King Salman, Syiria Crisis, and Role of Indonesia
Raja Salman, Krisis Suriah, dan Peran Indonesia
The presence of the King Salman has attracted the attention of many parties. It can be liberated by the role of Saudi in the Indonesia society in education, economic, and culture. Indonesia–Saudi Arabia relations are particularly notable because Saudi Arabia is the birthplace of Islam, and Indonesia is home to the world’s largest Muslim population.
Kedatangan Raja Salman telah menarik perhatian banyak pihak. Ini tidak terlepas dari peran Saudi di masyarakat Indonesia dalam hal edukasi, ekonomi, dan budaya. Hubungan Indonesia dan Saudi Arabia adalah hubungan yang penting karena Saudi adalah “tempat lahir”nya agama Islam, dan Indonesia adalah rumah dari populasi muslim terbesar di dunia.
However there is one thing missing from the media about the arrival of King Salman, namely the role of Saudi’s humanitarian diplomacy. When we study the Syrian issues, the contribution of Saudi is very interesting. At the end of 2016, Saudi Arabia’s King Salman had launched a humanitarian aid campaign to collect 100 million Saudi riyals ($27 million) to help those suffering in Syria in December 2016.
Akan tetapi, ada suatu hal yang media lewatkan tentang kedatangan Raja Salman, yaitu peran diplomasi Arab dalam isu kemanusiaan. Ketika kita melakukan studi tentang isu Suriah, ternyata kontribusi Saudi dalam hal ini sangat menarik. Di akhir 2016, Raja Salman meluncurkan bantuan kampanye kemanusiaan dan mengumpulkan hingga 100 juta Riyal Saudi (27 juta US Dollar) untuk membantu para korban di Suriah di akhir Desember 2016.
“Given what is happening to our brothers in Syria and those who are suffering, especially those displaced from Aleppo and other areas because of the difficult circumstances and painful events in which they live, the Custodian of the Two Holy Mosques King Salman bin Abdulaziz Al Saud has ordered the implementation of a humanitarian aid campaign that will encompass all regions of the Kingdom from tomorrow,” the statement carried on Saudi Press Agency announced
“Disebabkan apa yang terjadi pada saudara-saudara kita di Suriah, dan mereka yang terkena dampaknya, terutama mereka yang terusir dari Aleppo dan daerah lain karena kondisi yang sulit dan pengalaman menyakitkan di tempat di mana mereka hidup, Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Salman ibn Abdilaziz Al Saud telah memerintahkan untuk melaksanakan kampanye bantuan kemanusiaan yang akan melingkupi seluruh daerah kerajaan mulai besok,” mengutip pernyataan dari _Saudi Press Agency_.
The agency said King Salman also donated 20 million riyals of his own money to the campaign, Crown Prince Mohammed bin Nayef had donated 10 million riyals, and Deputy Crown Prince Mohammed bin Salman had contributed 8 million riyals.
Agensi ini juga menyatakan bahwa Raja Salman sudah mendonasikan dana pribadinya sebesar 20 juta Riyal Saudi untuk kampanye ini, pun halnya dengan putra mahkota Muhammad ibn Nayef yang menyumbang 10 juta riyal, dan putra mahkota kedua Muhammad ibn Salman yang menyumbang 8 juta riyal.
The campaign, which is active on Twitter, announced that donations can be made via SMS from Saudi Arabia. 10, 20, or 30 Saudi riyals can be sent through a message.
Kampanye ini, yang juga bergerak aktif di twitter, mengumumkan bahwa donasi juga bisa dikirimkan melalui SMS dari Arab Saudi. 10, 20, hingga 30 riyal bisa dikirimkan melalui pesan singkat.
In January 2017, The King Salman Centre for Relief and Humanitarian Aid had begun to deliver aid to displaced people in Syria, and 25 trucks coming from the Turkish city of Al-Rayhaniyyah crossed the Turkish-Syrian border. The trucks were carrying aid provided by the organization for people who have been displaced from Aleppo.
Januari 2017, _The King Salman Centre for Relief and Humanitarian Aid_ telah mulai untuk mengirimkan bantuan kepada orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal di Suriah, dan 25 truk telah datang dari Al Raihaniyyah, kota di Turki, melalui perbatasan Turki-Suriah. Truk-truk ini membawa bantuan yang disediakan oleh organisasi yang bergerak dalam kegiatan membantu mereka yang terusir dari Aleppo.
Saudi Ambassador to the Republic of Indonesia Osama bin Mohammed Al-Shuaibi said his country would discuss regarding Syria crises with President Jokowi. Osama claimed that his country endures to seek the best solution to resolve the humanitarian conflict there.
Dubes Saudi untuk Indonesia, Osama ibn Mohamed Al Shuaibi, mengatakan bahwa negaranya akan berdiskusi terkait krisis yang dialami Suriah bersama Presiden Jokowi. Osama mengklaim bahwa negaranya terus mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan konflik kemanusiaan di sana.
House of Representatives Deputy Fadli Zon said the King’s visit will corroberate the role of Saudi diplomacy either political diplomacy, economic diplomacy, cultural diplomacy or the humanitarian diplomacy in islamic world. Fadli assessed, Indonesia needs to take benefit from the change of geopolitical relations between Saudi and United States.
Wakil Ketua DPR, Fadli Zon mengatakan bahwa kunjungan raja akan memperkuat peran Saudi dalam diplomasi politik, ekonomi, budaya, atau kemanusiaan dalam dunia Islam. Fadli menilai Indonesia harus mengambil manfaat dari perubahan hubungan geopolitik antara Saudi dan Amerika Serikat.
According to the author, the humanitarian diplomacy of Saudi is very important for Indonesia. King of Salman’s contribution to Syrian refugee can make Indonesia aware of the plight of Syrian. The Saudi’s contribution to humanity should spread to Indonesia. We know the Indonesia’s contribution in the humanitarian field is still very weak. Indonesia has been silent in supporting to the Syrian refugees. Indonesia had abstained in the UN meeting toward the situation of human rights in Syria.
Menurut penulis, diplomasi kemanusiaan Saudi sangat penting bagi Indonesia. Kontribusi Raja Salman kepada pengungsi Suriah bisa membuat Indonesisa sadar akan keadaan buruk yang dialami Suriah. Kontribusi Saudi dalam hal kemanusiaan harus menular ke Indonesia. Kita tahu bahwa kontribusi Indonesia dalam hal kemanusiaan masih terbilang lemah. Indonesia selama ini senyap dalam mendukung pengungsi Suriah. Bahkan Indonesia memilih abstain ketika menghadiri pertemuan PBB yang membahas tentang situasi HAM di Suriah.
For that, they say, the best thing for the people of Indonesia in responding to the humanitarian crisis in Syria is not to go to war to Syria, but by working in humanitarian issues.
Untuk itu, mereka mengatakan, hal terbaik yang bisa dilakukan rakyat Indonesia dalam merespons krisis kemanusiaan di Suriah bukan dengan cara berangkat berperang ke sana, akan tetapi dengan berperan dalam isu-isu kemanusiaan di dalamnya.
This message was conveyed to Indonesian Deputy Foreign Minister, A.M Fachir, a few years ago by humanitarian activists. Hearing reports of volunteers, Fachir said that it’s very important for the government to build synergies with humanitarian agencies.
Pesan ini disampaikan kepada Wakil Menlu Indonesia, M. Fachir, beberapa waktu lalu, oleh para aktivis kemanusiaan. Fachir berkata bahwa amat penting bagi pemerintah untuk membangun sinergitas dengan lembaga kemanusiaan.
Synergies and cooperation in humanitarian assistance, he said, needs to be done to erase the negative stigma the humanitarian tragedy in Syria associated by ISIS.
Sinergitas dan kerja sama dalam bantuan kemanusiaan, ujarnya, harus dilakukan untuk menghapus stigma negatif tentang tragedi kemanusiaan yang diasosiasikan oleh ISIS.
“There are about four million Syrian refugees spread in Jordan, Lebanon, Turkey and Iraq. They need help. But what we do for them is still not enough,” said the diplomat, an alumni of Pesantren Darussalam Gontor.
“Ada kurang lebih 4 juta rakyat Suriah yang mengungsi, dan mereka tersebar di Yordania, Lebanon, Turki, dan Iraq. Mereka butuh pertolongan, tapi apa yang kita lakukan untuk mereka masih belum cukup,” ujar diplomat alumni Pesantren Darussalam Gontor ini.
Therefore, the moment and the euphoria of the King Salman’s visit should encourage Indonesia to take part in the humanitarian field, as did King Salman. As stated in the opening of the 1945 constitution: Whereas independence is a genuine right of all nations and any form of alien occupation should thus be erased from the earth as not in conformity with humanity and justice.
Maka dari itu, momen dan euforia dari kunjungan Raja Salman harus mendorong Indonesia untuk mengambil peran dalam medan kemanusiaan, sebagaimana Raja Salman melakukannya. Sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD ’45: _”Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas duniaharus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Naskah asli:* oleh Sekjen JITU Muhammad Pizaro http://en.republika.co.id/berita/en/speak-out/17/03/03/om8w71413-king-salman-syria-crisis-and-role-of-indonesia …
*Penerjemah:* Tim Maktab Al Fatih
*#Dept.Kajian&Training*
