Lensa Al Fatih #5
Populisme sering memakai istilah “Rakyat” padahal yang dimaksud adalah mereka yang kecewa pada pemerintah. Menurut Wikipedia, populisme lahir atas dasar presepsi rakyat biasa terhadap pengkhianatan elit, atau sikap kontradiktif elit-elit politik dalam mengumbar janji politik saat kampanye dan realisasinya pada saat berkuasa.
Dalam era populisme, demokrasi menghadapi tantangan besar akibat praktik politik gimik yang lebih mengedepankan hiburan dan emosi daripada substansi. Politisi populis memanfaatkan rasa kecewa rakyat terhadap elit, lalu membungkus retorika mereka dengan bentuk yang ringan dan sensasional, kerap kali membungkus dengan isu-isu dangkal seperti gosip publik figur atau artis. Akibatnya, partisipasi kritis menurun, demokrasi dilemahkan dan masyarakat semakin muda dimanipulasi.
Analisis Masalah:
- Populisme dan Gimik politik
- Populisme beroperasi atas klaim mewakili “suara rakyat,” padahal sering kali hanya menyederhanakan isu-isu kompleks untuk kepentingan politik praktis.
- Gimik politik menjadi alat utama untuk menarik perhatian masyarakat yang lebih tertarik pada hiburan ketimbang informasi politik yang mendalam.
- Masyarakat yang Tidak Kritis
- Masyarakat yang terbiasa dengan isu-isu dangkal seperti konten viral dan hiburan ringan, menjadi kurang tertarik pada politik substantif.
- Dampak Terhadap Demokrasi
- Meningkatnya polarisasi akibat narasi “Kami vs mereka”.
- Melemahnya institusi-institusi demokrasi, seperti pengadilan dan media independen.
- Minimnya partisipasi publik yang kritis terhadap isu-isu politik.
Solusi yang bisa kita berikan:
- Meningkatkan literasi politik masyarakat.
- Mengembalikan fungsi media sebagai kontrol sosial.
- Menolak gimik politik, dan memilih politik bermartabat.
- Mengedukasi publik dari perspektif agama.
- Membangun lingkungan kritis di area sekitar
Mengenai politik dan Islam, apakah Nabi Muhammad buta politik?
Tentunya Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga berpolitik, perlu kita ketahui bahwasannya Nabi dan Rasul diutus oleh Allah SWT dengan membawa dua tujuan utama, yaitu hifẓ ad-dīn (menjaga agama) dan siyāsah ad-dunyā (mengatur kehidupan dunia). Konsep siyāsah ad-dunyā berkaitan dengan pengelolaan dan tata kelola dunia, yang dalam terminologi kontemporer sering diterjemahkan sebagai politik.
Pertanyaan yang keluar saat diskusi berlangsung:
- Contoh Pemimpin Populis?
- Bagaimana kalau populisme mengusung nilai2 dan simbol keagamaan?
- Apakah sebab populisme sendiri karena kesalahan masyarakat yang abai terhadap isu politik?
- Kenapa masyarakat lebih tertarik sama gosip?
Tanggapan dari teman-teman diskusi:
- – populisme kan strategi, jdi klo strateginya begitu bisa aja dinilai baik karena populis sndiri awalnya emg strategi – populis baru bisa dihakimi baik atau buruk setelah kita lihat kebijakan yang dibuat
- – bisa jadi tapi kita tidak bisa 100% menyalahkan masyarakat atas kebodohan yang terjadi karena tetap ada peran pemerintah dilapangan. – tidak bisa menyalahkan masyarakat seutuhnya, tapi perlu sadar terkait peran masing- masing untuk memperbaiki kondisi negara, misal: media perlu punya standar khusus untuk filter konten apa yang disajikan, rakyat: sebagai masyarakat yang terpelajar biar tidak terbawa arus konten yang tidak penting.
- – masyarakat sudah jenuh menghadapi politik yang buntu, ada masalah tidak terselesaikan, makin nambah lagi masalahnya, sedangkan kalau gosip lebih seru buat diobrolin. – orang-orang mikir kalau hidup sudah susah terus ngapain lgi kita ngomongin hal-hal rumit kaya politik, selain itu ilmu mereka tidak cukup jadi prefer ngomongin hal-hal yang dikuasai, manusia dilahirkan punya rasa seru kalau ngomongin aib orang saja.
Kesimpulan
Populisme dan politik gimik bisa saja memikat, tetapi tidak menjawab kebutuhan mendasar bangsa. Kita, sebagai bagian dari masyarakat madani, harus memilih untuk tidak larut dalam drama politik kosong, dan memilih untuk peduli, berpikir kritis, dan bertindak bijak demi menjaga demokrasi dan keutuhan bangsa.