Menghidupkan Malam (2)

Kali ini, mari sama-sama kita coba rangkai apa saja yang perlu disiapkan dan dikerjakan agar malam-malam terakhir Ramadhan tak sia-sia. 

Pertama, pastikan sholat keseharian kita tepat waktu. Subuh, zuhur, ashar, hingga maghrib sampai isya, upayakan kita tidak mengundur-ngundurnya. Semoga dengan begini, kita terbiasa menghargai waktu. Sigap menjawab panggilan Allah dan bahkan menunggu-nunggu kesempatan ‘ngobrol’ lagi sama Allah. Kelak bila malam tiba, rasa kantuk pasti menyerang. Sebesar apa upaya kita mengutamakan waktu sholat, sebesar itu pula kita mampu memanfaatkan waktu-waktu malam untuk Allah juga.

Kedua, jangan tinggalkan qailulah di siang harinya. Istirahat sebentar akan mengembalikan kenyamanan dan konsentrasi kita. Tilawah butuh kebugaran agar tetap berposisi baik. Apalagi sholat malam. Jangan sampai kita kelelahan karena kurang merebahkan diri. 

Ketiga, mengunjungi masjid. Menghidupkan malam di rumah sebenarnya tidak masalah. Hanya saja butuh perjuangan lebih mewujudkan suasana ibadah. Kasur empuk, gadget, suasana terlalu sepi mungkin bisa jadi penggoda. Dengan mengunjungi masjid, kita sudah memulai malam dengan sebuah langkah dan niat. Masjid juga menyediakan agenda-agenda yang membantu kita “melek” di malam hari. Tarawih satu juz, kajian keislaman, tahajud, witir dan qunut bersama.

Keempat, isi waktu setelah shalat tarawih dengan tilawah. Minimal sejam untuk duduk bersama Al Qur’an. Sebab jika kita mengawali pertengahan malam (sekitar pukul 21.00-23.00) dengan mengobrol, berselancar di media sosial, atau urusan-urusan duniawi lainnya, semangat kita rentan berkurang. Apalagi jika hendak menghidupkan malam di rumah. Setidaknya memasuki pukul 22.00 kita sudah mengambil posisi yang nyaman untuk mengisi malam dengan ibadah-ibadah. 

Jika lelah karena seharian bekerja. Tidur terlebih dahulu dan bangun di pertengahan malam lebih baik. 

Kelima, izinkan diri kita rehat sejenak. Bila tiba pukul 00.00, atau 01.00, lelah wajar menghampiri. Tak apa. Izinkan kita mencari sedikit kelonggaran. Berpindah tempat, berubah posisi, berbincang dengan pengunjung masjid lainnya, berwudhu, online, tidur, menulis, membaca, ngemil, kegiatan-kegiatan lain yang mengembalikan mood kita. Tapi ingat, jangan kebablasan ya! 😀 

Keenam, list doa-doa. Syukurlah sebagai manusia kita diperbolehkan berdoa. Banyak sekali impian dan harapan kita bukan? Belum lagi keluhan-keluhan yang mengusik jiwa. Gantungkan semuanya pada Allah. Rengkuh orang-orang yang kita sayang dalam doa. Tumpahkan semua perasaan yang bahkan hati kita saja tak mau mendengarnya, adukan kepada Allah. Ia Semaha amanah dan bijaksana mendengar pinta-pinta hamba-Nya. 

Ketujuh, setorkan hafalan Al Qur’an yang kita punya ke Allah dalam rakaat-rakaat shalat kita. “Ya Allah, hamba baru hafal surat An Naba. Dengarkanlah hafalan hamba, Ya Allah”. Semoga, dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an yang bukan itu-itu aja bisa lebih mengajak hati kita bercakap dengan Allah. 

Demikian beberapa kiat yang mungkin sangat subjektif. Bila ada benarnya boleh dicoba. Bila ada kurangnya, dengan senang nan lapang hati menerima masukan dan tambahan. 🙂

Barokallahu fiikum. 
Red: fauzia 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *