Palestina Berjuang Melawan Senjata, Indonesia Berjuang Melawan Kebodohan

Lensa Al Fatih #1

18 Maret 2025 lalu, Israel kembali melanggar gencatan senjata secara sepihak, ratusan warga Palestina berguguran syahid dan luka-luka, sungguh membuat geram meskipun tidak lagi terlalu mengejutkan, mengingat tabiat bangsa mereka yang berkarakteristik senang melanggar perjanjian. Kejadian yang terus berulang ini seakan meminta kita untuk merefleksi dan memeriksa diri sendiri, sudah sejauh apa langkah perjuangan yang kita upayakan? Tidakkah ingin melihat saudara seiman di sana juga merasakan momentum Ramadan dengan utuh seperti  yang kita rasakan?

Pada fenomena yang lain, masih teringat jelas dalam ingatan kita, tabel Arah Kebijakan BPP Tahun 2026 yang menampilkan serangkaian program-program prioritas presiden yang belum lama dilantik pada 24 Oktober 2024 lalu. Pada tabel itu terpampang jelas bagan “Prioritas Pendukung” lalu termaktub di bawahnya dua hal; pendidikan dan kesehatan. Sementara bagan “Prioritas Utama” diisi oleh beberapa program seperti makan bergizi gratis, ketahanan pangan, ketahanan energi, dan lain lain.

Menyikapi dua isu tersebut, proses menelaah, membandingkan, mengukur, dan menukar posisi, berhasil melahirkan beragam sudut pandang pada forum diskusi bulanan kami. Pertama, tidak sulit membaca benang merah dan menelaah ketersambungan antara dua isu besar yang telah kami paparkan di paragraf sebelumnya, jika kita mau meluaskan pandang, tentu segala kegaduhan ini menuntun kita untuk kembali memaknai proses perjuangan, yang pada konteks lebih singkatnya, kita sama-sama berjuang untuk masa depan bangsa.

Kedua, pendidikan adalah harga mati jika dikesampingkan urgensitasnya. Hal ini tercermin dari keputusan presiden yang menempatkan program pendidikan pada prioritas pendukung, ditambah dana APBN yang dipotong besar-besaran untuk menyokong program prioritas utama. Sementara program prioritas utama sendiri masih perlu ditinjau ulang apakah pelaksanaannya substasial dan efektif? Mengingat penanganan kebodohan rakyat tidak bisa sembuh hanya dengan makan bergizi gratis. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, hasilnya tidak dituai dalam waktu singkat, tapi kebermanfaatannya lama dan abadi. Mengesampingkan pendidikan, sama dengan memelihara kebodohan, lalu apa yang bisa diharapkan jika sudah terjadi demikian?

Ketiga, menyadari bahwa kami adalah mahasiswa penggerak lembaga dakwah, sudah pasti kami tak punya opsi diam dan berpangku tangan. Berhadapan dengan dunia yang buta dan tuli padahal kebengisan dipertontonkan begitu nyata di Palestina, juga pendidikan yang tak dijunjung lagi urgensitasnya, maka kita perlu menempatkan diri di posisi tengah dalam menyikapi keduanya. Berjuang membebaskan Baitul Maqdis adalah kewajiban, sikap mengkritisi kebijakan adalah manifestasi cinta dan bakti, tidak perlu menimbang ulang mana yang lebih prioritas dan harus didahulukan; keduanya sama pentingnya.

Meski berita-berita bulan ini menghabiskan atensi kita, Ramadan hadir sebagai momentum kita agar mengarahkan ulang jalan di mana kita berpijak. Menjadi pribadi yang kritis, mau membaca, dan menggunakan ilmu sebagai senjata perjuangan, adalah bukti bahwa kita turut andil dan berupaya dalam sebuah proses perubahan, yang senantiasa kita harapkan kelak menjadi pemberat amal dan kita nanti momentum kemenangannya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *