Oleh: Rafif Kamal
“Satu peluru hanya dapat menembus satu kepala, namun satu tulisan dapat menembus ribuan bahkan jutaan kepala.” (Sayyid Qutb)
Itulah kutipan kata yang diambil dari Sayyid Qutb, seorang pemikir muslim yang menggoreskan banyak karya fenomenal. Begitu fenomenalnya, sampai-sampai karyanya yang berjudul Ma’aalim Fi Thariiq dilarang peredarannya oleh intelejen.
Memangnya, sebesar apakah pengaruh tulisan bagi kehidupan?
Sejarah telah berbicara banyak tentang betapa besarnya pengaruh tulisan dalam perubahan tatanan dunia.
Sebut saja Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi. Ilmuwan muslim yang wafat pada abad ke-9 masehi ini telah mewariskan banyak masterpiece hebat seperti buku Al Mukhtasar fi Hisab Al Jabr wal Muqabalah (Ringkasan Perhitungan Aljabar dan Perbandingan) dan buku Jama-wat-Tafriq.
Dalam bukunya, Al-Khawarizmi memperkenalkan angka 0 (nol) yang sebelumnya tidak dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan. Bayangkan, dahulu bagaimana orang-orang dapat menuliskan sesuatu yang memiliki nilai nol tanpa adanya angka nol? Meskipun karyanya menakjubkan, karena perang salib pada mulanya penemuan angka nol ini tidak dapat dibawa masuk Eropa. Pada masa itu, segala ide yang berasal dari Arab, bahkan ilmu matematika tidak diterima dengan baik.
Namun pada akhirnya, bangsa Eropa harus tunduk mengakui betapa pentingnya angka nol. Pada abad ke-15 angka nol bersama angka Arab lainnya diterima secara keseluruhan oleh Eropa. Angka nol mencapai masa jayanya pada abad ke-17 ketika matematikawan Prancis, Descartes menggunakannya sebagai basis dari koordinat Kartesius (grafik x dan y).
Angka nol memiliki peran vital bagi kemajuan peradaban dunia. Bahasa mesin, yaitu bahasa yang memberikan perintah kepada komputer, memakai kode biner sebagai gerbang logika dengan angka 0 dan 1 dalam bahasa pemogramannya. Dari kode biner dan komputer, manusia dapat merancang software mutakhir, membuat sistem operasi, merancang adanya dunia maya, serta mengembangkan teknologi lainnya. Tanpa angka nol, teknologi tidak akan maju seperti sekarang.
Dari Khawarizmi, kita belajar bahwa goresan pena dapat mengubah peradaban dunia.
Itu dari segi ilmu pengetahuan. Kalau kita lihat dari kacamata ekonomi dan politik, sangat nikmat rasanya bila kita menyinggung buku Das Kapital. Dibutuhkan 40 tahun bagi Karl Marx untuk menyelesaikan buku ini. Didasari oleh kesadaran dan fakta bahwa sistem ekonomi kapitalis telah gagal dalam memberikan kesejahteraan bagi umat manusia, Marx menulis Das Kapital sebagai kritik pedas bagi kaum kapitalis. Buku ini mendapat apresiasi serta kecaman dari berbagai ekonom internasional.
Selain Das Kapital, buku Manifest der Kommunistischen Partei (Manifesto Komunis) juga tak kalah dahsyatnya. Karya fenomenal Karl Marx dan Engels ini cukup membuat mereka dijuluki sebagai ‘Bapak Komunis Dunia’.
Pemikiran komunis yang dinarasikannya berhasil menyihir jutaan bahkan miliaran umat manusia. Sebut saja Jerman Timur, Uni Soviet, dan Yugoslavia adalah segelintir negara yang pernah menganut sistem komunis. Untuk saat ini negara yang masih menganut paham komunis adalah Republik Rakyat Tiongkok, Vietnam, Laos, Transnista, Korea Utara, dan Kuba.
Untuk Indonesia sendiri, di masa kepemimpinan Presiden Soekarno Indonesia sangat dekat dengan paham komunis. Dalam forum Persatuan Bangsa Bangsa, dengan tegas Soekarno mendeklarasikan bahwa Indonesia menganut konsep politik ‘Nasakom’ yang berarti Nasionalis, Agama, dan Komunis dalam bingkai demokrasi terpimpin. Walaupun pada akhirnya paham komunis dibasmi habis oleh Soeharto, namun disini kita dapat melihat betapa besarnya pengaruh tulisan-tulisan Marx bagi rakyat Indonesia.
Dari Karl Marx kita belajar bahwa goresan pena menyihir miliaran otak manusia, mengubah sistem politik dan ekonominya.
Sebenarnya masih banyak contoh yang dapat menegaskan akan hebatnya kekuatan tulisan bagi perubahan dunia. Dari berbagai contoh yang di atas, kita harus mengakui fakta bahwa tulisan dapat menembus dan menyihir satu kepala bahkan miliaran kepala umat manusia, mengubah pola pikirnya, dan bila pola pikirnya berubah maka akan berubah pula cara pandangnya. Bila cara pandangnya berubah maka akan berubah pula perilakunya. Bila perubahan pada perilaku terjadi berulang-ulang, maka akan berubah pula karakter dan akhlaknya.
Susunan kata memang memiliki daya magis. Hal itu disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Ibnu Umar radhiyallahu anhu menuturkan, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda : “Sesungguhnya di antara susunan kata yang indah terdapat sihir.”
Fakta lain yang harus kita akui adalah, sehebat-hebatnya buku yang dicetak di dunia ini, dari zaman dahulu hingga sekarang, tak peduli berapa banyak pembacanya, tak peduli berapa kali dicetak ulang, tak ada satupun buku yang dapat menandingi kehebatan kitabullah wa Kkalamullah, al-Quranul Karim.
Sistem ekonomi yang ditawarkan Karl Marx dengan buku Das Kapital nya, atau sistem ekonomi kapitalis yang ditawarkan Adam Smith dengan buku The Wealth of Nations nya yang banyak diadopsi oleh mayoritas negara saat ini telah terbukti gagal membawa manusia tuk menggapai kesejahteraan.
Sehebat-hebatnya konsep yang digariskan oleh manusia tidak akan dapat menyaingi kesempurnaan konsep ekonomi islam yang digariskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Seperti yang terjadi di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika rakyatnya hidup sejahtera dalam naungan ekonomi Islam, sehingga ia bingung karena tidak ada orang yang berhak menerima zakat di negerinya.
Sistem politik rancangan manusia seperti demokrasi, fasisme, anarkisme, diktator, monarki, dan lainnya, sehebat apapun konsepnya, sebanyak apapun pengikutnya, tak akan mampu menandingi kesempurnaan sistem ekonomi yang digariskan oleh Allah ta’ala. Karena pada zaman sekarang, hukum bisa dijual beli. Keadilan sangatlah mahal. Pandangan masyarakat akan hakikat keadilan menjadi samar, karena kedailan saat ini berlandaskan akal pendek manusia dan hawa nafsu, tidak berlandaskan pandangan dari Sang Pencipta Akal dan Pencipta Nafsu, Allah ta’ala.
Dari dua fakta menarik tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa tulisan itu dapat mengubah tatanan dunia. Namun, tidak semua tulisan dan buku di dunia layak untuk dijadikan pijakan untuk menjalani hidup. Karena itu, sudah menjadi kewajiban seorang muslim untuk menyebarkan Islam dan kebenaran al-Qur’an, menjadikannya sebagai proposal yang ditawarkan kepada seluruh umat manusia, proposal yang dapat menyelesaikan segala permasalahan di muka bumi mulai dari masalah kemiskinan, kriminalitas, ketidakadilan, kebodohan, depresi, hingga teknologi.
Wallahu ‘alam bish-shawab.
