Membangun kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari bukanlah hal yang mudah. Terkadang, meskipun kita sangat termotivasi untuk mengubah sesuatu, kita sering kali merasa kesulitan untuk konsisten. Salah satu alasan utama kegagalan dalam membentuk kebiasaan adalah karena tidak adanya rencana yang jelas dan spesifik. Kita cenderung membuat rencana yang terlalu umum atau abstrak, seperti “Saya ingin lebih rajin berolahraga” atau “Saya ingin membaca lebih banyak buku.” Rencana semacam ini memang baik sebagai niat awal, namun tidak cukup kuat untuk mendukung kebiasaan yang konsisten.
Lalu, bagaimana cara kita dapat membentuk kebiasaan baru yang bisa bertahan lama? Kuncinya terletak pada membuat kebiasaan tersebut terlihat dan terjadwal dengan jelas dalam hidup kita. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan merencanakan waktu dan tempat yang spesifik untuk melakukan kebiasaan tersebut.
Rencanakan Secara Spesifik dan Tertulis
Salah satu prinsip dasar dalam membentuk kebiasaan adalah membuatnya terstruktur dan mudah diingat. Misalnya, daripada hanya mengatakan “Saya ingin membaca buku setiap hari,” buatlah pernyataan yang lebih spesifik seperti “Saya akan membaca buku selama 10 menit setiap malam sebelum tidur.” Dengan cara ini, kebiasaan baru menjadi lebih mudah diintegrasikan dalam rutinitas harian, karena kita tahu persis kapan dan bagaimana melakukannya. Penjadwalan kebiasaan yang jelas akan membuat kita merasa lebih bertanggung jawab dan lebih mungkin untuk melaksanakannya.
Banyak orang gagal bukan karena kurang motivasi, tetapi karena rencana mereka terlalu kabur dan tidak ada gambaran konkret kapan kebiasaan tersebut dilakukan. Kebiasaan yang direncanakan tanpa waktu atau tempat yang jelas sering kali akan terlupakan atau terabaikan. Oleh karena itu, memberi ruang dan waktu yang pasti untuk kebiasaan tersebut membantu untuk membuatnya lebih nyata dan terintegrasi dalam kehidupan kita sehari-hari.
Gunakan Kebiasaan Lama untuk Membentuk Kebiasaan Baru
Cara lain yang efektif untuk membentuk kebiasaan baru adalah dengan menghubungkannya dengan kebiasaan yang sudah ada. Ini dikenal dengan istilah habit stacking atau menyisipkan kebiasaan baru di tengah kebiasaan yang telah terbentuk. Misalnya, jika Anda ingin mulai berolahraga, alih-alih membuat jadwal latihan yang rumit dan tidak realistis, Anda bisa mengatakan, “Setelah saya melepas sepatu sepulang kuliah, saya akan langsung mengganti pakaian dengan baju olahraga.” Dengan begitu, kebiasaan berolahraga akan menjadi kelanjutan alami dari aktivitas yang sudah Anda lakukan sebelumnya, seperti melepaskan sepatu.
Menghubungkan kebiasaan baru dengan kebiasaan lama memberikan efek domino yang membuat kebiasaan baru menjadi lebih mudah dilakukan. Anda tidak perlu memulai dari awal, karena kebiasaan lama sudah membentuk rutinitas yang konsisten. Ini memberikan Anda titik awal yang lebih sederhana untuk membentuk kebiasaan baru.
Pilih Waktu yang Tepat untuk Membentuk Kebiasaan
Penting untuk memilih waktu yang tepat untuk mulai membentuk kebiasaan baru. Kebiasaan yang dibangun pada waktu yang kurang tepat atau saat Anda merasa terburu-buru cenderung lebih mudah terlupakan atau gagal. Misalnya, jika Anda ingin membiasakan diri untuk membaca, tentukan waktu yang spesifik, seperti “Setelah makan siang, saya akan membaca buku selama 15 menit di meja kerja.” Dengan cara ini, kebiasaan membaca akan terintegrasi dalam rutinitas harian Anda tanpa merasa terpaksa atau tidak nyaman.
Waktu yang tepat untuk memulai kebiasaan adalah ketika kita merasa santai dan tidak terburu-buru. Kebiasaan baru lebih mudah untuk dilakukan saat kita tidak sedang terbebani oleh tugas lain. Sebagai contoh, membaca buku di malam hari setelah beraktivitas seharian akan lebih mudah dilakukan daripada mencoba membaca di pagi hari sebelum pekerjaan dimulai.
Lingkungan yang Mendukung Kebiasaan Positif
Selain waktu yang tepat, lingkungan juga memiliki peran yang sangat besar dalam mendukung kebiasaan baru. Lingkungan yang kita ciptakan sehari-hari dapat mempengaruhi kebiasaan yang kita bentuk, baik itu kebiasaan baik maupun kebiasaan buruk. Jika kita ingin membentuk kebiasaan makan sehat, misalnya, letakkan buah-buahan di tempat yang mudah dijangkau dan terlihat di rumah, seperti di meja dapur atau meja makan. Ketika buah-buahan tersebut terlihat dengan mudah, kita akan lebih sering memilihnya sebagai camilan sehat.
Sebaliknya, jika kebiasaan buruk ingin dihindari, kita bisa membuatnya lebih sulit untuk dijangkau. Misalnya, jika kita ingin mengurangi konsumsi camilan manis, simpan camilan tersebut di tempat yang jauh atau tidak terlihat. Dengan mengatur lingkungan sedemikian rupa, kita membuat kebiasaan positif menjadi lebih mudah dan kebiasaan buruk menjadi lebih sulit untuk dilakukan.
Kesimpulan: Membentuk Kebiasaan dengan Perencanaan yang Tepat
Membangun kebiasaan baru dalam hidup tidak perlu sulit jika kita memulai dengan perencanaan yang jelas dan spesifik. Mengatur waktu, tempat, dan cara untuk melakukan kebiasaan baru sangat penting untuk membuatnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Jangan takut untuk menghubungkan kebiasaan baru dengan kebiasaan yang sudah ada, karena hal ini akan memudahkan transisi dan menjaga konsistensinya. Selain itu, pilih waktu yang tepat dan ciptakan lingkungan yang mendukung untuk membantu kebiasaan baru berkembang dengan lebih mudah.
Ingat, perubahan kebiasaan bukanlah hal yang terjadi dalam semalam. Dibutuhkan waktu, konsistensi, dan penyesuaian untuk membentuk kebiasaan yang baik. Dengan merencanakan secara spesifik dan menyesuaikan lingkungan, Anda dapat menciptakan kebiasaan yang dapat bertahan dalam jangka panjang dan membawa dampak positif dalam hidup Anda.
(Materi AFM x Read n Discuss dari buku “Atomic Habits” oleh Departemen PSDM. Dengan gubahan oleh editor blog.)
