Oleh: Rafif Kamal
Diantara daftar nama manusia yang paling dibenci umat muslim sedunia adalah Theodor Herzl. Bagaimana tidak, bapak Zionis Internasional ini berhasil menyihir jutaan otak manusia dan menggerakkan raga mereka untuk merampas tanah Palestina, mendirikan di atasnya negara Yahudi pertama di dunia, Israel.
Sejarah Singkat
Theodor lahir tahun 1860 di Budapest, Hungaria. Saat itu, populasi Yahudi di Budapest sangatlah tinggi. Theodor tumbuh besar menjadi seorang pemuda yang memiliki ketertarikan di dunia jurnalistik. Pada tahun 1892, Theodor mendapat tugas sebagai koresponden media Vienna Neue Freie Presse di Paris, Prancis.
Dalam menjalankan tugasnya di Paris, Theodor membuat laporan tentang kasus Alfred Dreyfus, seorang perwira Yahudi di militer Prancis. Dreyfus dituduh melakukan pengkhianatan oleh banyak pihak. Tuduhan itu semakin menjadi-jadi karena pada masa itu paham ‘Anti Semit’ sedang menjadi perbincangan hangat dunia. Anti Semit adalah suatu paham atau sikap permusuhan, prasangka, dan kebencian terhadap Yahudi.
Dari kasus Dreyfus dan menjamurnya paham Anti Semit, Theodor berpikir keras untuk menemukan solusi atas permasalahan ini.
Solusi yang Theodor temukan adalah :
Pendirian sebuah negara bagi kaum Yahudi, di daerah kosong atau yang dikosongkan.
Proposal Pembuatan Negara
Dalam menjelaskan tujuannya kepada khayalak, pada tahun 1896 Theodor menarasikan doktrinnya secara sistematis dalam buku yang berjudul “Der Jundenstaat” (Negara Yahudi). Narasi ini bagaikan sebuah proposal. Proposal yang ia ajukan untuk seluruh orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia tentang pendirian negara Yahudi.
Agar narasi berdirinya negara Yahudi dapat terkawal dan terlaksana dengan baik, pada tahun 1897 Theodor menyelenggarakan Kongres Internasional Zionis pertama di Basel, Swiss. Kongres ini dihadiri sekitar 200 Yahudi dari 70 negara di dunia. Theodor ditunjuk sebagai presiden organisasi Zionis Internasional, dan menempati posisi tersebut hingga ajal menjemputnya pada tahun 1904.
Dikutip dari The Diaries of Theodor Herz, tiga hari setelah kongres Theodor berkata :
“Kemungkinan setelah 5 tahun, atau pasti 50 tahun, akan ada negara Yahudi dan seluruh manusia akan menyaksikannya.”
Dan apakah yang terjadi 50 tahun kemudian?
50 Tahun Kemudian
Pada 4 Mei 1948, kaum Zionis berhasil memproklamasikan pendirian negara Israel, negara Yahudi pertama di dunia. Negara yang didirikan di atas tanah Palestina yang mereka rampas. Narasi Theodor yang digariskan 50 tahun lalu menjadi kenyataan. Walaupun raganya tak dapat menyaksikan pencapaian mimpinya, namun kekuatan narasi legendarisnya dapat merasuki pemikiran banyak orang. Boleh saja beliau mati pada tahun 1904, namun matinya Theodor bukan menjadi pertanda akan matinya gerakan Zionisme itu sendiri. Cita-cita pendirian negara Yahudi tetap berjalan. Theodor dapat membuktikan perkataannya ke dunia Internasional bahwa kaum Yahudi yang tertindas saat itu dapat mengendalikan dunia di masa mendatang.
Masih Tentang Narasi
Dari kisah Theodor saya belajar bahwa kekuatan narasi dapat mendongkrak keadaan sebuah bangsa yang tertindas. Narasi yang disusun secara sistematis dan gamblang, dikawal dengan sistem organisasi yang rapi, dibakar oleh semangat berkemajuan, serta dialirkan dalam darah perjuangan dapat menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat. Orang yang hidup dalam semangat narasi perjuangan berbeda dengan orang yang tidak memiliki narasi dalam hidupnya. Sebagai umat Islam, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjadikan kejayaan umat Islam sebagai narasi perjuangan yang selalu berhembus dalam nafas kita.
Namun, jangan sampai tingginya narasi membuat seorang muslim lupa akan hal yang mendasar.
Seperti kisah seorang yang ingin menaklukan dunia, sampai masa tuanya ia tidak dapat merealisasikan mimpinya. Maka ia ubah mimpinya untuk mengubah negaranya. Selang beberapa tahun, ia gagal mengubah negaranya dan bermimpi untuk mengubah kotanya. Selang beberapa tahun, ia gagal mengubah kotanya dan bermimpi untuk mengubah desanya. Selang beberapa tahun, ia gagal mengubah desanya. Ia berkaca pada diri, mengapa ia selalu gagal dalam menjalankan misi perubahannya?
Pada akhirnya, ia menemukan sebuah jawaban : ‘Sebelum mengubah segala sesuatu, ia harus mengubah dirinya terlebih dahulu.’
Pertanyaan Terkahir
Sudahkah kau memiliki narasi perjuangan dalam hidupmu?
