Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh: Ibnu Kurnia
Anda mungkin tidak asing lagi dengan Mohamed “Mo” Salah. Pemain Liverpool berkebangsaan Mesir yang mencetak 46 gol dan 14 assist di semua kompetisi ini, menjadi pembicaraan baik di dalam dunia sepak bola, maupun di luarnya.
Salah tidak hanya dikenal sebagai pesepakbola dengan kemampuan mumpuni. Ia juga dikenal sebagai seorang yang murah senyum, rendah hati, dan tidak pernah lupa dari mana ia berasal. Ia juga dikenal sebagai seorang “duta Islam” yang sukses dalam dunia olahraga.
Sudah banyak sekali gelontoran uang ia berikan untuk membangun kota tempat ia berasal. Ia juga memberikan Mesir kado indah pelepas dahaga; meloloskan Mesir ke Piala Dunia setelah 28 tahun.
Namun, tahukah Anda? Sebelum Mo Salah menjadi “Raja Mesir”, ada yang sudah menempati posisi itu sebelumnya, namun mungkin Anda tidak mengenalnya karena ia tidak pernah merasakan sepak bola Eropa.
Ya, dia adalah Mohamed Aboutrika.
Pemain kelahiran 7 November 1978 ini dahulu bermain untuk timnas Mesir dan Al Ahly SC. Ia membawa Mesir menjuarai 2 seri Piala Afrika, juga memenangkan 7 gelar liga dan 5 gelar Liga Champions Afrika untuk Al Ahly. Prestasi individunya juga tak kalah mentereng. Ia terpilih sebagai pemain terbaik Afrika sebanyak 4 kali.
Ia tidak hanya memiliki prestasi mentereng. Lebih jauh, ia dikenal memiliki akhlak mulia yang membuat namanya disanjung-sanjung di seluruh negara Arab. Bahkan, Palestina menjadikan namanya sebagai nama salah satu stadion mereka.
Namun, semuanya berubah ketika tragedi Rabia Al Adawiya mencuat. Aboutrika menyatakan sikapnya, menentang kejadian ini dengan mengungkapkannya di media sosial.
Pemerintah Mesir tidak tinggal diam. Asetnya dibekukan, dan ia dimasukkan dalam daftar teroris. Aboutrika kemudian hingga saat ini hidup di Qatar seperti seorang buronan.
Aboutrika, yang dahulu adalah kebanggaan seluruh masyarakat Mesir, kini menjadi musuh besar bagi sebagian orang–terutama mereka yang bekerja di media. Tak kurang namanya dihina-hina, bahkan disandingkan dengan sampah.
Maka, lihatlah bagaimana mengungkapkan pendapat bisa menjadi bumerang bagi seseorang yang amat dicintai di Mesir!
Hal yang nyaris sama juga dialami Mo Salah. Pemerintah Mesir melalui federasi sepak bolanya, mempromosikan timnas Mesir melalui gambar di pesawat, yang tentu saja di gambar tersebut ada Salah. Sayangnya, ketika itu, Federasi Sepak Bola Mesir sedang bekerja sama dengan WE, salah satu operator telekomunikasi Mesir, sedangkan Salah terlibat kerja sama dengan Vodafone, pesaing WE. Di sinilah masalahnya dimulai.
Vodafone kemudian melancarkan protes kepada Federasi Sepak Bola Mesir dan Mo Salah, kemudian meminta sejumlah uang sebagai denda. Mo Salah kemudian mengungkapkan kekecewaannya kepada EFA (Federasi Sepak Bola Mesir) melalui media sosial twitter. Ia mencuit, “Sayang sekali, mereka memperlakukanku dengan buruk. Padahal aku berharap mereka bisa memperlakukanku lebih baik.”
Kemudian, mengetahui apa yang terjadi pada Salah, warganet memulai kampanye dengan tagar #IStandWithSalah, yang sempat bertengger di puncak trending topic dunia. Akhirnya, setelah didesak, pemerintah memohon maaf kepada Salah atas apa yang mereka lakukan.
Salah terlibat masalah dengan pemerintah karena iklan. Dan Aboutrika mengalaminya karena hal yang lebih besar dari sekadar iklan. Namun, apa yang dialami Aboutrika bisa jadi dialami Salah jika ia terus-menerus vokal. Kedua orang ini bisa menjadi bukti betapa berbahanyanya menjadi orang yang dicintai di Mesir!
Sebuah pertanyaan menunggu untuk dijawab. Ketika Salah akan membawa timnas Mesir ke Piala Dunia–dan kecintaan dunia kepada Salah berlanjut, maka akan ke mana Aboutrika nantinya?
(terinspirasi dari video “TRT World” yang berjudul “How Dangerous is to be Loved in Egypt”)