Indonesia Menagih Kontribusi

12-30-57-Ilustrasi+Peta

Nusantara – Islam adalah , sebuah kata singkat namun memikat, sederhana namun sempurna, indah serta menyejarah. Islam yang telah memayungi Sabang sampai Merauke-nya Nusantara, adalah buah kerja cinta totalitas dari tangan para mu’allim, para wali, dan para sultan yang dahulu mampu membangun kerajaan besar Islam di saat Hindu dan Budha masih menjadi agama resmi. Mereka telah menyalakan sumbu cinta yang sesungguhnya, hingga banyak masyarakat bersyahadat. Berasas dari dakwah Wali Songo, sebuah majelis dakwah yang didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 M (808 H) serta para sultan dan rekan-rekannya, syiar Islam berhasil mengakhiri era dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara.

Mereka bekerja dalam dimensi realita yang mengisyaratkan pada kita deretan hutang yang menagih kejernihan dan kejujuran cinta kita kepada satu-satunya dien yang Allah ridhoi. Agar kita merampungkan definisi cinta kita dalam kerja-kerja nyata menuju peradaban hakiki. Efek cinta tidak sekedar kata, tetapi ia harus menjelma menjadi kerja. Kerja panjang hingga akhir zaman, kerja cinta yang telah dicontohkan Sang Manusia Agung, Rasulullah beserta sahabat dan para pewaris mereka. Itulah dakwah!

Bumi pertiwi di mana kaki kita berpijak ini telah merekam beberapa jejak prestasi dakwah. Tahun 1970 hingga awal 1990 menjadi puncak maraknya genre buku islami yang kemudian mewarnai minat masyarakat Indonesia sehingga berdampak pada Islamisasi beberapa bidang, seperti muncul kesadaran politik Islam, perbankan syariah dan lain-lain. Berbeda dengan yang terjadi pada tahun 1990 akhir hingga hari ini, genre yang marak adalah yang kembali memperuncing sisi-sisi khilafah furu’iyyah di kalangan umat, antara ormas Islam, organisasi dakwah, dan antarharakah. Sehingga, sensitifitas yang sudah diredam oleh para pemimpin dan ulama seolah kembali ke permukaan.

Informasi di atas seperti yang dirilis oleh Litbang Kementrian Agama RI tersebut, lagi-lagi menjadi isyarat begitu banyaknya lilitan hutang yang menjerat tiada ampun yang harus segera diusahakan untuk dilunasi oleh para perintis jalan cinta bernama dakwah. Harus dicicil oleh para perindu persatuan ummat Islam, dan harus dipertanggung jawabkan oleh para pemimpi jayanya peradaban. Sebagai putera-puteri Muslim yang lahir dari rahim Ibu Pertiwi, tidak berarti usai menikmati warisan jerih payah para pendahulu dan puas dengan status mayoritas, lantas kita alergi dengan rasa perjuangan. Berbangga dengan tumpukan buku agama, tapi tak bernyali diajak masuk ke belantara budaya, politik, dan militer yang tidak lain adalah medan serta poros aktifitas manusia. Kejayaan Islam di dunia itu pasti adanya, tak terkecuali di Indonesia. Namun ia layaknya sebilah pedang tajam terhunus yang menanti tangan perkasa sang pahlawan. (red/zahra)

kunjungi media sosial Al-fatih : 

| Al-fatihFacebook.com | Al-fatihInstagram.com |  Al-fatihTwitter.com | 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *