Jumpa Penulis (1): Peran Tulisan Memengaruhi Perspektif Dunia Tentang Islam

Maka biarkan sejarah yang bicara. Dan justru ia akan berikan pada kita sebuah sudut pandang yang paling bening.

Adalah setiap umat, memiliki masa kejayaan dan keruntuhannya. “Setiap kejayaan ada syaratnya, dan setiap kehancuran ada sebabnya” tutur DR Raghib As Sirjani.

Toynbee, Carlyle, Ibnu Khaldun, sampai Azyumardi Azra, semuanya sepakat bahwa peradaban akan mencapai kejayaannya ketika ilmu diproduksi sedemikian masif.

Peradaban Mesir contohnya. Tanpa tulisan, takkan ada ilmu Egyptology -satu-satunya disiplin ilmu yang membahas tentang sebuah negara-, sebab peradaban Mesirlah yang jadi sumber inspirasi banyak bangsa untuk belajar; jayanya peradaban adalah ketika pena dan kata-kata digunakan dengan sebijak-bijaknya. (Faktanya, duit 200 Pound Mesir nominal paling tinggi, adalah gambar orang nulis, bukan gambar piramida atau Firaun. Dan mereka memang menghargai karya tulis. Sampai sekarang, produsen buku dunia arab didominasi oleh penerbit Kairo dan kedua di Beirut).

Pun ketika peradaban Islam naik ke panggung globalplayer, para ulama dan ilmuwan muslim menguasai literatur global dan dijadikan referensi bagi warga dunia.

Misalnya adalah tentang Geografi. Eropa di abad pertengahan mengenal pulau-pulau di dunia dengan nama arab. Sebab baik karya tulis dan peta, semuanya adalah hasil karya ilmuwan muslim. Pengetahuan adalah cara untuk menguasai sebuah bangsa. Dan itu mutlak.

Kaidahnya, “Knowledge is power”, kata Francis Bacon.

Kemudia jika teman-teman suka nonton serial Sherlock Holmes, akan ada episode orang pinter banget yang menguasai banyak rahasia negara di Appledore. Dan quotenya keren “I can do everything, just because i know”.

Nah, sekarang Eropa yang menguasai pengetahuan utama. Mereka yang ambil ‘paksa’ kepemimpinan dunia dengan strategi yang sangat amat matang.

Darimana mereka belajar?

Absolutely from Islamic Golden Ages. Mereka sudah bertempur dua abad lamanya dengan umat Islam. Mereka banyak belajar dari umat Islam, mereka bahkan bangga bicara bahasa arab di depan rakyat Eropa. Namun semua itu memunculkan dengki. Mereka menemukan jawabannya. Bagaimana cara menghancurkan Islam? Satu hal; kuasai tulisannya!

Hal itu dimulai sejak Louis IX, raja Perancis kalah dalam perang Salib melawan tentara muslim di Mesir. Ia ditawan dan ditebus 400 ribu dinar (860 miliar rupiah gan 😁) dan ketika ia pulang, ia mencetuskan “gerakan literasi Perancis” untuk menghembuskan syubhat tentang dunia Islam. Kita mengenalnya sebagai awal mula Ghazwul Fikr.

Maka kesimpulannya dari yang kita bahas tadi; MasyaAllah. Bukan hanya berpengaruh. Literasi adalah senjata terampuh untuk menguasai manusia. Just see what Sayyid Quthb said, “Moncong senjatamu memang bisa menembus satu kepalaku. Tapi satu tulisanku bisa menembus kepala jutaan orang”.

Bukti lain? Buletin 42 halaman berjudul ‘Common Sense’ adalah cikal bakal mengapa USA berdiri. Buku saku ‘Der Juden Staat’ karangan Theodore Hertzl jurnalis yahudi austria adalah cikalbakal negeri Israel (israel benar2 berdiri 50 tahun setelah buku itu terbit!)

Dan, siapa yang tidak kenal betapa luasnya kekaisaran politik Uni Soviet? Buku Das Capital karya Marx yang dibudidayakan oleh Engels itu, berhasil membunuh 60 juta manusia dan membangun hegemoni politik yang luarbiasa luasnya. Ngeri.

Terakhir dari pembahasan ini, apakah perspektif dunia terhadap Islam dipengaruhi literasi?

Tanyakan saja pada Montgomery Watt, Phillip K Hitti, Samuel Zwemer dan orientalis lainnya. Islam digambarkan penuh daya syahwat, kebodohan, kekerasan dan keterbelakangan oleh siapa? Buku-buku.

Buku buku jadi sumber skripsi, tesis dan desertasi.

Desertasi jadi bahan penelitian ilmiah para akademisi.

Para akademisi menjual jurnal dan hasil penelitiannya pada pemerintah.

Pemerintah mempublikasikannya pada rakyat.

Rakyat termakan media pemerintahan.

Dan gitu-gitu aja siklusnya.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil.

Maka quote untuk poin ini :

Kalau kamu bukan penguasa,

Kalau kamu bukan anak bangsawan,

Kalau kamu bukan orang berharta,

Maka jadilah penulis.

 

Ditulis oleh Muhammad Edgar Hamas, penulis buku ‘Untuk Kalian yang Rindu Perubahan, (2015, Pro-U Media), Belajar dari Negeri Para Nabi (2017, Pro-U Media), serta penulis aktif di berbagai media sosial dan cetak. Tulisan ini dikutip dari acara Jumpa Penulis Online yang diadakan oleh Tim Relawan Literasi Al Fatih. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *