Oleh Muhammad Ayasy Faiz
| Al-Qur’an adalah kitab suci bagi umat Islam, kitab suci terakhir yang merangkum kitab suci sebelumnya, berisi nilai sejarah pedoman hidup, diturunkan kepada nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril a.s, untuk kepentingan seluruh alam. Yang paling prinsip dan mutlak tentang pengertian Al-Qur’an adalah bahwa Al-Qur’an itu wahyu yang menjadi petunjuk dan pedoman bagi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Pendidikan kitab suci Al Qur’an dan mempelajarinya, mempunyai tujuan yang sangat penting. Diantaranya agar segala sesuatu yang dilakukan, selalu berdasarkan bimbingan Al-Qur’an sebagai sumber rujukan utama dalam kehidupan orang yang beriman. Karena itu, maka Al-Qur’an perlu dipelajari, dibaca, dipahami dan dihayati, serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. (Rusdiah, R. 2012).
Di Indonesia, beberapa lembaga telah mempunyai sebuah metode-metode dalam pembelajaran Al-Qur’an. Salah satunya adalah metode Iqra dan tilawati. Hasil penelitian diketahui bahwa penerapan metode membaca Al-Qur’an sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca Al-Qur’an santri. Hal ini dapat dilihat dari kurikulum yang telah diterapkan pada masing-masing TPA, telah memiliki kurikulum yang sesuai dengan metode. Pendekatan pembelajaran Al-Qur’an di TPA yang menerapkan metode Iqra, lebih berorientasi kepada pendekatan individual. Sedangkan TPA yang menerapkan metode tilawati, mengkombinasi antara keduanya, pendekatan individual dan klasikal. Langkah pembelajaran dari masing-masing metode memiliki langkah pembelajaran yang berbeda. Namun, tidak adanya perbedaan yang signifikan antara efektifitas metode Iqra dan metode Tilawati dengan kemampuan membaca Al-Qur’an.(Hamdani, M. 2018).
Ada lagi, metode kaisa. Metode kaisa adalah cara menghafal Al-Qur’an yang berorientasi pada hafalan dan pemahaman ayat Al-Qur’an beserta artinya, melalui gerakan atau kinestetik yang disesuaikan dengan arti setiap ayat, sehingga memberikan kemudahan santri untuk memahami dan mengingat setiap ayat al-Quran yang dibacakan. Tahapan metode kaisa: Guru memberi salam, menyiapkan atau memberi aba-aba kepada santri persiapan proses belajar mengajar, presensi kehadiran santri, membaca basmalah dan doa sebelum belajar, murojaah atau mengulang hafalan, tambah hafalan dengan membaca ayat per kata dengan gerakan/kinestetik, menjelaskan hukum tajwid beserta maknanya/tafsirnya, santri melafalkan ayat secara berulang-ulang sampai ayat tersebut dihafal, satu per satu santri melafalkan ayat sesuai hukum tajwidnya dan menerjemahkan per kata, guru menyimak hafalan ayat yang dihafalkan oleh masing-masing santri, guru membenarkan jika ada kesalahan dengan hukum tajwid beserta artinya, setelah ayat pertama dihafal, guru membimbing santri untuk lanjut ke ayat berikutnya dengan perlakuan yang sama, merefleksi pembelajaran dengan memberi game sambung ayat (yaitu hafalan surat-surat secara berkesinambungan), penutup pembelajaran dengan doa senandung Al-Qur’an dan doa kafaratul majelis secara berjamaah. (Ummah, S. S., & Wafi, A. 2017).
Al-Qur’an adalah pedoman hidup manusia yang mana setiap muslim dari kita sudah sepatutnya agar selalu berusaha mempelajari dan memahami kandungan dari isinya. Refleksi penulis ketika diberikan pengalaman sebagai guru Al-Qur’an di jenjang SMP, pada mulanya, mengajar bukanlah hanya sekedar menerima setoran dan hafalan dari santri itu belaka. Akan tetapi, memang harus ada ruhiyah dan jiwa yang berperan di dalamnya. Misalnya, ketika santri yang memiliki kemampuan hafalannya lemah daripada yang lainnya, tugas seorang guru kerap harus memberikan semangat pada jiwanya, bahwasanya memang kegiatan bersama Al-Qur’an itu membutuhkan keuletan dan daya juang yang tinggi. Guru juga harus serta memotivasi santrinya agar harapannya santri tersebut tidak merasa pesimis dan gugup. Banyaknya kesalahan yang dialami guru ketika mendapati santrinya tidak bisa, justru membuatnya semakin takut. Dengan komunikasi hati ke hati, maka yang dihasilkan dari kegiatan mengaji tersebut akan lebih mengena. Begitu pula dalam diri seorang guru harus memiliki sebuah mindset, bahwa yang ia lakukan adalah bentuk dari pengabdiannya kepada Allah SWT dan ketika melihat seorang yang susah atau nakal, yakinlah bahwa bisa jadi itulah yang mampu mengantarkannya menuju surga.
Pada akhirnya, ketika seorang murid dan guru memiliki sebuah keterikatan jiwa bahwa kegiatan yang mereka lakukan adalah sebuah misi agung, maka setiap perjalanan yang mereka tempuh dalam mempelajari Al-Qur’an dan menghafalnya, akan berjalan dengan penuh keberkahan dan nikmat atas izin Allah Swt. Salah satu kesuksesan seorang santri ketika santri tersebut sadar akan dirinya bahwa tak ada yang sia-sia dalam membersamai Al-Qur’an. Keberhasilan yang diperoleh memang tidak semua dalam waktu yang bersamaan, begitu halnya ketika di sebuah taman yang bunga-bunga bermekaran secara bersamaan, memiliki waktu tersendiri kapan mekar alias sukses.
Perkembangan pengajaran al quran akan terus dilestarikan dan dibudidaya melalui adanya diklat guru untuk merekrut sebagai guru. Keberadaan guru dan santri adalah sebuah keterikatan yang keduanya memang harus saling dibutuhkan keberadaannya. Tak heran, ketika sebuah TPA yang di dalamnya tak ada guru, maka akan bubar dan jika tak memiliki murid, maka akan senyap. Kesimpulannya, di Indonesia telah mempunyai sebuah metode-metode dalam pembelajaran Al-Qur’an sesuai dengan visi dan misi mereka, dengan hal itu, perlu adanya juga hal yang diperhatikan, yakni, pertama: daya juang murid mengalahkan segalanya. Kedua, guru memiliki ruhiyah dalam mengajar. Ketiga, terus dilestarikannya pengajar atau guru. Dengan tersusunnya sebuah metode dan dilengkapi adanya daya juang tinggi dan guru penuh kesabaran, kegiatan pengajaran Al-Qur’an di Indonesia atas izin Allah akan terus mencetak generasi yang diharapkan.
Wallahu A’lam Bisshawab
