Jumpa Penulis (2): Kiat Menjaga Semangat Menulis

A. Sesi Materi

Pertama kita perlu mengetahui bahwa menulis itu ada dua macam berdasar serius atau tidak seriusnya, seperti kata mas Zudi redaksi ProU Media. Kalau serius jadinya buku. Kalau ngga serius ya liat aja yg di caption medsos para asatidz (Ngga serius aja sekeren itu gaan 😂)

Tapi memang benar. Teman-teman silahkan cari perbedaannya. Yang jadi buku adalah hasil akumulasi antara data akurat, opini, susunan yang tegas, dalil, serta adawaat yang diperlukan dalam menulis buku. Sedangkan tulisan yang di-share dan jadi caption. Itu relatif adalah hasil renungan atau kontemplasi.

Mana yang penting?

Semuanya penting.

Bahkan, kadangkala tulisan sambil lewat itu ternyata adalah inspirasi untuk menulis yang serius. Kata pak Ahmad Setiyaji wartawan senior Pikiran Rakyat, “Itu namanya ilham.”

Nah, salah satu cara untuk tetap semangat menulis adalah biarkan pikiran kita bebas dan jangan paksakan untuk terus mood. Tapi sekali ada ‘lintasan pikiran’, itu harganya mahal. Mahal!

Makanya persenjatai diri dengan note kecil dan pena di segala kondisi. “Sebab ilham itu mahal, ikat dia dengan catatan”, imbuh pak Ahmad di simpulan kisahnya.

Kedua, lakukan hal-hal yang menunjang kita untuk mendapatkan inspirasi. Berjalan-jalan, bertemu orang, merenungkan sesuatu.

Penulis itu orang yang paling susah pusing. Sebab apa pun yang ada di kepalanya, ia bisa menuangkannya. Namun di saat yang sama ia bisa jadi orang paling pusing, karena selanjutnya kepekaannya akan terasah dan itu membuatnya gelisah.

“Aku tak tahu apa yang bisa membuat orang menjadi penulis. Tapi yang pasti aku tahu; kesedihan”, kata seorang filsuf.

Ketiga, banyak membaca. Seorang penulis tanpa bacaan itu aib. Karena “nothing of us is original. We are the combined effort and book of everyone we’ve ever known”. Banyak membaca punya banyak manfaat. Berikut tips bagaimana cara membaca para tokoh besar.

Tips Membaca Para Tokoh Besar

1. Pergilah ke tempat yang nyaman untukmu, dan jangan terlalu ramai. Silent-kan smartphone kamu dan juga gadget lainnya

2. Lengkapi perangkat membacamu dengan note kecil yang akan membantumu untuk menulis respon kamu terhadap apa yang baru saja kamu baca.

3. Jadikan membaca sebagai jadwal khususmu, “As something you make time for.”

4. Pilihlah buku yang dicetak, walaupun itu adalah dari e-book sekalipun. Sebab akan menjaga matamu dan menambah kenyamanan, plus kamu akan ingat karena posisi paragraf dan halaman akan masuk ke alam bawah sadarmu.

5. Dedikasikan 30-45 menit sehari untuk melakukannya. Jangan biasakan untuk menunda atau meliburkan diri.

Lalu manfaat yang akan kita dapat,

Buah Membaca

1. Memperdalam empatimu dalam membaca seakan menerima langsung dari penulisnya, dan juga mendatangkan perhatian lebih.

2. Konsentrasi kita bisa meningkat tajam.

3. Jika biasanya kamu hanya menerima informasi general dari yang kamu baca, dengan cara di atas kamu bisa mengetahui isi buku secara komplek dan mendetail.

4. Kemampuanmu untuk mendengarkan juga akan meningkat.

5. Memperbanyak kosakata.

6. Mengurangi stress

 

B. Sesi Tanya Jawab

Penanya 1 : Muhammad Alfath

Q : Banyak orang menyalahkan writer’s block atas ketidakproduktifannya dalam menulis, padahal emang dia sebenernya males. Nah itu gimana ya bedain mana yang emang writer’s block, dan mana yang emang males aja gitu?

A : Saya juga ngga bisa bedain sih. Fisiknya sama sama keliatan lagi tiduran sambil liat cicak.

Tapi writer’s block itu diemnya sambil mikir. Entah mikir apa juga nggak bisa didefinisikan. Nah lo bingung kan? Pernah ngga antum pusing karena mikir sesuatu, tapi ngga tau apa yang dipikirin? Selamat. Itu namanya cikal bakal inspirasi lagi mau lewat bentar lagi.

Kalo males mah sambil males sambil kosong aja pikirannya. Sebab seorang penulis sejati, apalagi dai penulis, nggak akan malas. Ia hanya butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya. Namun ahsan, walau susah, paksa diri nulis tiap hari. Separagraf paling minimal.

Q : Seberapa penting ngedraf dalam menulis?

A : kaidah zaman now; banyak banyak nulis, apapun nanti jadinya. Sering seringlah lihat ulang, lalu editlah setiap kali ada ilham baru. Itu mengindikasikan betapa pentingnya ngedraft.

Penanya 2 : Farizan Abid

Q : Ada nggak hal-hal khusus yang membuat kita menjadi hilang keistiqomahan dalam membaca dan menulis?

A : mungkin alasan utama seseorang ngga mau baca dan nulis adalah; dia belum tahu hidup itu untuk apa.

Semakin paham orang akan hidup, dia akan banyak bertanya dan mencari jawaban. Makin sering ada tanda tanya, makin sering mambaca. Semakin sering ia menemukan hasil renungan, ia akan semakin tergugah untuk tidak menikmatinya sendiri. Jika sampai di titik itulah, seseorang tidak akan bosan menulis. Selamanya.

Q : Kalo emang ada, ada indikasinya nggak kalo kita itu mulai masuk ke fase “tidak istiqomah”

A : Saya belum percaya ada orang yang hilang istiqomah dalam menulis. Yang saya temukan adalah orang yang kehilangan nalurinya untuk merenung dan berpikir

Penanya 3 : Asqina H Najah

Q : Bagaimana kalau sudah lama nulis tapi ternyata hasilnya masih hanya seputar kontemplasi saja?

A : sudah sangat baik. Berarti pikiran kita sudah terbiasa berkontemplasi. Boleh saya saran dong ya 😁 makin cantik tulisan itu adalah yang berisi kontemplasi berbasis data, dalil, perumpamaan, perbandingan dan mendekatkannya lebih dekat lagi dengan realitas. Itu sangat baik.

Q : Menulis apa saja yg hadir di benak saat membaca; itu dilakukan seketika itu (memotong proses membaca), atau menunggu di akhir sesi baca?

A : jangan biarkan pergi, langsung saja tulis. Siapa tau ketika terpotong bacaan, dapat inspirasi. Ketika melanjutkan bacaan, inspirasi bertambah. Padahal bacaannya sama tapi dapat inspirasi berbeda. Bisa? Sering terjadi.

Q : Gimana cara belajar KBBI?

A : Saya ngga tau bagaimana yang lain. Kalau saya, sediakan buku sastra atau buku dengan bahsa berat. Garis bawahi kata-kata itu dan cari di kbbi. Amati kalimat sebelum dan sesudah kata rumit itu. Sebab kita suatu saat akan memakainya untuk tulisan kita.

Q : Gimana caranya menulis sedangkan hal yang ide yang berputar di kepala sangatlah banyak-sampai tak sanggup memisahkan- dan endingnya tidak jadi menulis sama sekali?

A : Perlu buku tulis dan sebuah pulpen. Catat dulu. Bentangkan dulu di pena di sebuah kertas. Kalau di pikiran saja akan susah memilahnya. Karena itu belum nyata di bentangan tinta.

Q : Gimana urutan baca buku sejarah?

A : Nggak tau cara mereka yang lain. Kalau bagi saya, yang penting dari sejarah adalah biografi manusia dan apa yang ia hasilkan. Maka fokus pada manusianya, masalah tanggal dan peristiwa itu belakangan.

Saya sarankan dalami sirah Rasulullah, lalu 10 sahabat dijamin masuk surga, lalu para tokoh intelektual, dan dilanjut para sultan. (Tunggu bukunya Jihad Turbani diterjemahkan ke bahasa Indonesia)

Penanya 4:  Ahmad Dzikri

Q : Bagaimana cara untuk meningkatkan minat baca dari seseorang yang awalnya kurang suka membaca?

A : Kita mesti membuat list; apa saja yang membuat kita terhibur. Film, komik, browsing dan lain sebagainya.

Setelah di list, itu berarti kita sudah tau hal-hal apa yang membuat kita banyak menghabiskan waktu. Caranya setelah itu adalah; buat apapun alasan yang membuatmu jauh dari hal-hal di list itu. Akhirnya kamu akan terluangkan untuk membaca. Dan semakin lama membaca biasanya semakin ketagihan.

Jujur saya ga suka baca dulunya. Karena masuk pondok dan ga ada tv sama laptop, baca jadi hiburan satu satunya. And finally, i love it 😁

Q : Tadi antum menyampaikan kalau tulisan itu keluar ketika adanya inspirasi, nah kalau orang itu lebih mudah Mengungkapkan tulisannya lewat inspirasi tapi dia sendiri kurang dalam minat baca, apa pendapat antum dengan orang ini?

A : Tidak apa. Ini juga baik. Menulis itu datang dari dua sumber utama; apa yang dia baca dan apa yang dia renungkan. Berarti tinggal dipoles lagi. Sedikit demi sedikit. InsyaAllah pasti akan melengkap dan menyempurna.

The important thing is; keep write. Akan datang satu masa ketika inspirasimu di otak itu, akan butuh sesuatu di buku bacaan agar menggenapkan rasa ingin tahumu 😁

Penanya 5 : Miqdar Qur’aniy

Q : Bagaimana cara menyampaikan isi buku sejarah yang padat dengan nama, tanggal,  dll?

A : Sampaikan dengan melihat buku sejarahnya mas, jangan ngelindur. Itu kuncinya 😂 (canda)

Karena memang perkara tanggal, tempat dan peristiwa bukan masalah yang dikira-kira. Jadi itulah mengapa seorang penulis mesti pandai-pandai memiliki bank data di buku utamanya. Sebutlah ia teman setiamu yang kita bawa kemana-mana.

Q : Bagaimana pendapat antum tentang orang yang lebih suka membaca status sosmed orang yang berilmu daripada buku?

A : Untuk mengalahkan hoax dan kedangkalan ilmu, seseorang harus terbiasa berpindah dari menulis/membaca 500 karakter menuju 50 ribu karakter (Unknown)

Itu bagus mas. Tapi kan sayang, kalau bisa buat buku kenapa harus di status medsos saja. Lebih ampuh lagi, dua duanya. Medsos iya, buat buku iya.

Bedanya apa? Kalau di medsos efeknya jangka pendek dan dia hanya relatif kontemplasi. Kalau buku, itu fungsi utamanya adalah “installing new worldview” membangun ulang sudut pandang pembaca.

Q : Bagaimana pendapat antum tentang aktivis yang karena kesibukannya sangat padat,  kemudian tidak istiqomah lagi dalam menulis?

A : Lil asaf. Sayang. Sesibuk-sibuknya aktivis, justru dengan menulis ia akan menemukan bahwa hidupnya memiliki rehat badan dan rehat jiwa. Rehat badan dengan tidur, rehat jiwa dengan menulis. Beneran 😁

Q : Kapan waktu terbaik untuk membaca dan menulis?

A : Sediakan waktu khusus. Itu aja kuncinya mas. Kalo saya pagi habis subuh sama sebelum tidur.

Jangan berhenti untuk terus belajar; sebab kita tidak tahu ilmu mana yang benar-benar akan kita gunakan untuk berkhidmat.

Jangan berhenti berdoa; sebab kita tidak tahu doa mana yang diijabah, kapan dia dan saat apa disampaikan. Bisajadi sukses kita kini adalah lantunan doa kita bertahun lalu.

Jangan berhenti meminta doa; kita juga tidak tahu doa siapa yang dikabul, milik siapa yang melesat ke langit lebih cepat. Bisajadi doa anak-anak mungil yang polos, atau doa bapak penjual sayur yang keliling setiap hari di perumahan.

Jangan berhenti membaca; kita tidak tahu mana buku yang akan menjadi momentum hentakan kesadaran kita. Jangan-jangan buku lawas di pojok perpus akan jadi ledakan inspirasi selanjutnya.

Jangan juga berhenti menulis; lagi-lagi karena kita tidak tahu, tulisan kita yang mana yang jadi bagian dari momentum seseorang, jadi penggugah semangatnya, jadi pelebur laranya. Sebab penghargaan tertinggi seorang penulis adalah bila ketikannya bisa mengubah jalan hidup pembacanya.

 

 

2 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *