hero bg 300x200.jpg

Kedermawanan Sepenuh Cinta 

Tabuk. Medan perang yang menjadi saksi bisu totalitas para sahabat Nabi dalam memperjuangkan risalah suci. Ketika itu Madinah sedang dilanda musim paceklik. APBN sedang kosong. Pada saat yang sama, istri-istri nabi meminta kenaikan nafkah yang membuat Abu Bakar dan Umar mendatangi kedua anaknya yang diperistri nabi. 

Di sisi lain Herakles, sang kaisar Romawi ketakutan dengan pengaruh dan opini bahwa ummat Islam telah menguasai jazirah Arab.  Betapa tidak, setelah penaklukan Khaibar, Mekah, Thaif, dan Hawazin, kekuatan Islam seperti tak bisa diperhitungkan. Disusul dengan tumbuhnya kepercayaan kabilah-kabilah Arab di Utara yang notabene adalah sekutu romawi untuk perlahan-lahan memihak ummat Islam. 

Kegelisahan Herakles semakin menjadi-jadi ketika loyalisnya, Farwah bin ‘Amr menyatakan masuk Islam. Sungguh cahaya Islam telah masuk ke relung-relung hatinya. Jaminan ekonomi dari Herakles tidak membuatnya buta akan kebenaran agama penyempurna tersebut. Maka, berangkatlah Herakles menuju Madinah dengan 40.000 pasukan raksasanya. Pasukan yang juga terdiri dari kekuatan para sekutu. Pasukan yang siap dengan persenjataan lengkap. Yang ada di otak Herakles bukan hanya peperangan, akan tetapi penaklukan Madinah.

Rasulullah sesaat merenung. Bagaimana memobilisasi 30.000 pasukan jika sepeserpun dana tidak ada? Maka Rasul pun mengajak ummat Islam bersedekah dan berkata, “Barang siapa yang menyiapkan Jaysal ‘Usroh (pasukan Tabuk), Maka Allah akan membalasnya dengan Surga.” 

Tanpa ragu Utsman bin Affan, saudagar kaya yang dulu pernah membeli sumur rumat demi kemaslahatan muslimin langsung mengacungkan tangannya dan berkata “Ya Rasulullah saya siap menggelontorkan 1.000 dirham dan 300 unta lengkap dengan muatan dan pelananya di Jalan Allah.” Rasul bersyukur dan berkata bahwa kelak tidak akan ada lagi bahaya yang menimpanya.
Sahabat yang lain tidak mau kalah, Abdurrohman bin ‘Auf, Ahli dagang dan ekonomi yang dapat memperkaya diri dalam waktu beberapa hari dengan hanya mengetahui letak pasar pun berkata, “Ya Rasulallah, Sesungguhnya saya siap memberikan 2.000 dirham di jalan Allah.”
Kemudian disusul Al Faruq, Umar bin Khattab yang pada hari itu telah yakin akan mengalahkan Abu Bakar dalam hal bersedekah seraya berkata, “Ya Rasulallah, Sesungguhnya saya akan menyiapkan setengah hartaku di jalan Allah”. Dan kemudian Abu Bakar, orang yang pertama masuk Islam dari kalangan dewasa dengan keimanan yang tak diragukan lagi langsung berkata, “Ya Rasulallah, sesungguhnya saya siap memberikan seluruh harta saya di jalan Allah.” Rasul bertanya tentang apa yang akan disisakan untuk keluarga. Dengan tegas beliau berkata, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan rasulnya.”
Inilah sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Disaat terpojok dan genting, mereka selalu siap memback-up berbagai kepentingan ummat Islam untuk memperjuangkan agama Allah. Mereka tak pernah sedikitpun terpikir untuk meninggalkan Rasulullah dan membiarkannya seorang diri berdakwah di jalan-Nya. Tidak seperti kaum Musa yang acuh dan membiarkannya bersama Khidir untuk mengingatkan sang penguasa Dzolim. Tidak juga seperti sahabat Ibnu Rumiy yang mempersembahkan sajian kebaikannya ketika waktu lapang dan meninggalkannya tanpa rasa bersalah pada waktu sempit. Dan kemudian dituangkannya dalam 11 bait syi’ir dalam salah satu kitabnya yang berjudul Diwan Ibnu Rumi.
Maka dimana posisi kita sekarang?

 
Loyalis Islam dalam segala keadaan? Atau tidak peduli ketika ujian datang dan bertepuk tangan ketika agama ini diberi kemenangan?

D7219bd0e4f42ddd38b2a3b54717b3e4

Red: miqdar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *