outdoor image 04

Ramadhan dan Hari Lahir Pancasila: Mengurai Benang Merah

Bagaimana mestinya Ramadhan kita kali ini bisa mendidik kita bukan untuk sekadar hafal Pancasila di mulut saja, tapi mengimplementasikannya dalam kehidupan, sesuai dengan pemahaman Islam.

Ramadhan adalah bulan perjuangan. Kita tentu sudah tahu, bagaimana momen-momen kunci Islam, banyak terjadi di bulan Ramadhan. Mulai dari Perang Badr Al Kubra, hingga Fathu Makkah. Pun, ia adalah bulan pendidikan. Mendidik apa? Mendidik banyak hal, dari berbagai sisi. Mulai dari intelektualitas kita, dengan mendatangi berbagai kajian keislaman, ruhani kita, dengan terbiasa membaca Al Qur’an, hingga puasa sendiri pun, mendidik seorang hamba agar awas terhadap hawa nafsunya. Setan mungkin dibelenggu, tapi hawa nafsu kita tidak. Dengan puasa, kita dilatih untuk mengontrol diri kita sendiri dan menaklukkan hawa nafsu kita.
Lha, kaitannya dengan Pancasila apa?

Pertama-tama, mari kita memahami bahwa Pancasila adalah sebuah common platform, atau panggung bersama, bagi semua orang dari semua agama, untuk mengimplementasikan platform itu berdasarkan keyakinan mereka masing-masing. Ini tentu berbeda dengan Orba yang menghendaki Pancasila berasas tunggal; hanya penafsiran ala pemerintah saja yang diterima.

Lalu, bagaimana dengan kita, umat Islam?

Pancasila bagi umat Islam bukan suatu hal yang tabu lagi mistis. Ia bisa diejawantahkan secara rasional ke dalam kerja-kerja nyata. Contoh, kita mulai dari sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Sudah jelas, bahwa dalam ajaran Islam Tuhan yang benar hanyalah Allah, tiada yang lain kecuali Dia. Maka, tugas kita adalah lebih menghayati lagi keesaan Allah tersebut, salah satunya dengan memeriksa lagi keikhlasan kita tiap kali beribadah. Apa sudah benar, Ketuhanan yang Maha Esa ada dalam hati kita, atau sekadar numpang lewat di mulut saja? Ketika kita beramal, tetapi tidak ada keikhlasan dalam hati, pantas kita bertanya, “Ke mana sebenarnya Ketuhanan yang Maha Esa ini kita taruh?”

Lalu, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kita bisa mengimplementasikannya dengan berbagi pada sesama, dengan apa pun yang kita miliki. Buka sisi kemanusiaan kita, dengan memanusiakan manusia; memperlakukan mereka layaknya manusia; sesuai dengan kodratnya. Contoh konkretnya adalah, janganlah kita—ketika pembagian zakat fitrah, membuat para mustahik zakat menjadi berdesakan bahkan sampai saling injak hanya demi sembako, dan kita membiarkan itu terjadi begitu saja, seolah ketika kita membiarkan itu terjadi, kita berkata pada para mustahik itu, “Mati aja deh lu pada!”. Inilah contoh sikap tidak memanusiakan manusia.

Lalu, Persatuan Indonesia. Sebagai warga negara yang baik, kita harus menjunjung tinggi persatuan. Contoh mudahnya adalah dengan tidak mudahnya kita menyebarkan tiap berita yang datang kepada kita. Karena, ada di antara berita-berita—yang meskipun benar—akan menimbulkan friksi di masyarakat. Nah, yang benar saja begitu, lantas bagaimana kabar yang dusta?

Bukankah jelas Nabi bersabda, “Cukuplah seseorang itu dikatakan berdusta, ketika ia berbicara dengan segala apa yang ia dengar”*?

Contoh konkret lain adalah, merapatkan shaf ketika shalat. Ketika shalat, kita tidak akan melihat siapa di sisi kiri atau kanan kita. Tak peduli apa dia pejabat, atau orang melarat. Perintahnya jelas, “Luruskan dan rapatkan!” Maka lurus dan rapatnya shaf shalat, bisa menjadi contoh yang baik untuk menjaga persatuan bangsa ini.

Lalu yang keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Dalam Islam, musyawarah adalah jalan yang ditempuh ketika akan melahirkan sebuah keputusan. Apalagi jika kaitannya dengan suatu tatanan masyarakat. Tentu hajatnya lebih genting lagi. Maka, seorang muslim yang baik tidak akan mangkir kalau dipanggil rapat RT. Dia akan mengemukankan pendapatnya, dan menerima pendapat orang lain dengan baik. Pun, tidak marah-marah lantas walk out ketika pendapatnya tidak dipakai ketika keputusan telah diambil. Demikian itu, adalah contoh sikap hikmah (kebijaksanaan) dalam bermasyarakat.

Dan yang terakhir, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sebagai muslim, keadilan adalah hal yang sangat penting dijunjung tinggi. Bukankah kita sering mendengar ketika khutbah Jumat akan selesai, “Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan ihsan …”**? Maka, perlu kita pahami bersama baik-baik, apa itu keadilan. Keadilan, bukan sekadar menyamaratakan. Tidak sama sekali. Keadilan adalah memberi sesuai dengan haknya. Dari pemahaman yang seperti ini, kita bisa ejawantahkan dengan melaksanakan dan menjaga keseimbangan hak dan kewajiban kita sebagai warga negara. Jangan terburu-buru menuntut hak, jika kewajiban belum kita laksanakan.

Demikianlah, bagaimana mestinya Ramadhan kita kali ini bisa mendidik kita bukan untuk sekadar hafal Pancasila di mulut saja, tapi mengimplementasikannya dalam kehidupan, sesuai dengan pemahaman Islam.

Jika ada kesalahan dalam tulisan ini, mohon kiranya diluruskan. Hatur nuhun.

Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945
Source: tumblr.com

Dengan segenap cinta,

Ibnu Kurnia

Pasar Minggu, 1 Juni 2017
*) HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

**) An Nahl: 90

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *