Vasektomi dalam Pandangan Islam: Saat Indonesia Membatasi, Palestina Melahirkan Harapan?

LENSA ALFATIH #3

Akhir-akhir ini, isu vasektomi ramai diperbincangkan, mengutip berita yang dipublikasi oleh Tempo, pada bulan Mei lalu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengusulkan vasektomi atau KB permanen bagi pria sebagai syarat untuk menerima bansos. Hal ini kemudian menuai banyak kritik dari masyarakat dan sempat menjadi topik perbincangan hangat di kanal sosial media.

Usulan tersebut lantas menimbulkan tanda tanya, apakah syarat vasektomi bagi penerima bansos adalah upaya dalam menumpas keimskinan? Jika iya, apakah angka kelahiran memang menjadi pengaruh utama terhadap tingginya angka kemiskinan? Kami telah membahas isu ini pada bulan Mei lalu. Untuk pembahasan lebih lengkap, mari simak uraian berikut!

Menurut Dedi Mulyadi, tujuan utama dari pengadaan vasektomi sebagai syarat khusus bagi para penerima bantuan sosial adalah untuk mencegah kelahiran pada keluarga miskin. Melihat kondisi mereka yang diselimuti kelaparan di setiap harinya, tapi masih belum sadar untuk menekan kelahiran baru, dalam beberapa hal seringkali membuat jengkel masyarakat lain, mengingat membesarkan seorang anak tidak cukup hanya dengan sepiring-dua piring nasi.

Pernyataan tersebut seolah-olah menghadirkan sebuah fakta yang mengatakan bahwa sebab kemiskinan adalah tingginya angka kelahiran, namun benarkah demikian? Pada dasarnya, terdapat dua faktor utama penyebab kemiskinan: (1) terbatasnya lapangan pekerjaan, dan (2) rendahnya motivasi atau kemauan individu untuk keluar dari kondisi miskin. Mengacu pada dua hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa memberantas kemiskinan dengan menekan angka kelahiran di keluarga miskin bukanlah penyelesaian dari akar masalah, sehingga jika kemiskinan dirasa menjadi sebuah momok utama permasalahan, maka sejatinya statement tersebut hanya akan berputar-putar dan tidak kunjung menemukan solusi.

Namun, bagaimanapun kita perlu realistis pada sisi positif yang bisa kita ambil, kebijakan vasektomi bagi para penerima bansos ini bisa menjadi motivasi untuk mengangkat mental kemiskinan. Karena sebanyak apapun harta seseorang, kalau dia memiliki mental yang miskin, pasti pengelolaan uang tidak akan berjalan baik, dan pada akhirnya akan merosot juga menuju kemiskinan. Terlebih lagi survey menunjukkan minat vasektomi di Indonesia yang cukup rendah, hal ini akan memicu orang-orang untuk tidak menerima bansos dan memilih untuk mengusahakan kecukupan.

Mungkin, dalam hal ini kita—terutama ummat Islam— perlu sesekali menengok kepada penduduk Palestina, semangat dan daya juang mereka dalam kondisi yang lebih getir dari miskin tidak menjadikan mereka memilih pemutusan generasi atau penekanan angka kelahiran sebagai solusi utama. Justru dari merekalah terus menerus lahir perjuangan yang tak mengenal batas. Maka dari itu, menurut kami, vasektomi bukanlah cara terbaik untuk mengatasi kemiskinan.

Menjadi kaya itu penting, apalagi bagi kemajuan ummat dan bangsa. Tapi kaya harta bukanlah hal yang utama, karena Rasulullah SAW pun pernah merasakan kemiskinan. Kaya adalah hasil, sedangkan kita meyakini bahwa usaha tidak kalah penting. Selama kita berusaha semampu kita, diiringi do’a, dan dilengkapi tawakkal, genap sudah kewajiban kita menjauh dari kemiskinan. Sehingga amat tidak bijak jika kita menganggap bahwa anak adalah penyebab musibah, betapa hal ini tercermin dalam keimanan dan aqidah kita, bahwa Allah adalah Ar-Razzaaq, dan Allah telah menakar rezeki bagi setiap jiwa yang hidup. Allahu A’lam bisshowab.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *