Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh Herda Fatimah
Bicara tentang pemuda, sama dengan bicara soal karya. karena apa lagi yang paling memungkinkan untuk dihasilkan oleh seorang pemuda yang tenaga dan waktunya “turah” -kalo kata orang jawa- selain karya? Di saat tenaga dan waktunya maximum, tapi ilmu, uang, dan pengalamannya minimum seharusnya pemuda fokus mengembangkan diri dan mengasah skil-skil yang berguna baginya. Lalu kemudian berproses, menciptakan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan, sekaligus solusi bagi suatu permasalahan di lingkungan terdekatnya.
Sejatinya karya adalah jarak yang menghubungkan diri kita hari ini dengan masa depan dan segala mimpi yang ada di sana. Maka masihkah harus overthinking tentang gambaran diri di masa depan? Apa tidak sebaiknya fokus saja menjalani hari ini dengan tenaga, pikiran, dan hati yang sepenuhnya tercurah di sini? Manatahu karya-karya kecil itu jadi tangga menuju karya-karya besar lainnya. Yang mampu membawa kita melangkah lebih jauh lagi dan melihat bagian dunia yang lain yang sebelumnya tidak tergapai oleh langkah bahkan pandangan kita. Karya yang mampu membukakan pintu menuju pengalaman-pengalaman baru yang luasnya tidak berbatas.
Masa muda terlalu berharga untuk dilewati dengan kondisi-kondisi aman, nyaman, dan senantiasa terjamin kepastiannya. Cobalah sesuatu yang baru, lakukan hal-hal yang sulit, tekuni hobi kita sampai larut malam. Dan berdamailah dengan segala keterbatasan fasilitas dan ketidaknyamanan hidup, karena itu mampu menempa diri dan mental menjadi lebih kuat.
Dalam buku biografi BJ. Habibie yang ditulis oleh Gina S. Noer, terdapat satu kutipan menarik; “kemerdekaan hanyalah awalan, bagaimana mengisinya itu adalah ujian sebenarnya. Perjuangan setelah kemerdekaan itulah yang akan jadi penentu, apakah kemerdekaan itu bermakna atau sia-sia.” Menuju merdeka saja perjuangannya butuh darah dan nyawa banyak jiwa, namun rupanya itu pun masih awal mula. Usaha-usaha baru yang harus mengiringi setelahnya justru jauh lebih berat. Kemerdekaan dalam lini apapun yang kini telah kita dapatkan : kemerdekaan pendidikan katakanlah salah satunya, harusnya menjadi pemantik bagi kita untuk berkarya lebih giat dengan memanfaatkan fasilitas “kemerdekaan” itu sebaik-baiknya sebagai bentuk tanggung jawab, dan sebagai penentu, apakah merdeka belajar tadi menjadi sesuatu yang bermakna atau sia-sia.