Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Oleh: Miqdar Qur’any (Kadept. Humas 17/18)
Merah putih, saksi kemerdekaan bangsa ini. Ramai-ramai orang memujanya. Tak pernah lupa untuk mengibarkannya. Di setiap 17 Agustus, hari bersejarah tak terlupakan. Hari yang menjadi puncak berbagai drama terbentuknya negara yang kemudian dinamai dengan Indonesia.
Ketika setiap daerah mengumumkan wajibnya mengibarkan bendera, dan setiap KK langsung menyambutnya dengan gegap gempita. Apa ada yang salah? Sama sekali tidak. Ini merupakan penghormatan bagi para syuhada’ tercinta.
Tapi, mungkin ada hal yang kita sering lupa. Suatu hal yang sebenarnya merupakan esensi dari ini semua. Sebuah langkah untuk tetap mempertahankan bangsa ini, negara ini, bumi pertiwi. Para santri dan ulama telah memberikan contoh konkret tentang hal ini.
Merekalah tentara Hizbullah. Organisasi pemuda santri pejuang mempertahankan kemerdekaan. Yang diusulkan berdirinya oleh Gus Wahid Hasyim. Yang diketuai pertama oleh Syaifuddin Zuhri. Terkumpullah 50.000 pasukan berani mati membela NKRI gabungan para kyai dan santri. Berdirilah Hizbullah di Jawa Barat dengan 2 divisi. Di Jawa Timur dipimpin oleh K.H. Wahib Wahab. Di Yogyakarta dikomandoi oleh K.H. Badawi. Di Jawa Tengah, tepatnya divisi Hizbullah Kedu, terbentuk di bawah 5 resimen. Dan gelora perjuangan itu membara dari berbagai daerah di tanah Jawa.
Pasukan pun diseleksi. Pasukan yang tersusun dari jantung-jantung setiap pondok pesantren di negeri ini. Saking hebatnya, saking beraninya. Dengan mengacungkan bambu runcing, mobil kompeni dan senapan laras panjang tiada berarti. Sampai-sampai pemimpin Hizbullah kewalahan. Bagaimana tidak? Pada kemudian hari seluruh pondok mendirikan Hizbullah dan tiap kyai memiliki pasukan Sabilullah. Dan tentunya, semuanya menginginkan mati syahid demi tegaknya Negara Khatulistiwa!
Penghujung September, kapal perang sekutu pun berbondong-bondong mendatangi tanah Jawa. Bersiap melakukan penyerangan bengis tak terlupa. Berniat untuk melanggengkan penjajahan dalam jangka waktu tak terhingga. Ulama warotsatul anbiya’ tak tinggal diam, 21 Oktober 1945. Ratusan Ulama berdatangan di kota pahlawan, Surabaya. Bercengkrama, berunding, berdiskusi. Tepat pada 22 Oktober 1945, pidato Hadrotusy Syaikh Hasyim Asy’ari membakar jiwa para hadirin. Terciptalah resolusi jihad demi tegaknya negara yang hebat. Fatwa bersejarah yang intinya “Wajibnya laki-laki dan perempuan berjihad fii Sabilillah mempertahankan agama dan negara!”.
Jika resolusi jihad telah merealisasikan langkah untuk mempertahankan negara secara de facto, maka lain halnya dengan perjuangan Haji Agus Salim, A.R. Baswedan, Mr. Nazir Pamuntjak, H.M Rasjidi, dan R.H Abdul Kadir. Kelima orang ini tak kenal takut berangkat ke negeri Arab. Negeri Cleopatra tepatnya. Ini semua berawal dari tingginya rasa ukhuwah antar umat Islam. Abdurrohman Azzam Pasya selaku Sekjen Liga Arab saat itu, memperhatikan peta dunia. Mencari-cari negeri yang katanya sudah merdeka. Indonesia. Tapi sayang, negara dengan mayoritas Islam terbanyak itu belum ditemukannya. Dia bingung tak kepalang, bagaimana bisa? Sedangkan Mufti Palestina, Syaikh Amin Al Husaini telah mengucapkan selamat kepada Indonesia. Bahkan Syaikh M. Ali Tahir mengumumkan bahwa dirinya siap menggelontorkan seluruh hartanya demi kemerdekaan bumi Pertiwi.
Di sanalah M. Abdul Mun’im memberikan kabar gembira. Dukungan dari saudara seiman. Bantuan untuk melanggengkan asa kemerdekaan. Tapi itu tak mudah. Nyawa pun menjadi taruhannya. Pintu depan dikuasai kompeni. Pintu belakang pun dilewati dengan penuh hati-hati. Untung, datanglah seseorang bernama K’tut Tantri yang memiliki kesamaan visi. Maka dengan segala tipu daya muslihat. Perjalanan yang mendebarkan pun selesai. Sang utusan telah sampai!
Setelah melewati berbagai tantangan, Sang utusan akhirnya dapat menyampaikan pidato bentuk dukungan dan bantuan dari negara-negara Islam. Setelah berbagai proses telah dilewati. Petualangan kedua pun berlanjut. Lima ulama besar, Haji Agus Salim, A.R. Baswedan, Mr. Nazir Pamuntjak, H.M Rasjidi, dan R.H Abdul Kadir melakukan kunjungan ke negeri 1001 menara. Melanjutkan pembicaraan penting demi langgengnya kemerdekaan Indonesia. Berbagai bentuk diplomasi pun dipraktekkan. Selain menghadiri pertemuan-pertemuan. Para diplomat ini pun “keluyuran”. Berbaur dengan media massa setempat menginformasikan kemerdekaan bumi pertiwi.
Babak penentuan pun diadakan. Kelima utusan itu menunggu dengan perasaan yang tak menentu. Sekelebat, keluarlah duta besar Belanda. Tampaknya mereka masih belum ridho dengan kemerdekaan kita. Mereka belum puas 350 tahun menjajah tatanan kehidupan bangsa. Akan tetapi muka tak berdosa itu sedang merah padam. PM Mesir pun menolak mentah-mentah intervensi Belanda meskipun hubungan ekonomi kedua negara akan binasa.
Tepat di depan Haji Agus Salim, dokumen tentang pengakuan kedaulatan secara de jure itu terpampang. Terharu, tak bisa berkata-kata. Lima pasal tentang perjanjian persahabatan dan perdagangan itu pun dibaca dengan teliti. Indonesia diakui!
Inilah cara para kyai, santri, dan ulama’ mencintai Indonesia. Mereka tidak ingin berleha-leha dalam peringatan simbolik pengibaran bendera pada 17 Agustus. Tapi lebih dari itu, kecintaan mereka untuk negeri tiada bertepi. Mereka siap turun ke Medan perang, mengaplikasikan isi kitab kuning, merealisasikan makna jihad yang sebenarnya. Inilah semangat jihad yang sesungguhnya. Kalau bukan karena semangat bertubi-tubi dan takbir yang selalu bergema, maka tak tahu jadi apa negeri ini waktu itu.
Sudah sejauh manakah kontribusi kita untuk negeri? Hari ini bambu runcing itu telah berubah. Berubah menjadi pena-pena media massa yang siap menggoreskan keadilan dan kebenaran. Tantangan? Tentu ada. Dipenjara, dituduh makar, dan lain sebagainya. Jika memang para pejabat di istana negara atau gedung DPR sana menggelontorkan puluhan miliar untuk kegiatan simbolik ini, apa kata dunia?
Memang benar jika kita harus menghargai jasa pahlawan. Tapi cara ini melukai bentuk kemerdekaan yang lainnya. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari penyelewengan HAM, merdeka dari pergeseran moral, dan kemerdekaan-kemerdekaan yang seharusnya lebih kita perhatikan daripada acara seremonial belaka. Apa kata dunia? Yang memberi hadiah para menteri gendut yang bingung bagaimana cara menghabiskan uang yang tidak habis 7 turunan. Inikah yang dikatakan merdeka?
Benar memang jika negara kita sudah merdeka. Benar memang jika negara kita bebas dari penjajah. Benar memang jika negara kita sudah terdaftar di perserikatan bangsa-bangsa. Secara de facto ataupun de jure, Indonesia sudah terakui dan terlegitimasi. Tapi kau biarkan asing menjajah tambang dan kekayaan alam. Kau biarkan aseng menjajah pulau-pulau dan transportasimu. Kau biarkan hedonisme menggerogoti pemuda-pemudamu. Kau biarkan liberalisme dan sekularisme meracuni pikiranmu.
Maka mari kita pikirkan lagi. Sudah sejauh mana ketulusan kita untuk memaknai kemerdekaan bangsa? Sudah sejauh mana ketulusan hormat kita pada sang saka merah putih? Sudah sejauh mana keihklasan kita untuk mengabdi kepada negeri?
Terus pertahankan Kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan sampai Sang Maha Kuasa berkata, “Sudah waktunya pulang!”