TOLERANSI YANG BERPRINSIP

588795508d78f620f6a2a1a644df2106

Sebagai bangsa yang heterogen, Indonesia mempunyai keberagaman suku, budaya, ras, dan agama. Perbedaan inilah yang kerap kali memicu terjadinya konflik antar sesama anak bangsa. Bahkan, jika dulu konflik dipicu karena perbedaan agama, suku, dan ras, saat ini konflik bisa dipicu hanya karena perbedaan nonesensial seperti perbedaan tim sepakbola favorit atau perbedaan cara makan bubur; diaduk atau tidak diaduk.Toleransi hadir sebagai upaya preventif untuk mencegah terjadinya konflik, agar masyarakat bisa hidup berdampingan di tengah-tengah perbedaan. Narasi toleransi pun kembali dimainkan dan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” kembali digaungkan. Hanya saja, dalam penerapannya, terlebih yang bersangkut-paut dengan keyakinan seseorang, toleransi seringkali kebablasan, melewati batas-batas prinsipil suatu keyakinan, utamanya agama islam yang memiliki aturan ketat soal keyakinan. Karena itulah, seringkali umat islam yang dirugikan. Hal tersebut dikarenakan banyak yang tidak memahami makna, aturan, dan batasan toleransi dalam perspektif agama Islam. Sehingga pihak – pihak yang mengajak umat islam untuk bertoleransi kepada pemeluk agama lain, di sisi lain mengajak bertoleransi, di lain sisi intoleran terhadap keyakinan agama islam itu sendiri yang memiliki aturan yang ketat soal akidah. Sebagai contoh aturan penggunaan atribut natalan bagi pegawai muslim di pusat perbelanjaan misalnya. Dimana aturan tersebut banyak dikecam berbagai ormas islam karena yang demikian itu termasuk tasyabbuh yang dilarang dalam Islam. Dimana seharusnya perusahaan memberi kebijakan yang bijak untuk para pegawainya dengan memahami larangan tasyabbuh (menyerupai) ini. Melalui tulisan ini, penulis akan mencoba menjelaskan makna dan prinsip  toleransi serta penerapannya dalam Islam. Semoga bermanfaat.

Kisah Rasulullah dan Orang Kafir

            Pernah suatu ketika, iringan jenazah seorang yahudi lewat di hadapan Rasulullah dan Sahabat. Lantas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdiri sebagai bentuk penghormatan. Seorang sahabat pun memberi tahu bahwa itu adalah jenazah orang yahudi. Rasulullah pun berkata: “bukankah ia juga manusia?”.            Di lain kisah, diriwayatkan bahwa Rasulullah memiliki pembantu laki-laki dari kalangan yahudi. ٍٍٍSuatu ketika, sang pembantu pun sakit dan dirawat di rumahnya. Tatkala mengetahui kabar sang pembantu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seorang pemimpin negara dan sosok central di Madinah, lantas berkunjung ke rumah sang pembantu untuk menjenguknya. Sang pembantu yahudi pun akhirnya memeluk islam karena kemuliaan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya yang hanya seorang pembantu dan bahkan non muslim.            Kedua kisah diatas adalah teladan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana seharusnya kita sebagai seorang muslim memperlakukan non muslim. Pada kisah pertama, kita diajarkan menghormati sesama manusia, hidup maupun mati. Karna pada hakikatnya, apapun agamanya, kita dan mereka adalah makhluk ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Pada kisah kedua, selain mengajarkan untuk berakhlakul karimah kepada non muslim sekalipun, kita diajarkan bahwa kemuliaan akhlak seorang muslim adalah salah satu wasilah dakwah yang paling ampuh. Sehingga pepatah Arab mengatakan: “Lisanul Hal Ablag Min Lisanil Maqol”, yang berarti: Keteladanan melalui tindakan lebih jelas daripada kata-kata.Dari kedua kisah diatas kita bisa menarik 2 poin penting: pertama, bahwa alasan kita bertoleransi kepada non muslim adalah sebagai bentuk ukhuwah insaniyyah. Kedua, bahwa toleransi dengan menunjukkan akhlak yang baik kepada non muslim adalah salah satu wasilah dakwah.

         

Makna Toleransi

Toleransi dalam bahasa Arab disebut sebagai “At – Tasamuh”, yang dimaknai sebagai sikap permisif, murah hati, dan lemah lembut.Dalam bukunya, At-Tasamuh Fil Islam, Prof. Zaid bin Abdul Karim mendefinisikan tasamuh sebagai: “Kebajikan memperlakukan orang lain, menegakkan keadilan baginya, dan memaafkan kesalahan langkahnya dengan harapan agar ia diberi hidayah ke jalan yang benar”.Selanjutnya, beliau menyimpulkan bahwa Tasamuh dalam Islam memiliki karakteristik sebagai berikut:Pertama, bahwa tasamuh sebatas sikap dan perilaku.Kedua, bahwa Tasamuh harus berasaskan syariat Islam, tidak sampai mengarah pada hal-hal yang dapat membahayakan akidah seorang muslim.Ketiga, toleransi kepada non muslim bertujuan untuk mengikat hati setiap individu dan mengenalkannya pada Islam.

Prinsip Toleransi                        Hal ini didasarkan pada firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surah Al-Kafirun ayat enam yang artinya: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”.Suatu ketika, ketika masa awal dakwah islam di mekkah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi pembesar kafir Quraisy. Mereka datang menawarkan win-win solution untuk kaum kafir quraisy dan kaum muslimin sebagai upaya damai. Mereka meminta kaum muslimin untuk menyembah berhala-berhala yang mereka sembah selama satu tahun dan sebagai gantinya mereka akan menyembah Allah selama satu tahun. Kemudian, Allah turunkan surat Al-Kafirun sebagai jawaban atas kafir Quraisy, dimana umat islam diperintahkan untuk mengokohkan prinsip akidahnya dengan tidak mencampuradukkan agama dan membiarkan mereka dengan apa yang mereka sembah.Dari surat ini, kita bisa simpulkan bahwa dalam akidah dan ibadah, cara bertoleransi kepada non muslim bukan dengan mencampuri urusan agama mereka dan bukan dengan membenarkan akidah mereka dengan menyatakan bahwa semua agama sama-sama benar, tapi cukup dengan membiarkan mereka beribadah dan membiarkan mereka dengan apa yang mereka yakini. Inilah prinsip toleransi yang harus dipegang oleh seorang muslim.KH. Afifudin Dimyati pernah berkata: “Toleransi itu kita berikan tidak untuk suatu yang kita yakini benar. Kalau diyakini benar namanya sepakat. Jika toleransi diberikan kepada sesuatu yang kita yakini benar, artinya kita berada pada pihak yang salah “.

Pluralisme Sosiologis

            Pluralisme yang dibenarkan dalam islam adalah pluralisme sosiologis, menerima kenyataan hidup di tengah perbedaan sosial, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat Al-Hujurat ayat 13, yang artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Sedangkan pluralisme teologis atau menganggap bahwa semua agama sama – sama benar, tidak dapat dibenarkan sebab hal ini menyangkut keyakinan seorang Muslim. Wajib hukumnya bagi seorang muslim meyakini bahwa Islam lah satu-satunya agama yang benar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Ali Imran ayat 19 : “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam “.Karena itulah, toleransi dalam Islam dilakukan atas dasar ukhuwah insaniyyah. Bukan berdasarkan asumsi bahwa semua agama ini benar, sehingga membuat seseorang mencampuradukkan ajaran agamanya. Kita diperbolehkan berbaur, asal jangan melebur.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *