Perihal Mentalitas

Saya tiba-tiba tergelitik untuk menulis ini karena teringat kisah penaklukan Baghdad oleh Hulagu Khan. Alkisah, ketika pasukan Tartar sampai ke Baghdad, mereka langsung “disambut” pasukan Abbasiyah, yang dalam waktu yang tak lama mereka bisa kalahkan. Disebutkan, di antara penyebab kekalahan mereka adalah pasukan yang maju menghadapi Tartar sudah tak lagi memiliki ghirah dan himmah untuk berjihad. Belum lagi kondisi pemerintahan yang amat korup, ditambah dengan perang kepentingan antar para pimpinan pasukan, membuat kondisi yang ada jadi semakin buruk.

Dan untuk menambah buruk kondisi yang ada, ada seorang tokoh penjilat bernama Ibnu Al Alqami. Dia adalah perdana menteri kekhalifahan yang juga seorang Alawiyyin Rafidhi yang meminta kepada Hulagu dan tentaranya agar membuatkan kekhalifahan khusus bagi Alawiyyin. Sayang, dia malah dihinakan dan dijadikan gelandangan oleh Hulagu Khan. Dan demikianlah akhir hidup seorang pengkhianat.

Kembali ke Baghdad, rumah-rumah ditinggalkan terbuka pintunya, dengan bau busuk mayat menyeruak di mana-mana. Terkisah, dalam sebulan pembantaian, sudah lebih dari sejuta korban bergelimpangan di Baghdad. Belum lagi sungai Eufrat menghitam karena tinta-tinta manuskrip dari Darul Hikmah (perpustakaan Daulah Abbasiyah di Baghdad) yang ditenggelamkan di sana. Sementara Darul Hikmah sendiri, dihancurkan sama rata dengan tanah.

Demikianlah mental pengecut dan pecundang membuat sebuah kelompok akan tercerabut dengan mudahnya oleh lawan mereka.

Sekarang bandingkan dengan pasukan Mesir pimpinan Saifuddin Quthuz, yang juga “menyambut” kedatangan pasukan Tartar yang baru saja menaklukkan Baghdad dengan suksesnya. Dengan semangat jihad dan ghirah yang tinggi, pasukan Saifuddin membuat hampir keseluruhan pasukan Tartar tewas, dan sisanya lari tunggang-langgang meninggalkan Timur Tengah.

Ketika dirimu merasa lemah dan kurang semangat, ingatlah, mentalitasmu adalah yang menentukan dirimu akan ke mana; menang dengan perkasa layaknya pasukan Saifuddin, atau kalah seperti pecundang layaknya pasukan Abbasiyah Baghdad di tangan Hulagu Khan.

Dan ingat, kamu “punya” Allah, ketika mereka yang tak percaya pada-Nya, tak “memiliki”-Nya.

“Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An Nisa: 104)

F3myH7ll

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *