Cuap-Cuap Dunia Perfilman

cuap-cuap-dunia-perfilman

Dunia Film – Ada dua orang anak, tumbuh di keluarga yang sangat hobi menonton film. Satunya selalu disuguhi dengan film-film yang jika pemain utamanya terkena masalah, ia segera menenangkan diri dengan pergi ke bar, minum minuman keras, melakukan hal-hal yang tak seharusnya dilakukan. Sedangkan anak yang satunya lagi selalu disuguhi dengan film-film yang jika pemain utamanya terkena masalah, ia segera mengambil air wudhu, mengadukan masalah tersebut kepada Allah. Ketika dewasa nanti, saat kedua anak ini terkena masalah, apakah sama cara mereka menghadapi masalah tersebut? Akan sangat berbeda. Mereka akan bertindak seperti apa yang mereka tonton. Orang-orang tumbuh dengan apa yang ia lihat.

Sadarkah kita bahwa fungsi film sebagai media penghibur murni sudah sejak lama kedaluwarsa? Berbicara tentang film hari ini adalah berbicara tentang ideologi yang berusaha ditanamkan oleh pembuat film tersebut. Ketika seseorang dengan pemikiran aneh membuat film, maka ia akan mati-matian untuk memperjuangkan pemikiran anehnya itu. Menyebarkan paham yang ia anut.

Maka, terjawab sudah sekarang. Salah satu penyebab kenapa banyak pemuda muslim bangsa kita yang gaya hidupnya sangat-sangat jauh dari nilai-nilai Islam adalah karena mereka tumbuh dengan film-film yang memang tidak mengajarkan hal-hal tersebut.

Lihat saja pertelevisian nasional kita! Mari lakukan riset kecil-kecilan. Coba hitung! Dalam sehari berapa program yang benar-benar membawa manfaat dan berapa program yang tidak jelas arahnya? Bandingkan angkanya! Pasti kita akan sangat terkejut. Program atau film yang bermanfaat sangat sedikit ditayangkan di televisi. Tidak hanya sampai di sini, bandingkan lagi berapa program yang membawa manfaat serta bernilai Islami dan berapa program yang bermanfaat tapi tidak terkandung nilai Islam sedikitpun di dalamnya. Hasilnya akan lebih mengejutkan lagi. Padahal Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Kenapa sedikit sekali program-program bernuansa Islami?

Sejatinya, dunia perfilman adalah ladang dakwah yang sangat besar dampaknya bagi umat. Hal ini dikarenakan hampir setiap rumah di sudut negeri ini memiliki televisi. Dari orang tua, remaja sampai anak kecil semua suka menonton kotak segi empat ini. Tapi sayang, sedikit sekali yang peka. Walhasil, kita yang mayoritas dipaksa untuk mengkonsumsi film-film yang sama sekali tidak menunjukkan identitas kita. Parahnya, lama kelamaan kita mulai terbiasa. Hal yang dulunya dianggap tabu, sekarang dianggap tak masalah gara-gara di film yang kita tonton hal tersebut dianggap biasa-biasa saja. Hijab contohnya, sudah jelas bahwa perintah hijab adalah wajib, tapi karena kebanyakan film menampilkan bahwa tidak memakai hijab sah-sah saja dan tak masalah, akhirnya kita pun terbawa arus ini.

Jika menilik sejarah, film cerita pertama di Indonesia adalah Lutung Kasarung yang ditayangkan pada tahun 1926. Butuh waktu lebih dari tiga puluh tahun, baru kemudian film Islam muncul, yaitu pada tahun 1959 dengan judul Titian Serambut Dibelah Tujuh. Dan untuk menjadi booming, film Islam butuh waktu lebih dari lima puluh tahun, yaitu tahun 2007 ketika Ayat-Ayat Cinta ditayangkan perdana di bioskop. Setelah film ini, sineas mulai berlomba-lomba membuat film Islam. Jika melihat perjalanan ini, tentu kita bertanya-tanya kenapa film Islami bukan menjadi fokus utama bagi para pelaku dunia perfilman? Padahal mayoritas penikmat film itu sendiri adalah umat Islam.

Jawabannya sederhana, karena sedikitnya orang paham agama di dunia perfilman. Jika dunia perfilman diisi oleh orang-orang dengan pemahaman agama yang baik, tentu orientasi dari film yang mereka produksi adalah dakwah. Tak akan ada adegan nyeleneh-nyeleneh.

Belakangan ini kita patut bersyukur. Kesadaran umat Islam akan pentingnya menguasai dunia perfilman telah tumbuh pesat. Hal itu bisa dilihat dari maraknya film-film bertemakan Islam yang lalu lalang di layar kaca dan sinema. Tapi, ini pun masih sangat sedikit. Kita masih dijajah oleh film-film yang tak terkandung sedikitpun di dalamnya nilai Islam.

Terjun ke dunia perfilman sejatinya adalah usaha untuk menyelamatkan bangsa ini. Sebuah usaha mulia untuk mendidik umat melalui hal yang mereka gandrungi. Jika ceramah hanya mampu menyentuh orang-orang yang memang paham dan suka agama, maka mereka yang tak suka tentu tak akan pernah mau duduk ikut menyimak ceramah. Film Islami bisa jadi solusi, alternatif yang sangat menjanjikan, karena bisa menjaring umat Islam dari berbagai kalangan. Walaupun memang, kita tak menampik bahwa banyak dari film-film yang melabeli diri mereka Islami, ternyata masih jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Bahkan dalam beberapa kasus, malah merendahkan. Tapi, tetap saja harus disyukuri, setidaknya mereka telah mengawali untuk mempopulerkan genre Islam. Sebuah genre yang dulunya sangat asing. Jika dunia perfilman diisi lebih banyak lagi oleh mereka yang paham agama, bukan tidak mungkin, kedepannya kita akan menghasilkan film yang seratus persen murni sesuai nilai-nilai Islam.

Pada akhirnya, terlepas dari hukum khilafiyyah tentang dunia film. Kita tidak memungkiri bahwa untuk saat ini jika kita ingin memperbaiki generasi muda umat Islam, kita harus menyodorkan lebih banyak film Islami kepada mereka daripada film yang tidak terkandung sedikitpun nilai Islam di dalamnya. Umat Islam harus memiliki ekosistem perfilman sendiri. Sebuah poros yang yang berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah. (red/febriawan)

kunjungi media sosial Al-fatih : 

| Al-fatihFacebook.com | Al-fatihInstagram.com |  Al-fatihTwitter.com | 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *