Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Karya: Masyithah
Jalanan tampak berdebu. Beberapa kendaraan berlalu lalang, melewati sesosok pemuda bewajah oriental dengan tubuh tinggi yang tengah menikmati langit sore. Hari itu ia berjalan sambil mendengarkan musik klasik kesukaannya. Dengan mengenakan sweater hitam panjang dan celana jeans biru gelap serta sepatu kets belel, ia terlihat cuek dengan keadaan sekitarnya. Terkadang seperti tengah berjalan dalam dunianya sendiri.
Namanya Shan.
Langkahnya terhenti di depan sebuah rumah tua yang terlihat sedikit menyeramkan. Dengan cat dinding terkelupas dan beberapa kaca jendela yang pecah.
Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya.
Sosok gadis kecil terpaku diam di bawah pohon mangga di halaman rumah yang tampak tak terurus itu. Wajahnya pucat, sorot mata kelam, dengan aura kesedihan di sekitar kepalanya.
Pemuda itu membelokkan langkah kaki panjangnya menuju pohon mangga. Tepat di depan gadis kecil itu dia berhenti, mencopot earphone di telinga, lalu mata tajamnya menatap wajah gadis di hadapannya.
“Siapa namamu?” tanya Shan.
Gadis kecil bermata sendu itu menatapnya. Sedih.
“Ingin pulang?” Shan sedikit membungkuk dan menepuk kepala gadis kecil itu.
Tanpa ekspresi, gadis itu mengangguk pelan. Matanya mulai menghitam, pertanda ia telah lama berada di ambang garis kematian.
“Siapa namamu? Agar aku bisa menyebutnya saat mengantarmu nanti. Itu jika kamu memang ingin pulang kembali ke ragamu.”
“Meiryn ….” terdengar suara sehalus desau angin. Sementara bibir pucat pecah bergaris itu sedikit terbuka.
Shan mengulurkan tangannya, meraih lengan kurus Meiryn.
Dingin.
Shan menatap wajah pucat itu lekat. Mata tajamnya masuk ke dalam rongga mata menghitam kelam. Jauh ke dalam. Melewati lorong-lorong gelap tanpa cahaya. Sampai ia mendengar suara-suara itu ….
***
Suara kicau burung, kendaraan berlalu lalang, dan suara pekik tawa anak-anak kecil. Shan mendapati dirinya sedang berdiri di halaman sebuah rumah, tepat di bawah pohon mangga kecil yang mulai berbuah. Tepat di tempatnya berdiri saat ini, hanya saja suasananya tanpak jauh berbeda. Dulu, tempat ini mempunyai aura bahagia. Ceria.
Di depan sana, tampak seorang laki-laki berkumis yang sedang menatap rumah di seberang, tak sabar.
Sementara seorang wanita dan beberapa anak kecil terlihat gusar menunggu di dalam sebuah van hitam di pinggir jalan. Sepertinya mereka berniat pergi untuk waktu yang lama, terlihat dari banyaknya barang yang dibawa.
“Meiryn!” akhirnya laki-laki itu memanggil.
Tak lama, terlihat seorang gadis mungil berlari keluar dari dalam rumah seberang. Wajahnya terlihat ceria. Dengan tawa lebar dia berlari akan menghampiri laki-laki itu.
Tapi ….
Sebuah mobil berkecepatan tinggi tiba-tiba melintas. Terdengar suara decitan tajam, lalu suara benda tertabrak. Tanpa ampun, mobil itu menghantam tubuh gadis kecil itu dengan keras.
Dia terpelanting. Melayang beberapa detik di udara, lalu terhempas keras dengan suara yang mengerikan, terbayang bagaimana rasa sakitnya saat beberapa tulang berderak patah.
Laki-laki dan perempuan yang berada di dalam mobil berteriak bersamaan. Lalu menghambur ke jalan.
Mobil itu berhenti. Si pengendara tergopoh keluar dengan linglung. Seperti tak menyangka telah menabrak seorang putri kecil. Lalu terdengar dia berteriak histeris.
“Aku tidak melihatnya! Aku bersumpah, aku tidak melihatnya!”
Dahi Shan mengernyit. Menyadari ada sesuatu yang salah telah terjadi dalam peristiwa itu.
Dia memejamkan mata, bersamaan dengan hawa panas yang mulai mengoyak punggungnya.
Kejadian itu terulang lagi. Laki-laki yang memanggil, seorang anak perempuan yang berlari, mobil yang melaju kencang, lalu … sosok hitam di balik jendela rumah seberang.
Sosok bertubuh tinggi berkabut hitam dengan mata merah menyala. Menoleh ke arah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang di ujung jalan. Lalu … tangannya terulur ke sana. Kabut berwarna hitam pekat bergerak melayang dari telapak tangannya menuju mobil, menutupi kaca, sebagian masuk melalui jendela. Kemudian, terdoronglah mobil itu dengan kencang. Hampir tanpa kendali!
Dia penyebab kecelakaannya.
Shan menarik nafas. Lalu berkonsentrasi melihat kejadian selanjutnya.
Tubuh kecil bersimbah darah itu diangkat dari aspal yang terlumuri warna merah. Mereka bergerak cepat, berusaha menyelamatkan nyawa gadis itu. Sementara nafasnya mulai tersengal, lalu batuk dengan semburan darah merah mengental, kemudian terkulai.
Hanya saja, denyut belum terhenti dari nadinya.
Dia masih hidup, seharusnya masih hidup. Kalau saja sosok hitam itu tak merengkuh jiwa yang tertinggal di atas aspal. Menarik jiwa berkabut tipis itu agar tak menyatu dengan raga yang terkulai dalam genggaman si pria histeris penabraknya.
Hingga akhirnya mobil itu membawa si tubuh pergi ke Rumah Sakit, jiwa itu berdiri mematung dalam pelukan si sosok hitam.
Penuh kasih sayang, sosok hitam itu membelai kepala gadis kecil dipelukannya.
Mereka, sosok hitam dan gadis kecil itu … telah saling mengenal sebelumnya. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Shan di setiap belaian dari sosok hitam berwajah murung di depannya. Lalu perlahan, wajah murung itu tersenyum. Bahagia.
Tapi detik kemudian, mata merah itu berkilat tajam saat beradu pandang dengan mata Shan.
Sosok hitam itu melihatnya!
***
Shan membuka mata, terhenyak. Saat dirasakan sesuatu yang panas menghantam bahunya. Ini bukan rasa panas yang keluar dari dalam tubuhnya tiap kali dia mengeluarkan kekuatannya.
Dilihatnya Meiryn menarik tangannya dan melangkah mundur, menjauh dari Shan dengan ekspresi ketakutan.
Ada aura berbahaya terdeteksi oleh indra keenam Shan. Cepat dia menoleh.
Di sana, dari rumah seberang, melangkah dengan tegap sosok hitam bermata merah. Matanya berkilat marah, terusik menyadari kehadiran Shan.
Dia bukan makhluk jahat, hanya ingin melindungi apa yang menurutnya adalah miliknya. Gadis kecil itu.
Lagi, dilepaskan energi berupa kabut hitam dari telapak tangannya. Kabut itu melesat ke arah dada Shan, tapi pemuda itu bergeser dengan tenang. Kabut hitam itu melewatinya, tapi hawa panasnya sempat dia rasakan menggores bahunya.
“Sialan,” dengus Shan.
“Jangan ganggu kebahagiaan kami!”
“Kau menahannya di sini? Sementara kau tau dia bisa hidup dengan normal di dunianya.” Shan menatap sosok itu tajam.
“Pergilah. Sebelum aku membunuhmu!” sosok itu menghardik tanpa suara. Hanya lewat telepati yang dia kirimkan dengan penuh hawa mengancam.
“Aku akan pergi, dengan Meiryn.” Jawab Shan tenang.
Sosok itu terlihat gusar. Lalu terdengar geraman kemarahan dari mulutnya. Tubuhnya melesat cepat ke arah Shan, dengan tinju berbalut kabut hitam di tangannya.
Shan mengangkat telapak tangan ke atas, lalu menyentakkan ke arah sosok yang menyerangnya. Keras!
Terdengar suara benda terhempas di tanah. Detik kemudian sosok hitam itu sudah menggelepar kesakitan di atas dedaunan kering pohon mangga. Tak jauh dari tempatnya berdiri.
Maju selangkah, kaki kanan Shan sudah berada tepat di tenggorokan sosok hitam itu. Dengan pandangan dingin dan wajah tanpa ekspresi, kakinya menekan lebih kuat lagi.
Bukan geraman lagi yang terdengar, tapi erangan. Bersamaan dengan kabut hitam yang memudar dari tubuh sosok itu, juga mata yang semula berkilat merah berubah menjadi layaknya mata manusia normal. Kini terlihat jelas wajahnya. Sosok pemuda, yang mungkin seusia dengan Shan. Hanya saja beraura pekat, seperti penuh kepedihan dan kesepian abadi.
Kini, mata itu berkaca-kaca. Sambil kedua tangannya menggenggam sepatu Shan, hanya saja tak mampu menggesernya.
“Jemmie ….” tiba-tiba Meiryn mendekat. Bersimpuh di samping kaki Shan, sambil tangan mungilnya ikut memegangi kaki yang tak tergeser itu.
“Kumohon, lepaskan dia … dia sahabatku.” Meiryn meminta.
Mata dingin Shan beralih ke wajah mungil di bawah kakinya. “Sahabat macam apa yang tega menahan jiwa sahabatnya sendiri dan membiarkannya berada di garis antara hidup dan mati hingga puluhan tahun?” dengus Shan.
“Aku cuma tak ingin berpisah dengannya. Itu saja …,” erangan disertai airmata yang menitik dari sudut mata pemuda itu.
“Bahkan kau yang membuat kecelakaan itu terjadi padanya! Bukannya menyesal, malah menahannya dalam kesedihan selama ini. Kau manusia atau bukan?” Shan berdecik.
“Aku mencintainya! Aku tak bisa menjalani hidup tanpanya!”
“Kau ingin menjalani hidup, sementara dia yang kau cintai … kau paksa mati!” Shan menekan ujung sepatunya lebih dalam ke tenggorokan pemuda itu. Hingga terdengar suara sengal nafas terputus putus, dari arah jendela kamar rumah seberang. Di mana duduk seorang pemuda berwajah sama dengan kaki kecil di atas kursi roda. Kedua lengannya melingkar di leher, dengan mata membeliak karena kekurangan oksigen di paru-parunya. Perlahan, darah mengalir keluar dari hidung.
“Jangan bunuh dia … Kakak, kumohon. Aku mengerti alasannya menahanku di sini … jangan bunuh sahabatku, kumohon…,” kini Meiryn memeluk kaki Shan dan menangis terisak di sana. Membuat hati Shan luluh oleh airmata itu. Air mata yang menetes, lalu bercampur dengan airmata pemuda di bawah kakinya.
Sejenak dia merasakan betapa mereka berdua saling menyayangi, hanya saja dalam cara yang berbeda. Yang satu bersikeras ingin memiliki, sementara yang satu rela tinggal dalam kesepian abadi.
Shan menggelengkan kepalanya, dia mengerti, salah satu ekspresi dari cinta memang ketulusan. Ketulusan yang sayangnya kadang terlihat sebagai kebodohan di mata yang lain.
“Kalau benar kau mencintainya, biarkan dia pergi. Karena jika dia juga mencintaimu, dia pasti kembali untukmu. Karena cinta itu membebaskan, bukan mengikat.” Shan mengendurkan tekanan ujung sepatunya.
Pemuda itu terbatuk hingga tubuh kurusnya membungkuk. Sementara gadis kecil itu memeluknya erat.
“Aku pasti kembali untuk menengokmu, Jemmie. Tapi izinkan aku pergi sekarang …,” Meiryn melepaskan pelukannya, lalu berdiri di samping Shan.
Pemuda itu menangis, sedih. Hingga akhirnya dia memeluk lututnya sendiri. Menangis dan terus menangis menyadari kepergian gadis kecil itu akan menjadi serupa kematian untuknya.
Tapi dia tahu, ke-indigo-an nya tak mampu menandingi pemuda yang kini menggandeng tangan mungil Meiryn menjauh dari tempat itu.
Karena, pemuda yang membawa sahabatnya itu bukan sekedar indigo, tapi manusia separuh malaikat.
***
Di kota yang lain, tepatnya di sebuah Rumah Sakit besar, Shan memasuki lorong demi lorong.
Bertanya pada suster di bagian administrasi, dan mendapati nama Meiryn Charissa di sana. Usianya 23 tahun. Dirawat setelah koma selama 13 tahun.
Shan berhenti melangkah di depan pintu sebuah ruangan. Sejenak dia menoleh pada gadis kecil di sampingnya. Lalu mengetuk pintu dengan tenang.
Pintu terbuka dari dalam. Wajah laki-laki berkumis yang tak asing di mata Shan yang membukanya. Hanya saja kini kumis itu tampak mulai memutih.
“Siapa?” tanyanya keheranan melihat wajah asing Shan.
“Aku mengantar Meiryn.” Shan tersenyum. Sekilas diliriknya gadis yang terbaring lemah di atas ranjang, dengan alat pendeteksi jantung dan puluhan kabel dan infus yang melekat di sekujur tubuhnya.
Shan mengangguk pada gadis kecil yang kini telah melepaskan tangannya. Lalu gadis kecil itu merangkak naik ke atas ranjang, dan sosoknya menghilang ke dalam tubuh si gadis berwajah pucat.
Sementara laki-laki berkumis masih belum mengerti apa yang terjadi, sampai kemudian di dengarnya suara erangan dari mulut putrinya.
Dia menoleh. Panik dan haru, setelah selama 13 tahun putrinya koma, kini tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar.
Lalu kelopak mata itu mulai terbuka, belum sempat melihat wajah Shan, hanya saja ia masih sempat melihat sosok pemuda bersayap putih keperakan, berlalu pergi dari kamarnya.
Tamat.