Saat Nurani Kehilangan Perannya

Oleh: Maryam Jamilah

Menjadi inti terdalam hati, bertindak sebagai pemandu dalam pengambilan keputusan sesuai norma keagamaan dan peradaban, itulah nurani. Tidak ada satu pun agama yang membenarkan kejahatan, juga tidak pernah ada peradaban yang menginginkan permusuhan.

Nurani juga menjadi sumber fatwa dalam menentukan sikap bagi seorang muslim. Sebagaimana dalam hadits Rosul shalallahu alaihi wa sallam ketika seorang sahabat bernama Wabishoh bin Ma’bad mendatanginya dan bertanya tentang definisi kebajikan dan dosa, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (استفتِ قلبك، البر ما اطمأنت إليه النفس، واطمأن إليه القلب، والإثم ما حاك في النفس، وتردد في الصدر، وإن أفتاك الناس وأفتوك)

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan itu adalah apa saja yang jiwa merasa tenang dengannya dan hati merasa tentram kepadanya. Sedangkan dosa itu adalah apa saja yang mengganjal dihatimu dan membuatmu ragu, meskipun orang-orang lain memberikan fatwa kepadamu.” (HR. Imam Ahmad)

Makna istafti qalbak dalam hadis itu memang tidak berlaku secara mutlak, ia memiliki rincian seperti:

1. Berlaku untuk orang shalih yang hatinya bersih dari maksiat
2. Berlaku untuk orang yang memiliki pemahaman agama yang mendalam
3. Berlaku pada perkara yang syubhat, (kalau perkara yang sudah jelas hukumnya tak usah kita mamandang nurani)
4. Mengedepankan dalil dari perasaan

Namun hadis tersebut bisa menjadi motivasi kita, bahwa hati yang dimaksud adalah nurani.

Tidak semua hati berisi kebaikan. Sebab kebencian, iri hati dan dengki adalah juga penyakit yang menjadi bagiannya. Namun, nurani adalah bagian hati yang terhindar dari penyakit itu semua.

Merasa ingin membantu ketika melihat kesusahan yang diderita sesamanya. Merasa bersalah ketika harus makan dihadapan perut-perut kelaparan. Merasa berhutang budi atas kebaikan-kebaikan tangan dermawan. Merasa berdosa ketika menyalahgunakan kepercayaan, berkhianat dan tidak amanah. Itu semua adalah kerja nurani seseorang.

Setiap jiwa terlahir dengan nurani yang bersih, mencintai persaudaraan, tolong menolong dan bertanggung jawab. Namun, peliknya dunia, susahnya kehidupan dan jauh dari Tuhan, membuat hawa nafsu lebih berkuasa atas diri seseorang. Lalu bertingkah semena mena demi kenyamanan dirinya.

Saat nurani telah kehilangan perannya, manusia hanya mementingkan urusan-urusan pribadi, bagaimana mengenyangkan perutn dan mensejahterakan kehidupannya saja. Lupa, bahwa setiap orang bertanggung jawab atas saudaranya, setiap pemimpin menannggung kesusahan rakyatnya.

Saat nafsu memenuhi hati, nurani menjadi kehilangan tempatnya, ketika itu seseorang telah kehilangan pemandu untuk dapat membedakan kebaikan dan keburukan.

Jagalah hati, ketika di dunia ini sudah tidak ditemukan lagi manusia yang bisa dipercayai, maka kita masih punya nurani. Nurani yang tetap pada tempat dan tidak kehilangan perannya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *