Menghidupkan Malam (1)

Tidak dipungkiri, mencicipi dunia pekerjaan mengajarkan kita komitmen dan dedikasi yang tak tanggung-tanggung. Perkantoran dengan aturan yang mengikat, tak mudah mengizinkan pegawainya cuti ‘hanya’ alasan i’tikaf. Lembaga pengajaran privat dengan integritas tinggi, juga tak mudah membiarkan guru-gurunya memilah-milih jadwal kapan mengajar dan kapan libur. 

Pun bagi seorang Ayah yang kesehariannya menarik angkutan umum, Ibu yang berjualan, Kakak yang menjaga toko, ketika menjadi tulang punggung keluarga dan belum banyak memiliki tabungan, perlu berpikir ulang, bagaimana jika berhenti bekerja, sedang kenyataan begitu keras memaksa mereka mengeluarkan uang di setiap harinya. 

“Bapak tinggal di mana?” seorang gadis sebaya saya membuka percakapan dengan Bapak yang terlihat letih di selasar masjid. 

“Di Depok, Dek.”

“Adek i’tikaf di sini?” kali ini Bapak itu yang bertanya. 

“Iya, alhamdulillah, Pak.” 

“Bapak mau sampe malam takbiran di sini. Tapi nggak bisa. Harus segera pulang.”

“Oh iya, Pak? Kenapa?” bukannya mengiyakan, gadis itu terlihat antusias menyimak curahan hati si Bapak. 

“Iya Bapak harus cari uang dari jualan koran. Anak Bapak satu-satunya lagi sakit di rumah. Harus ngumpulin uang buat pengobatan dan makan keseharian.”

Gadis itu tiba-tiba menahan suapan nasinya. Nuansa buka bersama bagi jama’ah i’tikaf seketika mendung. Turut menyimak kisah tersebut. 

“Doakan Bapak semoga masih bisa ikutan tahajud berjama’ah di sini ya, Dek. Biar bisa istiqomah sampe akhir Ramadhan. Doakan juga anak Bapak segera sembuh dan ikutan ngaji di masjid.” Nada Bapak itu terdengar bergetar, namun tenang. 

“Doakan Bapak semoga Allah menganugerahkan lailatul qadr buat Bapak. Meski keadaan Bapak begini. Ngantuk-ngantuk, pulang-pergi ke masjid. Nggak netep i’tikaf kayak Adek-Adek.”

“Aamiin, aamiin, Ya Allah,” sepertinya gadis di samping saya itu tak mampu berkata apa-apa. 

Rasanya peringatan keras baru saja menampar hati kita. Percakapan di atas memang fiktif belaka, tapi harusnya ia menyisakan pertanyaan besar di masing-masing benak kita, apa yang sudah kita perjuangkan untuk malam terakhir Ramadhan ini? Di samping lapang-sempatnya kita berkunjung ke Masjid. Di samping kuat-sehatnya kita bangun malam untuk mendengar kajian, tilawah, tahajud. Di samping mudahnya izin meninggalkan atau mengajak sanak saudara kita tuk turut menghidupkan sepuluh terakhir Ramadhan. 

Apa yang kita bekalkan tuk melepas kepergian Ramadhan, yang entah apa mungkin kita masih berkesempatan jumpa? 

F90af77f5be9b49a27ce8bc84f2bc189

Red: fauzia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *