Pembela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Oleh: Asqinajah (Staff Dept. Kemuslimahan Alfatih 17/18)

Setiap disebut nama Thalhah, pastilah nama sahabat yang satu ini tersebut pula. Sebagaimana Thalhah, ia seorang dari generasi awal pemeluk Islam, tergolong sepuluh orang yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah berupa surga, dan merupakan satu dari enam orang yang diberi amanah oleh Khalifah Umar bin Khaththab untuk memilih khalifah pengganti sepeninggalnya.  Ialah Zubair bin Awwam  bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab.

Rasulullah bersabda perihal dua sahabat yang mulia ini: “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di dalam surga,”

Zubair bin Awwam menyesap manisnya Islam saat usianya lima belas tahun, dan setelah keislamnnya, tiadalah yang dipikirkan kecuali melakukan apa pun demi membela Islam. Hingga, sekalipun ia termasuk dari kalangan bangsawan, siksa kaumnya pun tak luput kepadanya. Pamannya sendiri pernah menyekap dalam suatu kurungan, dan memenuhi kurungan tersebut dengan asap yang menyesakkan sembari memaksanya untuk keluar dari Islam. Dengan tegas pun Zubair muda menjawab: “Tidak, demi Allah, aku tak akan kembali kepada kekafiran selama-lamanya!”

Zubair dalah sahabat yang begitu mengejar syahid, diikutinya berbagai perang sedangkan ia selalu berada di garis terdepan, tak peduli luka apa pun yang diterimanya. Salah seorang sahabat Zubair bin Awwam menuturkan:

“Aku pernah menemani Zubair ibnul Awwam pada sebagian perjalanan dan aku melihat tubuhnya. Maka aku saksikan banyak sekali bekas luka goresan pedang, sedang di dadanya terdapat seperti mata air yang dalam, menunjukkan luka lembing dan anak panah. Maka kataku kepadanya, ‘Demi Allah, telah kusaksikan pada tubuhmu apa yang belum pernah kulihat pada orang lain sedikit pun,’ Mendengar itu Zubair menjawab: ‘Demi Allah, semua luka itu kudapat bersama Rasulullah pada peperangan di jalan Allah,”

Ialah Zubair, yang bersama Abu Bakar memimpin tujuh puluh pasukan kaum muslimin untuk menyusul pasukan kaum musyrikin yang telah menang dari perang Uhud agar mereka menyangka bahwa kaum muslimin masih punya kekuatan yang kuat, dan segera kembali ke Mekkah.

Ialah Zubair, yang menjadi pemimpin suatu pasukan pada perang Yarmuk. Saat melihat pasukannya belum mengumpulkan keberanian dengan sempurna, ia sudah maju terlebih dahulu, membelah pasukan musuh seraya memekikkan ‘Allahu Akbar’.

Ialah Zubair, yang saat kaum muslimin melakukan pengepungan terhadap Bani Quraidhah, ia dan Ali bin Abi Thalib pun diutus oleh Rasulullah untuk maju menuju benteng musuh, dan atas ijin Allah kemudian usaha mereka berdua, pintu-pintu benteng pun terbuka sehingga kaum muslimin dapat menyerbu masuk.

Ialah Zubair, sahabat yang Rasulullah berkata tentangnya:

“Setiap nabi mempunyai pembela, dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam,”

Ialah Zubair, sahabat yang berbudi tinggi dan bersifat mulia, yang dibunuh saat sedang melaksanakan sholat. Berkatalah Ali bin Abi Thalib yang saat itu menjadi khalifah: “Sampaikan pada pembunuh putra Shafiyah itu (Zubair) bahwa telah disediakan baginya api neraka!”

(Sumber kisah utama: Khalid Muhammad Khalid, 1986, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah, Bandung: CV Diponegoro)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *