
Nuansa Dakwah – Anggaplah pemahaman kita sampai hari ini sudah dapat menjawab mengapa kita diciptakan Allah, apa misi khusus yang Allah berikan kepada manusia, mengapa ada tugas untuk berdakwah dan apa urgensinya. Sehingga tak perlu lagi kita membahas kewajiban amal dakwah yang dipanggulkan Allah pada pundak-pundak hamba-Nya.
Maka sejenak, mari kita hentikan langkah dan berbalik ke belakang, untuk melihat kembali langkah-langkah yang sudah terjejak. Untuk melihat seberapa jauh langkah kita, melihat lebih teliti seberapa banyak amal kita. Karena sudah seharusnya muhasabah selalu bersanding dengan amalan.
Di suatu waktu, Jabir bin Abdillah Al-Anshari ra berkata bahwa ada seorang lelaki yang bertanya pada Rasulullah SAW, “Jika aku shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Lalu aku tidak menambah selain amalan itu. Apakah aku masuk surga?” Beliau menjawab “Ya”. (H.R Muslim). Yang ditanyakan adalah seputar hal mendasar dan batas terendah yang bisa memasukkan ke dalam surga. Tentang shalat wajib saja, puasa yang wajib saja, mengupayakan yang halal, menjauhi yang haram dan tidak ada tambahan lagi.
Namun nyatanya sang penanya -Nu’man ibn Qauqal-, jauh berbeda dengan pertanyaan yang dilontarkan. Beliau dikenal sebagai seorang yang nyaris mewajibkan amalan sunnah bagi dirinya, selalu berburu berbagai keterangan tentang ibadah sang Nabi dan berkomitmen menjalankan berbagai keutamaan. Seakan ingin mengajarkan pada kita bahwa meski yang sekadarnya itu dapat memasukkan ke surga dengan ridha Allah, namun iman dalam hati merasa tidak puas jika hanya amal minimal yang dilakukan. Beliau wajibkan dirinya untuk beramal maksimal, meninggikan karya dalam hal-hal yang dicintai dan dipuji Allah SWT.
Pun demikian seharusnya dalam amal dakwah yang Allah jamin keutamaannya, Allah muliakan para pelaksananya dengan pahala berlipat ganda. Maka dengan meminjam semangat Nu’man ibn Qauqal, seyogyanya kita perbaiki amal dakwah kita yang masih sekadarnya itu, yang sekadar untuk menggugurkan kewajiban, yang sekadar untuk menjalankan amanah, yang sekadar untuk berlepas dari tuntutan.
Dakwah ini sangat membutuhkan sumbangsih kafa’ah yang optimal dari para pemikulnya, yang Allah jamin bahwa mereka adalah umat terbaik di dunia dengan memberikan setiap orang potensi yang berbeda. Terlebih dakwah saat ini memiliki ruang yang semakin lapang untuk berkiprah. Hari ini, bukan saatnya lagi kita berkiprah hanya berdasarkan faktor semangat (keikhlasan), tapi harus ditunjang oleh kafa’ah masing-masing.
Wahai ikhwahfillah yang potensinya tidak boleh disia-siakan …
Sempatkanlah untuk menengok mereka yang menjadikan tulisan sebagai karya dakwahnya, sempatkan juga untuk menengok mereka yang menjadikan seni budaya sebagai karya dakwahnya, jangan lupa juga untuk tengok mereka yang menjadikan kemampuannya berbicara sebagai karya dakwah. Jika ingin disebutkan satu per satu, tentu masih banyak lagi yang lainnya.
Lalu coba tengok ke masing-masing diri untuk melihat hal yang sama. Masih tak tergodakah kita untuk segera memberikan amalan terbaik sebagai masterpiece yang kita torehkan dalam buku catatan amal kelak karena hanya mengerjakan yang sekadarnya saja? (ktb/rohimah)
kunjungi media sosial Al-fatih :
| Al-fatihFacebook.com | Al-fatihInstagram.com | Al-fatihTwitter.com |
