
Jakarta – Alhamdulillah, telah berlangsung acara Bedah Kampus yang diselenggarakan LDK AlFatih LIPIA Jum’at lalu. Pada penyelenggaraannya, terangkai berbagai agenda salah satunya Talkshow Awail. Hal ini bukan merupakan agenda baru bagi mahasiswa LIPIA. Sebab tahun kemarin Al Fatih juga menghadirkan konsep acara yang sama serta berhasil menarik ratusan peserta, kembali terucap alhamdulillah.
Namun selalu ada yang berbeda dari setiap penampilannya. Begitu juga dengan Talkshow kali ini. Ada semangat baru, motivasi baru, pandangan baru, dan yang jelas bukan idola baru ya! Awail, adalah istilah peringkat lima besar (gabungan ikhwan dan akhwat) di LIPIA setiap semesternya. Bentuk jamak dari kata awal, ini menjadi satu prestasi bagi siapa yang memasuki ranahnya. Dan menjadi satu harapan penuntut ilmu, bahwa meraihnya adalah satu dari sekian bukti kesungguhan, mengapa tidak?
Berikut beberapa catatan dari acara Talkshow Awail yang bisa disimpulkan:
- Miliki niat yang baik
Bagaimanapun tipe belajar kita, di mana pun kita mengemban ilmu, pastikan hati kita menuju pada titik niat yang baik. Tak ada yang sederhana dari niat baik. Ia selalu menjadi syarat kebenaran sebuah amal. Ikhlas, menjalani semua karena Allah, untuk beribadah kepada-Nya, untuk menuju pada hal-hal yang Ia cinta. Seperti ketiga awail pada acara ini, bersungguh-sungguh menuntut untuk mengumpulkan bekal ketika berhadap dengan masyarakat kelak. Bersungguh-sungguh demi membahagiakan kedua orang tua, demi menerapkan firman Allah dalam surat Tahrim ayat 6; bahwa peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Bagaimana memeliharanya? Tentu dengan mempelajari ilmu dengan sebenar paham agar bisa disampaikan kepada keluarga. Maka jika niat sudah baik lagi mulia, seperti itu pula Allah hadiahkan balasannya.
- Miliki antusias tinggi dan kiat yang jitu
Menjadi yang terbaik dan mempertahankannya. Itulah prinsip orang yang ingin sukses. Jangan biarkan kekalahan memalung kita. Kekalahan dalam melawan rasa malas, kekalahan dalam rasa malu untuk bertanya, kekalahan dalam pasrah memahami pelajaran-pelajaran di kelas.
Pastikan, tak ada tertinggal satu pertanyaan pun di kepala ketika dosen menjelaskan materi. Pastikan, setiap malamnya kita murojaah (mengulang-ulang) pejalaran sebelumnya dan mempersiapkan materi selanjutnya. Pastikan bagaimana cara kita belajar, apakah dengan membaca berulang-ulang, atau mendengar penjelasan dari sumber yang lain, atau dengan merangkum pelajaran, atau dengan berdiskusi bersama kawan dan lain sebagainya. Sebab terkadang aktivitas di luar kampus begitu menjadi kendala. Maka dengan memiliki semangat tinggi, memahami bagaimana kita belajar dan menaruh target-target tertentu, semoga lebih memudahkan kita dalam belajar.
- Libatkan orang tua
Ridho Allah ridho orang tua. Pesan sederhana namun menyimpan banyak keajaiban dalam pembaktiannya. Sebutlah Rahmat, pria asal Lombok yang menjadi salah satu pembicara Talkshow kali ini. Tanpa ada data sebelumnya yang masuk ke panitia, ternyata tholib semester 5 ini meraih peringkat satu sedari langkahnya menginjak pendidikan dasar. Maa syaaAllahu ‘alaih. Melihat pengorbanan sang ayah yang keliling menawarkan jasa setrika arang demi terkumpulnya uang tuk sekolah buah hatinya, anak siapa yang tega tidak sungguh-sungguh dalam belajar? Dari sini Rahmat dan saudara-saudaranya terbiasa meraih peringkat pertama. Bahkan kedua orang tua mendukung dan memberi _punishment_ jika mereka tidak bersungguh-sungguh. “Ana ga pernah ghoib (tidak hadir) di kelas,” ungkap Rahmat, “melainkan ana minta izin ke orang tua kalo ana ghoib,” lanjutnya yang seketika mengundang riuh haru peserta. “Pun ketika menjelang ujian, ana pastikan minta izin dan doa restu dari keduanya,” jelas Rahmat.
Begitulah penuntut ilmu. Doa kedua orang tua begitu berharga bagi para pencinta ilmu. Maka jangan sampai kita seenaknya ghoib sedang orang tua di sana telah lama bekerja banting tulang agar kita sampai menginjakkan kaki di kampus ini. Maka jangan sampai komunikasi kita dengan orang tua tidak baik, sedang kita adalah penimba ilmu Allah, yang ridho-Nya ada pada ridho orang tua kita. Pada akhirnya ada satu pesan yang perlu disampaikan (juga). Awail bukan berarti segalanya. Bukan berarti kesuksesan itu terbatas pada nilai. Sebab beberapa kondisi bisa saja terjadi. Semisal mahasiswa yang sakit ketika ujian sehingga membuat tingkat kefokusannya berkurang, tentu tidak begitu saja kita nobatkan ia tidak sukses karena tidak mendapat nilai yang cukup.
Namun catatan yang bisa kita ambil, jadikan nilai kita sebagai tolak ukur pemahaman kita akan materi-materi yang disampaikan. Bukan sekedar ajang tinggi-tinggian dan meraih prestasi awail. Maka teman-teman sekalian yang dicintai Allah, tak ada tujuan paling penting dari terselenggaranya acara Talkshow Awail ini, selain kita bisa mengambil nasihat-nasihat darinya. Tidak sebatas pada mengambil dan berangan saja. Tapi bagaimana kita mulai dari sekarang untuk memperbaiki apa yang sulit sebelumnya, memperkokoh apa yang baik sebelumnya, dan senantiasa berupaya sungguh-sungguh menjadi bintang, di langit dan di bumi.
Sejatinya seorang muslim harus berusaha menjadi awail sebagai bentuk pengamalan firman Allah swt : maka berlomba lombalah kamu dalam kebaikan ! Jika hari ini mereka awailnya, esok dan seterusnya kita semua harus berada di barisan para awail karena setiap kita harus berusaha menjadi yang terbaik dihadapan Allah. Jangan biarkan satu orangpun lebih baik dihadapan Allah! (red/ fauzia)
kunjungi media sosial Al-fatih :
| Al-fatihFacebook.com | Al-fatihInstagram.com | Al-fatihTwitter.com |

Sangat menginspirasi
Manfaat sampai kehidupan ukhrowi
Mewabah yang membadai :))
Amiin… terimaksih atas komentar hangatnya.