Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh: Tadzkirah Oelja (Koordinator Akhwat Alfatih 17/18)
Kamu aktivis? Selamat! Kamu sudah selangkah lebih maju untuk meraih masa depan yang cerah. Karena sebagai aktivis ada banyak hal yang dapat kamu pelajari dan asah saat berorganisasi. Mulai dari kepemimpinan, kemampuan bernegosiasi dan bekerja sama, mengutarakan pendapat, mengatur waktu, memecahkan masalah hingga membangun relasi dan networking. Tidak dipungkiri bahwa softskill dan pengalaman organisasi seperti inilah yang akan memperkaya diri seseorang dan menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan ketika ia melamar pekerjaan.
Nah, sebagai aktivis yang berstatus mahasiswa, ada hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Apa itu? IPK. Ya, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Ukuran kemampuan mahasiswa sampai pada periode tertentu yang dihitung berdasarkan jumlah SKS yang telah ditempuh.
Setidaknya ada 5 alasan kenapa kamu sebagai aktivis harus memperjuangkan IPK tinggi sejak semester pertama.
Saat ini, kuliah pascasarjana (S2) bukan saja tentang kebutuhan tapi juga telah menjadi trend di kalangan mahasiswa semester akhir. Nah, jika kuliah S2 adalah salah satu impianmu, maka kamu harus memperjuangkan IPK setinggi-tingginya. Apalagi jika kamu berkeinginan untuk study abroad dan mendapatkan scholarship. IPK menjadi syarat mutlak untuk bisa meraih keduanya.
Seorang aktivis tentu memiliki banyak amanah di luar kampus yang harus diselesaikan. Maka, jika kamu mampu mendapatkan IPK tinggi, itu benar-benar menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang penuh dedikasi, bertanggung jawab dan disiplin baik dalam urusan sosial dan pribadi. Karena amanah tertinggi seorang mahasiswa adalah menyelesaikan studi dengan baik.
Aktivis bukan cuma mahasiswa yang jago turun ke jalan, orasi di depan massa atau komentar sana-sini tanpa dalih. Tapi, aktivis dituntut untuk memiliki kelimuan yang baik di bidangnya, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan dan perbaikan negara. Dengan IPK tinggi, kamu telah menunjukkan kualitas dirimu yang tinggi. Karena IPK tinggi tidak dapat diraih dengan kebetulan semata. Tapi karena pemahaman yang baik terhadap materi, keseriusan menempuh perkuliahan dan kapabilitas intelektual yang tinggi.
Mendapat IPK tinggi ketika lulus kuliah tidak hanya menjadi kebanggaan seorang diri, namun juga menjadi kebanggaan bagi orang tua karena mereka akan merasa bahwa mereka berhasil menyekolahkan anaknya. Nah, pengen orang tuamu bangga kan? IPK tinggi salah satu caranya.
Tak jarang mahasiswa yang enggan untuk bergabung dalam aktivitas organisasi karena menilai bahwa itu akan memperburuk prestasi akademik mereka. Dan banyak juga orang tua yang melarang anaknya untuk bergabung dengan organisasi kampus karena khawatir akan mengganggu aktivitas kuliah. Padahal, seperti disebut di awal, ada banyak benefit yang bisa didapat ketika bergabung dengan organisasi.
Label IPK rendah yang sudah mendarah daging pada para aktivis mungkin adalah salah satu penyebabnya. Apalagi dalam beberapa kasus, ada juga aktivis yang harus sampai telat lulus kuliah.
Nah, jangan sampai ketidakmampuan kita dalam menyeimbangkan urusan pribadi dan organisasi, justru memperburuk citra organisasi dan para aktivis lainnya. Bahkan, akan lebih baik, kamu mendapatkan IPK tinggi untuk memberikan kesan baik dan positif tentang organisasi dan para aktivis.
Sebagai aktivis di sebuah organisasi, pasti ada nilai, kepentingan, cita-cita atau project bersama yang sedang kamu perjuangkan. Tentunya, kamu pun membutuhkan dukungan dari banyak orang untuk menyukseskan project tersebut. Nah, IPK tinggi bisa menjadi media yang paling manjur untuk memarketingkan projectmu, apalagi jika objek marketingmu adalah para mahasiswa.
Pernah dengar tentang Ust. Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat? Dulu, beliau adalah aktivis di LDK Al-Fatih LIPIA. Berlomba-lomba dengan kawan-kawannya yang juga aktif di LDK Al-Fatih LIPIA, beliau selalu masuk ke jajaran 5 besar awail karena mendapat IPK tertinggi di kelas. Hasilnya? Hampir semua kawan di kelasnya lantas ikut aktif dan menjadi anggota LDK Al-Fatih LIPIA. Manjur kan?
Terlebih buat kamu para aktivis dakwah di kampus, IPK tinggi harus menjadi salah satu target pentingmu. Karena dengan IPK tinggi, kamu dapat membuktikkan bahwa Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu dan memotivasi umatnya untuk terus berprestasi.
Targetkan untuk dapat menjadi seperti Muhammad Syukri, Ketua Puskomnas FSLDK 2015-2017 yang mampu menyelesaikan pendidikan dokternya di Universitas Sebelas Maret (UNS) hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK Summa Cum Laude 4,00! Beliau juga hafidz lho
Tentunya, bukan dengan mengurangi aktivitas dakwah ataupun sosial yang telah kita jalani, tapi dengan mengurangi tidur, ngobrol dan aktivitas yang tidak produktif lainnya.
Well, kombinasi paling ciamik apa selain lulus kuliah tepat waktu dengan IPK tinggi dan segenap prestasi serta pengabdian untuk bangsa negara?
Saatnya para aktivis menjadi pemburu IPK! Tunjukkan bahwa memiliki preprestasi akademik yang baik adalah salah satu budaya para aktivis!