Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh : Miqdar Qur’any
Semua agama tidak mengajarkan terorisme dan pembunuhan baik dari lingkup lokal maupun internasional. Kita mengecam apa yang dilakukan teroris di Mako Brimob dan Surabaya sebagaimana kita pun mengecam penjajah Israel di Palestina.
Islam telah banyak memberikan teladan dalam menghadapi masalah ini. Dalam surat Al Maidah ayat 32 saja dijelaskan bahwa bagi manusia yang membunuh seorang manusia seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
Di dalam Shohih Bukhori -yang disebut-sebut sebagai kitab paling penting setelah Al Qur’an- pun dijelaskan bahwa salah satu tolak ukur keimanan seorang muslim kepada Robb-nya adalah dengan memuliakan tetangga. Maka bagaimana mungkin dia akan melancarkan aksi biadab jika memuliakan tetangga saja merupakan bagian yang penting dalam aqidah? Islam adalah agama damai yang mengutuk keras terorisme. Para salafus sholih pun telah memberikan contoh nyata tentang hal ini.
Zaman Umar bin Khattab dikenal dengan zaman Al Futuhat al Islamiyah. Banyak wilayah-wilayah baru yang berhasil dikuasai oleh ummat Islam pada saat itu baik wilayah yang dikuasai oleh Persia maupun Romawi. Sampailah kemudian Al Faruq berhasil menaklukan kota Yerusalem yang saat itu dikuasai oleh Kristen ortodoks. Istimewanya, dalam peristiwa ini tak ada satu pun darah menetes hasil euforia kemenangan atau nafsu yang ingin disalurkan. Bahkan kemudian beliau sama sekali tidak menghancurkan gereja-gereja dan malah membiarkan mereka untuk tenang dalam beribadah. Agama Islam indah, bukan?
Contoh berikutnya datang dari ulama besar kita, Hasan Al Bashri. Suatu ketika beliau hidup bertetangga dengan seorang Nasrani yang tinggal di atas rumahnya. Di dalam kamar beliau selalu disediakan ember kecil penampung tetesan air dari atap kamarnya. Hal ini disebabkan saluran air di kamar mandi orang Nasrani tersebut rusak yang pada akhirnya air kencing dan kotoran merembes ke atap rumah sang imam. Akan tetapi beliau tetap diam dan rutin mengganti ember tersebut ketika sudah penuh.
Pada suatu hari Imam Hasan Al Bashri jatuh sakit. Sang tetangga Nasrani ini pun menjenguk dan datang ke rumahnya. Sesampainya di kamar sang Imam, beliau terkejut bukan kepalang terhadap realita yang ada. Orang Nasrani ini pun bertanya dengan gurat wajah penuh penyesalan, “Imam, sejak kapan engkau bersabar dengan semua ini?” Beliau pun menjawab, “20 tahun yang lalu.”
Ketika ditanya alasan beliau, beliau pun menjawab bahwa itu semata-mata beliau lakukan karena dalam Islam memuliakan tetangga itu wajib apa pun agamanya. Maka jika kerukunan dan ketenteraman sudah dipupuk dengan matang, mana mungkin akan terpikir untuk melakukan tindakan menakutkan?
Teroris berkedok agama itu memunculkan banyak analisa. Bisa jadi karena keterbelakangan akal dalam beragama. Bisa jadi karena panasnya kontestasi politik pada tahun berikutnya. Dan bisa jadi bisa jadi lainnya. Kita hanya bisa menghukumi yang dzohir serta menyerahkan kepada Allah segala yang ada di dalam hati. Yang pasti Islam dan semua agama di dunia menolak dengan keras aksi terorisme siapa pun pelakunya dan apa pun motifnya. Turut berduka cita kepada seluruh saudara yang menjadi korban aksi biadab di rumah ibadah. Semoga Indonesia segera diberikan kestabilan, keamanan, dan ketenteraman.