Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh Muhammad Adil Syakur
|
Hidup adalah Indonesia. Negeri kita adalah Negeri yang paling cocok untuk ditinggali manusia di antara negeri-negeri lainnya. Pemandangan indah, kekayaan alam atas dan bawah melimpah, penduduk ramah, cuaca bersahabat, makanan terjangkau, serta keamanan yang relatif stabil. Sedangkan kalau kita bandingkan dengan negeri lain, pemandangan gersang, tak memiliki kekayaan alam, penduduk tak ramah dan tak peduli satu sama lain, dingin yang menggigilkan, panas yang membakar, makanan sulit didapat, dan bahkan perang yang tak usai.
Tapi yang namanya mudah itu ada setelah susah. Sejarah perjuangan bangsa indonesia mendapat kemerdekaan itu tidak memakan pengorbanan yang kecil. Negara kepulauan yang terbatas komunikasi antar pulau serta perkembangan teknologi zaman itu, tak sebanding dengan negara yang sudah memiliki hubungan internasional dan kekuatan militer.
Maka siapa yang memperjuangkan negeri ini? Bangsa ini menghadapi ancaman teror pada awal kemerdekaannya. Perjuangan tak berakhir dengan mengumumkan kemerdekaan semata, maka setelah pembacaan proklamasi pun Indonesia masih mendapat serangan. Bukan pertempuran sederhana, Inggris mengerahkan pasukan yang besar ke Surabaya. Bangsa yang baru lahir ini belum memiliki pertahanan yang matang, andai ultimatum Inggris dipatuhi bangsa ini pastilah selesai.
Umat muslim mengeluarkan fatwa jihad untuk mempertahankan Surabaya dari tangan Inggris. Ribuan santri kyai kaum muslimin bertolak ke Surabaya, berperang dan gugur, menyerahkan jiwa ini kepada Penciptanya dengan ikhlas dan berharap ridho-Nya, kobaran semangat pejuang beradu dahsyat dengan kobaran api kota Surabaya, korban pun tak terelakkan. ”Orang yang tidak mau mengorbankan apapun tidak akan bisa mengubah apapun.”
Kemerdekaan Indonesia juga membutuhkan dukungan dari bangsa lain dengan mengakui kemerdekaan indonesia secara de jure. Indonesia yang terisolasi dan diblok oleh Belanda, menjadikannya kesusahan untuk menjalin hubungan diplomasi. Tapi ternyata ada bangsa yang tetap bersikeras mendukung kemerdekaan Indonesia, maka ia mengutus perwakilan untuk menyampaikan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia apapun resikonya. Mesir adalah saudara pertama kita setelah lahir sebagai negara.
Atas dasar apa Mesir “mati-matian” membela Indonesia? “Menyesal sekali kami harus menolak protes Tuan, sebab Mesir selaku negara berdaulat, dan sebagai negara yang berdasarkan islam, tidak bisa tidak mendukung perjuangan bangsa indonesia yang beragama islam. Ini adalah tradisi bangsa Mesir dan tidak dapat diabaikan.” Jawab PM Nokrashi kepada Duta Besar Belanda yang memprotes dukungan Mesir terhadap kemerdekaan Indonesia.
Ikatan islam yang kuat ini adalah ruh pejuang bangsa ini sejak dahulu kala. Tidak bisa kita nafikan dari sejarah bahwa peran terbesar bagi kemerdekaan bangsa ini sebelum dan sesudah proklamasi adalah peran umat islam.
Tapi apa balasan dari pengorbanan darah itu? Umat islam sebagai kalangan mayoritas (95% penduduk Indonesia) berharap mendapat hak mereka dengan islam sebagai dasar negara, maka dibuatlah sila pertama “Kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Sila tersebut sudah disepakati oleh semua perumus termasuk A.A. Maramis (tokoh nasional beragama kristen), “Setuju 200 persen” ujarnya. Namun lain apa yang terjadi sehari setelah proklamasi, pengkhianat bangsa mengancam berlepas diri dari Indonesia jika sila pertama tetap dibiarkan. Dengan berat hati dan lobi yang sangat a lot, tokoh islam menerima penggantian sila pertama dengan “Ketuhanan yang Maha Esa”.
Namun yang terjadi lebihlah kejam, hasil rapat memutuskan untuk mengganti kata mukadimah dengan pembukaan, mengganti sila pertama dengan “ketuhanan yang maha esa”, mencoret “dan beragama islam” pada pasal 6 ayat (1) “Presiden ialah orang indonesia dan beragama islam”, dan menjadikan pasal 29 ayat (1) “Negara yang berdasarkan atas ketuhanan yang maha esa” seiring perubahan tadi.
Piagam Jakarta yang dihasilkan dengan memeras waktu, pikiran, tenaga, dan keringat lenyap dalam waktu singkat. Betapa besar kesabaran para tokoh muslim dalam menghadapi “pengkhianatan” ini, berapa banyak orang yang terluka hatinya. “Apa yang kau lihat?, menurutmu musuh kita itu siapa?”
wallahu a’lam bisshawab