Saudara-saudariku, 10 hari terakhir Ramadhan tengah berlangsung. Kali ini izinkan kami menyampaikan sekilas tentang i’tikaf. Semoga di sisa malam-malam kita bisa menikmati teduhnya i’tikaf 🙂
Dan mohon ingat kami dalam doa-doamu.
Tujuan dan Keutamaan I’tikaf
Balasan i’tikaf begitu besar. Cukuplah sebuah fakta bahwa Rasul selalu melakukannya, menjadi bukti yang menjelaskan keutamaan di dalamnya.
Perumpamaan orang yang i’tikaf di masjid adalah seperti orang yang pergi ke rumah orang terkemuka di daerahnya; ia menetap di sana sampai permintaannya dikabulkan. Lantas ia berdoa, “YaAllah, aku telah panjatkan permintaanku pada-Mu, dan aku percaya akan sifat pemurah-Mu, dan aku tidak akan pulang sampai permintaanku Kaukabulkan”.
Ketika seseorang datang ke depan pintu rumah seseorang, lalu ia tidak pergi sampai permintaannya dikabulkan, maka pasti, orang seegois apa pun pada akhirnya pasti mengabulkan pintanya; dan kita tentu tahu betapa pemurahnya Allah subhanahu wata’ala!
Di setiap momen i’tikaf, seorang yang sedang i’tikaf itu selalu dalam keadaan beribadah, bahkan ketika ia tidur, ia tetap dalam kondisi menghamba pada-Nya, berjuang untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Allah berfirman, dalam sebuah hadits qudsi, “Barangsiapa yang mendekat pada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sejauh dua hasta, dan barangsiapa yang mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari.”
Dan disimpulkan juga dari berbagai dalil, bahwasanya salah satu tujuan dari i’tikaf adalah, mencari malam qadr, yang di dalamnya, satu kebaikan bernilai lebih baik daripada terus-menerus beribadah–baik dalam keadaan sadar maupun tertidur–untuk memperoleh pahala senilai 1000 bulan, atau 83 tahun. Selain itu, dalam i’tikaf, seseorang menghentikan kegiatan rutin hariannya, dan waktu yang kosong dari kesehariannya itu ia gunakan untuk zikir dan merenung.
Keutamaan I’tikaf
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasul pernah bersabda, “Seseorang yang tetap dalam i’tikaf, maka ia bebas dari dosa, dan dia akan diberikan pahala yang setara dengan orang yang melakukan kebaikan.”
Syarat I’tikaf
Berikut ini syarat-syarat untuk melakukan i’tikaf:
1. Muslim;
2. Waras;
3. Bersih dari hadats besar; tidak sedang menstruasi atau sedang nifas;
4. Melakukannya di masjid (khusus laki-laki saja);
5. Berniat untuk i’tikaf;
6. Berpuasa untuk i’tikaf yang wajib dan sunnah.
Catatan: Perempuan boleh melakukan i’tikaf-nya di rumah. Tidak perlu baligh untuk melaksanakan i’tikaf. Seorang anak yang sudah mumayyiz, baik laki-laki maupun perempuan, boleh melaksanakan i’tikaf.
Red: ibnukurnia
