Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh: Khansa Hilyatul Aulia (Staff Media Center 2026)
Kehadiran Islam di muka bumi bukan tanpa alasan. Sejarah mencatat bahwa setiap ajaran yang dibawa para Rasul hadir sebagai jawaban atas kerusakan moral atau demoralisasi yang terjadi di tengah umat. Islam datang membawa esensi kedamaian, ketenangan, dan ketentraman.
Sebagai pemeluknya, seorang Muslim idealnya menjadi sumber ketenangan bagi orang-orang di sekitarnya, sekaligus memiliki pribadi yang senantiasa bahagia dan optimis dalam menjalani hidup. Hal ini berakar dari konsep Rahmat, sebuah perasaan yang penuh cinta, kelembutan, dan kebaikan yang bersumber dari sifat Allah, yaitu Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang).
Uniknya, sifat Rahman Allah berlaku universal; siapa pun yang berjuang lebih keras, termasuk non muslim, memiliki peluang keberhasilan yang terbuka lebar. Namun, bagi seorang Muslim, ia berkesempatan mendapatkan tambahan sifat Rahim sebagai bentuk kasih sayang khusus dari Nya.
Konsep Islam Rahmatan Lil ‘Alamin menegaskan bahwa kedamaian ini diperuntukkan bagi seluruh alam semesta (‘Alamin), mencakup segala sesuatu selain Allah.
Perwujudan rahmat ini dituangkan dalam lima prinsip dasar atau Maqashid Syariah, yaitu menjaga agama (hifdzuddin), jiwa (hifdzunnafs), akal (hifdzulaql), keturunan (hifdzunnasl), dan harta (hifdzulmaal).
Dalam konteks sosial, perbedaan dipandang sebagai sebuah keniscayaan yang tidak perlu dihilangkan, melainkan harus dihargai. Sejarah membuktikan hal ini melalui Piagam Madinah dan peristiwa Fathu Makkah, di mana Islam hadir membawa kedamaian tanpa dendam sedikit pun.
Prinsip kasih sayang ini harus dimulai dari Rahmatan Lil Muslimin (ikatan kuat sesama muslim tanpa merasa paling benar) sebelum akhirnya meluas menjadi Rahmatan Lil Ummah yang mencakup kemanusiaan secara global.
Keteladanan dalam menghargai perbedaan juga terlihat dari kisah Buya Hamka yang melaksanakan salat 23 rakaat demi menghormati jamaah lain, meskipun beliau biasanya mengamalkan 11 rakaat.
Karakter Rahmatan Lil ‘Alamin mencakup sembilan poin utama: hati tenang, mudah memaafkan, amanah, prasangka baik, toleransi, empati, kebersamaan, musyawarah, dan keadilan.
Terakhir, mengutip pesan Syeikh Yusuf Al-Qardhawi, kita diingatkan untuk menghindari sikap ekstrem dalam beragama, karena ibadah sejatinya bukan untuk diperdebatkan.
Ciri-ciri ekstremisme yang harus dijauhi meliputi sikap fanatik, gemar mempersulit diri, berburuk sangka, hingga senang menyalahkan org yang seiman. Sebaliknya, kita didorong untuk menjadi pribadi yang moderat melalui toleransi.
Penting untuk diingat bahwa bertoleransi tidak akan menghilangkan jati diri kita sebagai seorang Muslim, melainkan justru memperkuat wajah Islam yang teduh dan penuh kasih bagi dunia.
Baarakallahu fiikum!!