemukan proses panjang dalam memahami ulang makna ibadah. Kali ini, izinkan aku […]