Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
BULETIN VOLUME 1 TAHUN 2023
Oleh : Aisyah Syahidah RI

Sejarah Badar
Tepat satu tahun sejak hijrahnya Rasulullah bersama sahabatnya Abu Bakar ke Madinah, Allah SWT menurunkan perintah puasa kepada Nabi dan umatnya. Pada tahun kedua hijriyah atau 15 tahun setelah perintah kenabian turun, dimulailah Ramadhan pertama bagi umat muslim. Tapi kali ini bukan hanya tentang puasa, bukan hanya tentang momen Ramadhan pertama bagi umat muslim, tapi ini tentang sebuah kisah luar biasa yang bertepatan di dalamnya. Sebuah kisah tentang perjuangan iman
dan ketaatan kepada Allah.
Hijrahnya kaum Muhajirin dari Makkah ke Madinah membuat mereka harus meninggalkan harta dan rumahnya di Makkah. Bahkan sebagian dari mereka juga meninggalkan keluarganya yang menolak hijrah atau belum menerima Islam. Maka rumah-rumah bagi kaum Muslimin yang berhijrah menjadi kosong dan tidak ada yang menempati. Kesempatan ini kemudian membuat kaum Quraisy mengambil alih harta benda yang tertinggal di rumah-rumah itu dan membawanya dalam perdagangan mereka ke Syam. Dipimpin oleh Abu Sufyan, para pedagang Quraisy membawa harta benda milik kaum Muslimin dan memperoleh keuntungan yang besar dalam perdagangannya.
Kabar ini kemudian didengar oleh kaum Muslimin yang berada di Madinah. Mereka tidak rela hak mereka dirampas dan bersepakat untuk mencegat kafilah dagang Abu Sufyan dan mengambil kembali hak mereka. Ditambah dengan jumlah kafilah dagang yang sedikit dan tidak dipersenjatai dengan alat perang yang banyak, kaum Muslimin merasa bahwa ini akan mudah.
Namun Allah menginginkan hal lain untuk kaum Muslimin. Lewat wahyu yang diturunkan kepada Nabi, Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk memerangi pasukan Abu Jahal yang datang untuk melindungi kafilah dagang Abu Sufyan. Ini merupakan hal yang sangat diluar rencana. Mengingat bagaimana mereka menghimpun pasukan yang banyak dan dipersenjatai dengan peralatan yang sangat lengkap, maka akan sulit dan hampir mustahil bagi kaum Muslimin untuk mengalahkannya. Karena itu banyak dari mereka yang menyangsikan perintah Allah dan dengan berat hati ikut ke medan perang.
Cerita Badar
Dalam perang Badar, ada beberapa kisah menarik yang sangat mungkin dipetik hikmahnya bagi kaum Muslimin. Pada malam sebelum dimulainya perang, Nabi dan sahabatnya Abu Bakar diliputi rasa cemas yang luar biasa sehingga mereka tidak dapat tidur pada malam itu. Keduanya berdoa kepada Allah dengan sangat khusyu’, meminta kekuatan dan ketenangan jiwa bagi kaum Muslimin agar sanggup menempuh ujian ini di tahun pertama Ramadhan dimulai.
Namun tidak demikian bagi pasukan Muslimin. Seluruh pasukan diliputi rasa kantuk yang luar biasa sehingga semuanya mengalami mimpi basah. Sedangkan air tidak mencukupi untuk kebutuhan seluruh pasukan. Sehingga pada pagi harinya kecemasan mereka bertambah dan datang mengadu pada Rasulullah. Namun Allah dengan seluruh kasih sayang-Nya, menurunkan hujan pada kaum muslimin dan mereka bersuci dengan air tersebut. Tanah kemudian menjadi padat dan memudahkan mereka untuk menyerang kaum kafir Quraisy.
Disamping air hujan, kantuk yang luar biasa, Allah juga menurunkan 1000 malaikat yang langsung dipimpin oleh Jibril A.S untuk membantu kaum Muslimin dalam perang. Tentunya ini tidak dapat dilihat oleh kaum Muslimin, namun ada satu orang kafir Quraisy yang melihat bahwa malaikat turun bak elang yang ingin mendarat di tanah dan menebas leher-leher kafir Quraisy. Pada akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin.
Hikmah Badar
Perang Badar merupakan perang besar pertama bagi kaum Muslimin. Karena itu, badar memiliki keistimewaan tersendiri dalam sejarah Islam. Dikisahkan bahwa pada saat Rasulullah akan menaklukkan kota Makkah, ada seorang sahabat yang diam-diam mengirimkan surat kepada keluarganya di Makkah bahwa Rasulullah akan datang bersama pasukan yang besar untuk menaklukkan Makkah. Kabar ini kemudian sampai kepada Nabi. Sahabat tersebut dibawa ke hadapan Nabi untuk diadili atas perbuatannya. Umar bin Khattab bahkan sampai mencabut pedangnya bersiap untuk menghukum sahabat tersebut atas pengkhianatan yang dia lakukan. Namun begitu Rasulullah
mengetahui bahwa sahabat tersebut adalah bagian dari pasukan Badar, Rasulullah memaafkannya. Hal itu membuat Umar keheranan, karena perbuatan yang dilakukannya bisa menyebabkan gagalnya rencana besar Rasulullah selama ini. Namun Rasulullah mengatakan bahwa dia adalah bagian dari pasukan Badar. Allah memaafkan dosanya di masa lalu dan dosanya di masa yang akan datang.
Ini merupakan keistimewaan dari pasukan Badar. Seperti yang sudah banyak dikisahkan oleh para Mufassir tentang bagaimana dahsyatnya perang Badar, maka orang-orang yang terlibat di dalamnya kemudian diberi keistimewaan yang luar biasa oleh Allah. Badar merupakan simbol ketaatan dan iman yang kuat kepada Allah. Kaum Muslimin saat itu diberi ujian mental yang sangat luar biasa.
Perang di bulan Ramadhan, jumlah pasukan yang sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah musuh, kekurangan air, dan banyak ujian mental lainnya. Namun Allah dengan kasih sayang-Nya yang besar, memberikan kepada kaum Muslimin kekuatan dan pertolongannya hingga mereka berhasil mengalahkan musuh.
Ini adalah hikmah yang besar bagaimana ketika seseorang yakin dan percaya kepada Allah, maka Allah akan dan pasti membantunya tidak peduli sesulit apapun ujian yang dihadapinya. Rasa percayanya kepada Allah menjadikan Allah ridho kemudian menurunkan pertolongannya. Ini adalah hikmah yang luar biasa dari Badar. Karena secara teori, perang Badar hampir mustahil dimenangkan oleh kaum Muslimin. Dilihat dari sisi manapun, kaum Muslimin kalah telak. Entah dari jumlah pasukan, kesiapan perang, logistik, dan kondisi. Namun itu semua bukanlah menjadi hal yang mustahil jika Allah memberikan pertolongannya.
Badar di dalam surah Al-Anfal
Kisah perang Badar yang luar biasa ini kemudian Allah abadikan di dalam Al-quran di surah Al-Anfal. Jika kita membacanya dari awal surah, maka akan jelas bahwa urutan kisah dari surah ini tidak dimulai secara sistematis. Pada permulaan surah kita justru akan dihadapkan dengan kisah akhir dari perang Badar dimana kaum Muslimin berdebat di hadapan Rasulullah terkait pembagian harta rampasan perang. Setiap orang merasa bahwa mereka lah yang paling besar perannya dalam kemenangan ini. Beberapa sahabat mengklaim bahwa mereka yang paling berjasa dan berhak atas bagian yang besar karena mereka lah yang melindungi Rasulullah. Beberapa lainnya mengklaim
bahwa mereka lebih berhak karena mereka lah yang mengejar musuh hingga lari dari medan perang. Beberapa lainnya juga mengklaim bahwa mereka lah yang paling berhak dikarenakan merekalah yang mengumpulkan harta yang tertinggal di tenda-tenda kaum kafir Quraisy. Akhirnya perdebatan itu meruncing dan menyebabkan perselisihan di antara para sahabat.
Allah kemudian menurunkan surah Al-Anfal untuk menjelaskan bagian mereka masing-masing. Namun turunnya surah ini tidak langsung menjelaskan berapa bagian masing-masing pasukan. Ayat tentang pembagian itu justru ada di ayat ke-41 dari surah Al-Anfal. Apa maksud dari cara Allah menjelaskan tentang bagian mereka ini?
Sebelum surat ini tiba di bagian tentang penjelasan tentang hak kaum Muslimin dari perang ini, Allah menyebutkan pertolongannya terlebih dahulu. Allah menyebutkan tentang rasa kantuk, tentang air hujan, tentang pasukan yang Dia turunkan untuk membantu pasukan Muslimin, Allah menyebutkan semua itu, hal yang mungkin kesannya sangat sepele. Apalah artinya rasa kantuk? Apalah artinya hujan?
Dibalik itu ternyata Allah ingin kaum Muslimin tau, bahwa kemenangan mereka tidak akan ada artinya tanpa pertolongan Allah. Bahwa yang membuat mereka menang bukanlah diri mereka, tapi karena Allah yang menginginkan itu. Tegasnya, Allah ingin mengatakan bahwa peran mereka hampir tidak ada di dalam perang ini. Karena Allah menguji mereka dengan perang bukanlah untuk menunjukkan bahwa mereka hebat, namun untuk menguji keimanan mereka dan rasa percaya mereka kepada Allah. Lantas, apakah layak mereka berdebat dan saling mengklaim bahwa mereka yang
paling layak mendapatkan bagian yang paling banyak dan paling berjasa ketika mereka pada hakikatnya tidak melakukan apa-apa?
Inilah metode nasihat yang sangat luar biasa yang terdapat di dalam Al-Quran. Allah tidak langsung memberikan penjelasan tentang bagian masing-masing pasukan. Namun Allah ingin mereka berpikir terlebih dahulu, ingin agar para sahabat memahami bahwa Allah adalah segalanya, ingin agar para sahabat, setelah hari ini selalu menjadikan Allah sebagai satu-satunya penolong mereka. Penjelasan tentang persoalan datang setelah nasihat. Agar kelak mereka paham, sebesar apapun peran mereka dalam membersamai Rasulullah dalam dakwahnya, itu adalah karena Allah. Dengan keimanan yang
kuat itulah kelak kaum Muslimin meraih kejayaannya, dan ini bermula dari Badar. Maka akan sangat wajar jika Allah melebihkan pasukan Badar dibandingkan pasukan lainnya. Dari mereka lah umat Islam hari ini belajar bahwa apapun kesulitan yang mereka hadapi dalam hidup, kunci untuk melewatinya adalah keimanan kepada Allah. Percaya lah bahwa sekeras apapun usaha manusia dalam menggapai apa yang diimpikannya, tidak akan berarti apa-apa jika bukan Allah yang mengizinkannya.
Maka janganlah kita sebagai manusia, sebagai hamba, berbangga hati atas apa yang kita dapatkan. Jangan pernah berpikir bahwa itu adalah karena kemampuan kita. Karena tanpa Allah, kita bukan apa-apa