Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh: Miqdar Qur’aniy (Kadept. Humas Alfatih 17/18)
Ketika itu risalah Islam sedang hangat-hangatnya turun. Menyinari umat manusia dari kebodohan. Datang untuk menegakkan persamaan kedudukan. Hadir sebagai pemberantas nilai-nilai kejahiliahan. Tentu segala sesuatu yang baru pada awal mula datang akan ditentang oleh berbagai pihak. Apalagi jika hal-hal tersebut tidak sesuai dengan keyakinan kelompok-kelompok yang mengutamakan keegoisan, kesombongan, dan monopoli kekuasaan. Maka benarlah apa kata Buhaira yang dikatakan kepada Nabi ketika diajak oleh pamannya bersilaturrahim di tempat peribadatan sang pendeta. Bahwasannya risalah suci ini akan diganggu pergerakannya oleh orang-orang Yahudi yang tidak ridho bahwa Nabi terakhir datang dari Arab.
Argumennya semakin diperkuat ketika Rasulullah dan Khadijah datang kepada Waraqah. Beliau berkata bahwa tidak manusia yang diberi Nubuwwah kecuali dia pasti akan dimusuhi. Pada perkembangannya, Rasul pun dimusuhi keluarga-keluarganya sendiri karena dianggap tidak sesuai dengan keyakinan nenek moyang mereka yang menyembah berhala. Artinya kekuatan untuk memerangi Islam semakin lengkap dari segi internal dan eksternal.
Di keadaan sempit seperti ini, pengikut-pengikut Islam dituntut untuk benar-benar loyal dengan ketauhidannya. Karena tauhid adalah fokus utama pada periode Mekah yang berumur 13 tahun. Penguatan aqidah menjadi pijakan utama dalam menguatkan dakwah yang terstruktur ini. Agar diharapkan setelahnya bisa menjadi qudwah bagi generasi-generasi penerusnya. Maka sesungguhnya sebaik-baik qudwah setelah Rasulullah adalah para sahabat. Apalagi para sahabat yang berani menampakkan keislamannya di tengah kebencian yang dahsyat dari orang-orang Quraisy yang merupakan saudara-saudara mereka sendiri.
Adalah Bilal bin Rabbah. Siapa yang tidak kenal dengan mantan budak Habasyah ini? Budak berkulit hitam yang diangkat derajatnya oleh agama Islam. Belum lagi kiprahnya menjadi muadzin Nabi dan juga kisah sandalnya di surga yang didengar oleh Rasulullah karena keistiqomahannya dalam melaksanakan sholat Sunnah wudhu’ semakin menyempurnakan prestasi gemilangnya bersama ummat Islam. Dijemurlah ia di Padang pasir oleh majikannya, Umayyah bin Khalaf karena tidak ridho dengan keislamannya. Batu yang ditimpakan diatasnya semakin melengkapi penderitaan sahabat satu ini. Tapi beliau tidak putus asa dan menyerah begitu saja. Beliau yakin bahwa risalah Islam adalah risalah kebenaran. Maka terucaplah dari mulutnya “Ahad, Ahad, Ahad”. Tanda bahwa aqidahnya masih tertanam subur di dada. Isyarat bahwa segala penyiksaan yang menimpanya sama sekali tidak merubah kedudukan Islam di jiwanya.
Mari beralih ke kisah selanjutnya. Keluarga yang cahaya Islam telah merasuki relung-relung hati. Merekalah keluarga Yasir. Komposisi perpaduan Ayah (Yasir), Ibu (Sumayyah) , dan anak (Ammar) yang sama-sama siap mati demi mempertahankan keimanannya. Bani Makhzum pun mengambil porsi untuk menyiksa 3 anggota keluarga ini. Setiap hari mereka bertiga dibawa ke padang pasir untuk merasakan siksaan berbagai bentuk kekejaman. Saking dahsyatnya, Sumayyah gugur syahid mempertahankan tauhid. Yasir disiksa begitu keras. Ammar pun bahkan sempat dibakar dengan besi panas, disalib diatas pasir panas, dan ditenggelamkan di dalam air hingga sulit bernafas. Sungguh ini adalah penyiksaan yang diluar ambang batas akal seorang manusia. Mereka memperlakukan umat Islam lebih hina daripada binatang.
Belum selesai, masih ada lagi sahabat yang mencatatkan namanya di Hall of Fame para penegak tauhid. Beliau adalah sahabiyyah, Nazeerah Al Rumiya. Seorang budak wanita dari Bani Mu’mil. Ketika itu Umar masih musyrik dan diberi porsi untuk menyiksanya. Saking kuatnya dalam menerima berbagai siksaan, sampai-sampai Umar lelah dalam menganiayanya. Disusul kemudian siksaan pedih dari dedengkot kafir, Abu Jahal. Dia menindas habis-habisan sang shahabiyyah sampai buta matanya. Kehilangan penglihatan tidak membuat imannya goyah, ia justru semakin syahdu dan tunduk kepada Sang Rohman. Dia yakin bahwa Allah lah yang mencabutkan penglihatan dan Allah pula yang mengembalikannya.
Merekalah Sahabat-sahabat Nabi. Keteguhan dalam memegang erat tauhid nilainya infinity. Tidak terhingga! Kekukuhan dalam memelihara iman yang menancap di dalam dada tidak bisa diganggu gugat. Konsisten dalam kesabaran, ketegaran, dan ketaatan menjadi kunci keberhasilan dalam menjalani ujian-ujian keimanan. Saham mereka dalam mengembangkan agama yang suci ini nilainya tak terkira. Perjuangan mereka mampu membuat pihak lawan putus asa dan menguatkan dakwah sang Musthofa. Maka coba kau cari peristiwa historis dari tumbuhnya sebuah pemikiran, doktrin, dan ideologi yang lebih hebat dari ini? Pada akhirnya kau pasti akan berkesimpulan bahwa keteguhan para penyokong kekuatan Islam ini tentu tak terkalahkan!