Mahasiswa Dengan 3 Perannya

Oleh : Haris Munandar (Staff Media Center)

Seringkali kita dengar, Mahasiswa adalah agent of change, sebagai agen perubahan di tengah-tengah masyarakat, dengan banyaknya ketimpangan-ketimpangan yang ada, maka Mahasiswa memiliki peran penting sebagai pemuda pemudi yang berintelektual tinggi dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan di sekitarnya untuk melakukan perbaikan-perbaikan tersebut.

Mahasiswa juga sebagai agent of social control, sebagai agen pengontrol sosial, pemuda sebagai subjek perubahan, bergerak untuk melakukan perbaikan yang lebih baik lagi. Maka, jadilah subjek yang melakukan perubahan, jangan sampai menjadi penunggu, yaitu hanya menunggu untuk menikmati perubahan dari orang lain.

Mahasiswa sebagai agent of social control, berarti Mahasiswa dituntut untuk memiliki social awareness yaitu kesadaran sosial. Kesadaran sosial adalah kemampuan untuk merasakan gejala, maupun problematika yang terjadi di lingkungan masyarakat.Dalam tulisan singkat kali ini, kami ingin mengajak pembaca untuk memaksimalkan peran sebagai Mahasiswa yang tidak hanya peduli kepada diri sendiri saja.

Ada tiga peran penting, yang benar – benar harus diperhatikan sebagai Mahasiswa, khususnya Mahasiswa Muslim.

1. Kita sebagai AKADEMISI

Dari awal sebelum masuk ke dunia perkuliahan, kita sudah memilih dan menentukan jurusan atau program studi apa yang kita ambil. Konsekuensi dari pilihan tersebut, kita harus menjadi seorang ahli dalam bidang itu. Mengapa? Karena orang tidak akan melihat kita suka atau tidak suka dengan jurusan itu, namun orang hanya akan melihat kita fokusnya menekuni bidang atau jurusan tersebut. Peran kita sebagai akademisi berarti kita harus menguasai bidang studi masing-masing.

Maka, jadilah para pakar yang profesional, karena kita harus siap menjawab semua pertanyaan terkait bidang atau jurusan yang kita tekuni.

Maka, yang perlu kita pahami setelah wisuda nanti kita harus menjadi pakar pada bidang yang kita geluti. Sekali lagi, sarjana adalah intelektual muda yang seharusnya ahli di bidang yang ia tekuni.

2. Kita sebagai DAI

Kadangkala, dulu saat masih kecil, atau masih tinggal di Pesantren, atau masih belajar di sekolah, baik sekolah Dasar, Menengah, atau Atas, kita sering mendengar ceramah dari guru-guru ataupun ustadz ustadzah. Seketika setelah mendengar motivasi atau ilmu dari mereka, kadangkala rasa ingin menjadi seperti mereka muncul, yaitu menjadi ustadz dan ustadzah yang selalu mengingatkan dan mengajak orang-orang kepada kebaikan. Dan sekarang posisi kita sebagai Mahasiswa sangat bisa dimaksimalkan untuk mengambil peran itu.

Menjadi Da’i tidak selamanya harus berjenggot dulu, pakai penutup kepala, pakai sorban, ke mana-mana tenteng Al-Qur’an, di jari-jemarinya dipenuhi dengan butiran tasbih, dan dress codenya selalu baju koko. Tidak harus seperti itu.

Silahkan berpenampilan ala-ala Mahasiswa –dengan catatan auratnya selalu tertutup– silahkan, tetapi semua aktivitasnya harus selalu dipastikan masih dalam koridor kebaikan. Setelah itu, kita tidak boleh memonopoli kebaikan itu sendiri, ajak orang lain, ingatkan orang lain, dan sebagainya.

Contoh sederhananya, ketika ada teman yang belum atau lalai dengan shalatnya, diingatkan. Dengan melakukan hal-hal sederhana seperti itu kita sudah melaksanakan peran kita sebagai Da’i yaitu mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan.

3. Kita sebagai POLITISI

Jangan salah kaprah dulu dengan kata politik, karena ada sebagian dari teman-teman mahasiswa itu ada yang idealis mengatakan Mahasiswa tidak boleh berpolitik, ada yang apatis dengan kata politik. Namun, di zaman modern saat ini, dengan banyaknya informasi yang ada, sudah seharusnya Mahasiswa melek dengan politik, agar bisa membedakan mana politik yang baik, dan mana politik yang tidak baik, mana politisi yang jujur dan mana politisi yang bohong, mana legislatif yang layak dipilih dan mana legislatif yang harus dijauhi.

Jadi, tidak masalah Mahasiswa berpolitik, selama politik yang ia jalani adalah politik nilai, bukan politik pasar yang hanya menguntungkan individu atau kelompok tertentu saja.

Tetapi, bukan seperti itu yang dimaksud dengan peran Mahasiswa sebagai politisi. Lebih ke jiwa politisnya. Jiwa politisi adalah kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. Baik lingkungan masyarakat, lingkungan kampus, lingkungan keluarga, bahkan lingkungan kos atau kontrakan. Jika Mahasiswa menemukan penyimpangan di tengah-tengah masyarakat atau di kampus, maka ia yang menegur dan meluruskannya. Jika ia menemukan masalah di kampus atau kontrakannya maka ia tergerak untuk melakukan sesuatu atau memberi solusi dari masalah tersebut. Bahkan jika ia menemukan kondisi teman-teman Mahasiswanya yang terjatuh ke dalam pergaulan bebas, dia resah dan gelisah, jiwa nya memberontak ingin mengajak mereka kembali kepada kebenaran. Inilah yang dimaksud dengan jiwa politisi.

Sekali lagi, jiwa politisi bermakna kita harus berpikir bagaimana mewujudkan perubahan mulai dari skala terkecil, dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan negara.

Itulah tiga peran yang harus diperhatikan oleh Mahasiswa selama masa-masa kuliahnya ini, karena ia juga sebagai bekal di kehidupan pasca lulus dari kampus nanti.

Peran sebagai seorang akademisi akan menuntut profesionalisme kepakaran kita atau penguasaan terhadap bidang ilmu yang kita tekuni.

Peran Da’i harus membuat kita menjadi manusia yang ta’at, yang memiliki kecerdasan spiritual yang bagus, karena peran ini akan menunjukkan kita sebagai seorang muslim yang memegang nilai-nilai kebaikan dan kebermanfaatan.

Dan terakhir peran Mahasiswa sebagai politisi, agar bisa men-drive kita menjadi manusia yang memiliki kepekaan sosial dan kepedulian sosial.

Dengan begitu kita tidak hanya berorientasi untuk skala diri sendiri, tetapi perubahan skala sosial, dan kita akan terus mencoba menjadi manusia yang lebih bermanfaat untuk manusia yang lain.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *