Bagaimana Menyambung Hati dengan Allah

 

Selama 3 tahun ini, saya merasa terseret jauh, saya merasa hati saya terus mengeras hingga saya kira hati ini sudah benar-benar membatu. Benar-benar menakutkan, dan atas renungan itu, saya mengerti bahwa semua itu terjadi karena saya lalai akan hati saya.

***

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya pada tubuh itu terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah tubuh itu seluruhnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah tubuh itu seluruhnya. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Muslim)

Hati tidak serta-merta menjauh dari Allah begitu saja. Ia terjadi secara perlahan. Ia diawali ketika kita mulai malas melakukan ibadah, menunda-nunda shalat, dan meremehkan dosa. Lalu kesenangan dalam hidup menjelma menjadi perhatian utama, dan beberapa dosa menjadi suatu kebiasaan yang sulit untuk dilepaskan, hingga mulai merasa seolah diri tak punya lagi tujuan dalam hidup.

Saya tidak ingin lagi jatuh ke dalam kondisi itu, dan saya tak ingin lagi hubungan antara saya dan Pencipta meregang bahkan terputus. Baru-baru ini, memperbaiki hubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala dan menjalankan sejumlah kebiasaan baik untuk menjaga hati tetap hidup, menjadi hal yang sangat penting bagi saya. Tiap-tiap kita memiliki hati, dan sebagaimana hati yang ada di tubuh memainkan peran dalam kehidupan setiap harinya, maka memberikan asupan gizi kepadanya juga hal yang prioritas.

Maka dari itu, saya berharap semoga tulisan ini dapat menginspirasi teman-teman semua-juga saya-untuk mulai menata hati kita menjadi hati yang baik, insyAllah.

Inilah beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

Hubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

1. Kenali Allah subhanahu wa ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku tergantung prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku pada dirinya, maka akan Kuingat dirinya dalam diri-Ku. Dan jika dia mengingat-Ku di keramaian, maka akan Kuingat dirinya dalam keramaian yang lebih baik dari itu. Jika dia mendekat pada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat padanya sehasta. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, aku akan mendatanginya dengan berlari.'” (HR. Muslim)

Saya percaya bahwa agar memiliki hati yang tersambung dengan Allah, kita harus mengenal-Nya terlebih dahulu. Bagaimana kita ingin membangun hubungan dengan seseorang yang tidak kita ketahui? Allah memberikan kita banyak cara untuk melakukannya, salah satunya melalui Al Qur’an (saya akan membahas yang ini nanti). Cara lain untuk mengenal-Nya adalah dengan menghabiskan waktu untuk belajar dan merenungi nama-nama-Nya yang kita pelajari dari Al Qur’an dan Sunnah.

Ketahuilah bahwa Dia subhanahu wa ta’ala adalah Sang Maha Pencipta. Dialah yang menciptakan kita dan segala hal yang kita sukai; Maha Mendengar, Dia satu-satunya yang mendengar setiap permohonan kita; Maha Menghendaki, Dialah satu-satunya yang mampu berbuat sesuai dengan kehendak-Nya, tanpa melihat betapa mustahilnya sesuatu itu di persepsi kita yang terbatas. Ini semua akan membuat hubungan kita dengan Allah berada dalam kerangka yang positif, dan menjadikan hubungan ini suatu hal yang kita senang melakukannya, dan berinvestasi di dalamnya. Maka cari, pelajari, dan renungi nama-nama-Nya subhanahu wa ta’ala.

2. Bersungguh-sungguhlah berharap rahmat-Nya

Allah subhanahu wa ta’ala tidak mencari-cari alasan untuk menghukum, menolak, atau menjauhkan kita dari-Nya. Dia selalu ada untuk kita ketika yang lain tidak demikian dan mereka mencari-cari alasan untuk menerima kita. Nama-Nya mengajarkan kita bahwa Dialah Yang Maha Penyayang, Yang Maha Mencintai, dan Yang Maha Mengaruniakan Keamanan. Tetapi kita lebih sering putus asa ketika kita tergelincir. Saya yakin, benar-benar yakin, bahwa ini bisa jadi alasan kenapa kita mulai kehilangan hubungan kita sama sekali dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketahui betul bahwa kita adalah manusia, dan hati kita pun demikian. Jadi, dalam satu situasi bisa saja ia patah, tidak bekerja dengan baik, atau kita merasa ada suatu kehampaan di dalamnya. Dari pengalaman pribadi, saya katakan bahwasanya penting bagi kita untuk mulai belajar mengisi kekosongan ini dengan mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak mengisinya dengan hal-hal yang lain. Optimislah bahwa Allah menerima taubat kita. Dia lebih banyak menyebutkan ampunan-Nya daripada azab-Nya dalam Al Qur’an. Di setiap waktu kita sangat mungkin berbuat kesalahan, tapi penting bagi kita untuk segera sadar diri dan mengingat-Nya.

Taubat adalah proses yang berkelanjutan, maka ia bisa jadi membutuhkan beberapa kali upaya untuk benar-benar mengembalikan kita menuju trek yang benar. Tapi jangan pernah merasa malu untuk kembali kepada-Nya, tak peduli bagaimana dosa terus-menerus menarik kita, janganlah pernah sekali pun kehilangan harapan dari rahmat-Nya yang tiada terhingga.

Hubungan Secara Fisik

1. Melaksanakan shalat

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat lima waktu itu seperti air sungai yang bersih di depan rumahmu, yang di sana orang membersihkan dirinya dari kotoran lima kali sehari.” (HR. Muslim)

Bihamdillah, saya baru saja mendapatkan nikmat untuk pergi umrah. Satu hal yang benar-benar membuat saya takjub adalah bagaimana shalat lima waktu di dua tempat ini (Makkah dan Madinah) benar-benar menjadi prioritas utama. Ketika terdengar adzan di dua kota ini, para pemilik toko menutup toko-tokonya. Berduyun-duyun rombongan manusia pergi menuju masjid dan menempati tempat-tempat terbaik. Dan ternyata sudah banyak orang yang berada di masjid dan sudah shalat (sunnah), berdoa, dan membaca Al Qur’an beberapa jam sebelumnya.

Kita kan melihat orang-orang ketika berwudu, mereka tidak terburu-buru mengerjakannya, tapi menikmatinya. Orang-orang di sana memprioritaskan shalat tepat waktu di masjid. Mereka sudah siap untuk shalat bahkan sebelum adzan terdengar. Bahkan di luar shalat, saya perhatikan mereka mengatur harinya dengan baik dan tidak sebaliknya. Ketika ingin menjadwalkan untuk bertemu seseorang, saya sering mendengar ungkapan seperti, “Kita ketemu di antara waktu zuhur dan ashar, ya.” dan bukan “Ketemu jam 5 sore ya.”

2. Membaca dan merenungkan makna Al Qur’an

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar Ra’d: 28)

Saya yakin, kita semua pernah merasakan ketika kita hadir di suatu ceramah atau acara Islami, lalu kita pulang ke rumah dengan membawa ruh spiritual yang tinggi. Namun setelah seminggu dan seterusnya, kita merasakan iman kita turun lagi. Coba kita bayangkan, jika kita memberikan nasihat kepada teman kita yang ingin membentuk badannya, apa kita akan mengatakan padanya untuk bekerja keras selama tiga jam berturut-turut, lalu menganggap bahwa ia akan cukup untuk setahun? Andaikan bisa semudah itu!

Melakukan latihan beberapa jam dalam kurun waktu sekian bulan tidak akan berefek apa-apa pada tubuh kita, begitu pula dengan mengingat Allah, melakukannya sekali seminggu atau (bahkan) sekali sebulan tidak akan berefek apa-apa pada spiritual kita.

Agar kita bisa konsisten untuk mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, kita sudah menyebutkan shalat lima waktu di atas, tapi juga kita telah diberikan Al Qur’an yang tidak hanya untuk bersandar di dalam lemari buku, tapi ia diturunkan agar dibaca, dihidupkan nilai-nilainya, dan dijadikan pegangan harian kita.

Allah telah memberitahukan kita dalam Al Qur’an bahwa hati kita akan menemukan kedamaian dan ketenangannya yang sejati ketika kita mengingat-Nya. Karena Al Qur’an adalah bentuk terbaik dari zikir, ia adalah komponen utama untuk menjaga hati kita tetap kukuh. Tapi berapa banyak di antara kita yang benar-benar berusaha memahaminya? Berapa banyak waktu yang kita habiskan dengannya secara teratur?

Saya pribadi percaya bahwa membaca Al Qur’an—meski kita mungkin tidak mengerti atau menghafal semuanya, adalah cara untuk menyucikan hati dan membawa perubahan di dalam diri kita. Tapi agar kita benar-benar merasakan efek dari kalam-Nya pada diri kita, kita harus mau untuk lebih mendalami lagi (Al Qur’an) agar kita menuai manfaat yang dahsyat dari maknanya.

Saya pernah mendengar analogi: Bayangkan kita menerima surat dari seorang raja, seorang presiden, atau siapa pun yang memiliki kedudukan yang tinggi. Bahkan jika ia ditulis dalam bahasa yang kita dak mengerti sekalipun, kita akan mati-matian berusaha menerjemahkannya agar tahu apa artinya. Qur’an adalah surat untuk manusia dan ia bukan dari orang mana pun! Ia adalah kata-kata yang berasal dari Sang Pemilik dunia. Ia adalah satu yang menuai faedah tentang bagaimana memperkaya kehidupan pribadi dan memberikan pencerahan pada hati.

Yang harus kita lakukan adalah mengatur dan memberikan waktu khusus di mana kita bisa duduk, membaca, dan merenungi Al Quran, meskipun hanya satu ayat dalam sehari. Salah satu waktu yang paling direkomendasikan adalah persis setelah shalat subuh karena ia adalah waktu yang penuh berkah, tapi yang terpenting di sini adalah kita mencari waktu yang paling baik untuk diri kita sendiri, berpatokan pada waktu itu secara konsisten.

Hubungan Orang Lain dan Diri Sendiri

1. Kelilingi diri dengan orang-orang shalih

Rasul shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dan teman yang buruk, seperti tukang parfum dan pandai besi. Adapun tukang parfum, dia bisa memberikanmu (parfumnya), atau kau membeli darinya, atau kau mendapatkan darinya aroma yang wangi. Adapun pandai besi, dia bisa membakar bajumu, atau dia akan memberikanmu bau yang tidak enak.” (HR. Bukhari)

Meskipun kita sudah berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan menyucikan hati, akan sangat sulit untuk melakukannya, jika teman-teman di sekeliling bukan teman-teman yang baik. Teman, selain bisa memberikan efek positif, juga bisa meracuni hati dengan hal negatif. Maka dari itu, kita memahami bahwa kualitas harus dikedepankan sebelum kuantitas.

Adalah hal yang lumrah ketika kita merasakan iman kita naik dan turun, tapi jika kita berteman dengan orang-orang yang baik dan tidak mengisolasi diri, kita bisa menjaga iman agar jangan sampai ia jatuh terjerembab. Pilihlah untuk berada di sekitar orang yang akan membimbing kita menuju kebenaran, orang-orang yang mengingatkan akan Allah subhanahu wa ta’ala, dan memotivasi diri kita untuk berbuat baik, dan mereka yang mendukung dan memercayai kita, dalam waktu lapang, maupun waktu sempit.

Pergilah, atau adakanlah pertemuan pekanan yang di dalamnya kita bisa berada bersama-sama dengan teman-teman semuslim, dan diskusikanlah hal-hal yang sedang kita hadapi saat itu. Bacalah kitab-Nya bersama-sama, dan berkumpullah karena-Nya. Kita bisa saja melihat sesuatu yang orang lain tak melihatnya, dan sebaliknya. Sehingga kita bisa saling memberikan manfaat dari perspektif yang berbeda. Malaikat mengelilingi perkumpulan yang di dalamnya disebut nama Allah, maka bayangkanlah betapa berkahnya perkumpulan itu. Dan kita akan merasakan pengaruhnya.

2. Beri jeda dan evaluasi dirimu.

Sering-seringlah mengevaluasi keadaan hati kita dan berpikirlah tentang bagaimana diri memengaruhi orang lain. Apakah karakter dan cara berbicara kita, dan memperlakukan orang lain membawa mereka lebih dekat kepada Allah? Saya percaya bahwa aspek mendasar dalam menyucikan hati seseorang dimulai dari memperbaiki karakter dan mengembangkan etika yang mendasar.

Ketika kita melewati masa sulit dalam hidup, keluarlah dan bantulah orang lain menyelesaikan masalahnya. Dengan ini, kita akan bisa melebarkan fokus dari sekadar “saya” menuju yang lebih positif dan menyeluruh, dan akan lebih mampu untuk menaruh masalah sendiri ke dalam sudut pandang yang berbeda.

Kita bisa melakukan apa yang kita bisa untuk membuat dunia ini sedikit lebih baik, setidaknya untuk seseorang. Mungkin ia tidak berefek kepada semua orang, tapi jika ia bisa membuat efek pada satu orang, satu hati, maka ia sangat bernilai dan berhasil membuat sebuah perubahan. Kita kan menyadari bahwa apa yang kita lakukan untuk orang lain tidak hanya akan berefek kepada orang itu, tapi ia juga akan melembutkan hati kita sendiri.

Ketika kita memperhatikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, kita bisa melihat bahwa mereka tidak pernah membiarkan salah seorang di antara mereka merasa sendirian, atau menempuh ujian hidupnya sendirian. Mereka tidak memandang tinggi ataupun rendah seseorang, lantas menghakimi mereka. Jadilah teman sejati untuk orang-orang yang bisa kita ajak bicara. Berpikirlah bahwa menjadi muslim bukan hanya menjadi manfaat bagi diri, tapi juga orang di sekeliling.

Keadaan hati akan menentukan bagaimana persepsi tentang dunia di sekeliling kita. Sebagaimana kita menjaga badan dan pikiran, kita juga harus menjaga hati. Ambil sedikit waktu untuk merenungi hal-hal yang terjadi dalam hati, dan itu perlu disembuhkan. Tak ada di dunia ini yang bisa memberikan apa pun pada kita, jika hati sudah tersambung dengan Penciptanya.
Penerjemah: Tim Maktab Al Fatih

Nb: diambil dari artikel Inggris : http://productivemuslim.com/a-heart-connected-to-allah/#ixzz4coetnnxm

3 Comments

  1. Alhamdulillah semoga ridho Allah SWT selalu menyertai amiin,saya pribadi sangat senang dengan adanya ini semoga bisa lebih baik lagi

  2. Alhamdulillah…sdh diingatkan bahwa alquran adalah surat dari Allah utk kita
    Smg kita bs membacanya, mempelajarinya, metenungkannya dan mengamalkannya. Amiin
    Thanks…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *