Oleh: Faiza Shabrina

Siapa pun yang pernah terjebak di lingkaran yang terasa salah mungkin pernah berpikir bahwa salah bersama kelompok lebih baik daripada benar sendirian, sebab melawan arus itu berat, sendirian rasanya tak enak. Sesekali melangkahi batas adalah jalan pintas bagi kaki-kaki yang lelah bertahan untuk apa yang diyakini. Padahal mereka sadar betul, penyesalan sudah mulai merayapi jemari kaki mereka bahkan sebelum langkah itu dimulai.

Sebagian dari kita mungkin pernah mengalaminya: merasa takut melakukan hal yang kita yakini benar di saat orang-orang berbuat sebaliknya. Ada perasaan malu jika terlihat berbeda. Kita tidak ingin orang lain beranggapan bahwa kita adalah kertas putih. Sekali saja titik hitam menodainya, semua mata tertuju padanya.

Kejadian semacam ini cukup sering terjadi dalam kehidupan. Kita merasa tidak enak beranjak untuk salat saat sedang seru-serunya mengobrol. Kita segan untuk menolak ajakan berkumpul untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Kita diam-diam menghadiri kajian karena takut dianggap sok alim. Dan bagi kita para muslimah, mungkin kita pernah merasa malu saat pakaian kita terlihat berbeda dari teman-teman yang lain.

Perasaan malu, tidak enak, atau takut dihakimi adalah hal manusiawi. Namun, di samping kewajaran yang dapat kita maklumi, ada perspektif lain yang mungkin kita luput dalam menyadarinya. Boleh jadi perasaan yang menghalangi kita untuk berbuat benar lahir dari ketidakpercayaan diri yang membuat kita ragu untuk menunjukkan identitas sebagai muslim. Akhirnya, alih-alih mempertahankan apa yang kita yakini, kita justru memilih untuk mengikuti arus, entah itu benar atau salah.

Sebenarnya ada banyak hal yang mestinya membuat kita bangga menjadi seorang muslim. Kita adalah pengikut Rasulullah Muhammad yang membawa umat manusia dari kebodohan menuju ilmu, dari kegelapan menuju cahaya kebenaran. Kita adalah umat terbaik yang diamanahi untuk menyerukan kebaikan dan mencegah keburukan, dengan syariat yang menjadi standar keduanya dan keimanan yang menjadi dasarnya.

Kalau kita yakin bahwa agama kita punya batas-batas jelas yang bersumber langsung dari Allah Swt., Pencipta alam semesta, maka sudah seharusnya kita bisa lebih percaya diri dalam melakukan kebenaran. Fokus kita bukan lagi penilaian manusia, melainkan rida-Nya.

Mungkin kita masih merasa takut saat berjalan di balik batas-batas yang banyak orang melewatinya. Merasa asing dengan jalanannya yang terkadang sepi. Namun ketahuilah, kebenaran itu ramai. Kita akan dipertemukan dengan mereka yang juga berusaha meniti jalan kebenaran. Kalau belum bertemu di jalan-jalannya, mungkin di taman-tamannya. Kalau belum bertemu juga, datangilah ruang kebermanfaatan dan lingkaran ilmu. Kebenaran tak akan jauh-jauh darinya.

Bukan berarti kita harus meninggalkan lingkaran yang beberapa titiknya berseberangan dengan kita. Sekiranya mampu, merangkulnya akan jadi lebih baik. Barangkali kebanggaan kita menyandang identitas sebagai muslim akan menular, hingga akhirnya kita tidak terbawa oleh arus yang salah, tetapi menjadi arus kebaikan yang membawa perubahan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *