LENSA AL FATIH #4
Konflik antara Iran dan Israel bukanlah suatu hal yang muncul secara tiba-tiba, ini adalah konflik berkepanjangan yang berakar dari sejarah panjang rivalitas ideologi, geopolitik, dan kepentingan strategis antar dua negara. Namun sebelum kita membahas lebih lanjut terkait bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim, perlu bagi kita untuk mengetahui sejarah: awal mulanya peperangan ini terjadi dan latar belakang dari masing-masing negara.
- Sejarah Singkat Iran:
Iran, juga dikenal sebagai Persia dan secara resmi bernama Republik Islam Iran (bahasa Persia: ناريا یملاسا یروهمج Jomhuri-ye Eslami-ye Iran), terletak di Asia Barat. Nama Iran berarti “Tanah Bangsa Arya.” Hingga 1935, dunia Barat lebih sering menyebutnya Persia, kemudian di era Mohammad Reza Pahlavi (1959), kedua istilah diizinkan digunakan. Pada 1979, Revolusi Iran yang dipimpin Ayatollah Khomeini menggulingkan monarki dan mendirikan Republik Islam Iran berbasis teokrasi Syiah.
- Sejarah Singkat Israel:
Israel lahir dari deklarasi pendirian negara pada tahun 1948, yang diikuti perang dengan negara-negara Arab.
Sejarah Iran pasca-Islam hingga revolusi 1979
- Persia Pasca-Islam (Abad 8–13 M)
- Persia menggabungkan identitas Islam dan budaya lokal.
- Mendukung dinasti Abbasiyah melawan Umayyah.
- Ilmuan persia berperan besar dalami zaman keemasan Islam.
- Invasi Mongol (1220 M) dan Tamerlane menghancurkan Persia.
- Era Syiah, Safawi, Qajar, hingga Revolusi Iran (1501–1979)
- Dinasti Safawi (1501) menjadikan Syiah mazhab resmi
- Persia menjadi rebutan Inggris dan Rusia
- Modernisasi memicu Revolusi Konstitusi awal 1900-an
Latar Belakang Perang Iran dan Israel:
Konflik antara Iran dan Israel sudah berlangsung selama puluhan tahun yang berakar pada persaingan ideologi, geopolitik dan kepentingan strategis. Sejak Revolusi Islam, Iran secara resmi tidak mengakui eksistensi Israel dan kerap menyuarakan pertentangan di forum internasional, dan yang menjadi pemicu lainnya adalah:
- Revolusi Islam Iran 1979
- Iran mulai aktif mendukung kelompok-kelompok perlawanan anti-Israel, seperti Hizbullah di Lebanon dan beberapa faksi di Palestina.
- Persaingan Pengaruh Timur Tengah
- Iran berusaha memperluas pengaruh politik dan militernya di kawasan Timur Tengah melalui perang proksi (proxy war)
- Program Nuklir Iran
- Israel merasa keberadaan nuklir Iran dapat mengancam keberlangsungan negaranya
Timeline:
- April 2024 -> serangan langsung pertama Iran ke Israel, balasan atas pengeboman Israel ke konsulat Iran di Damaskus yang menewaskan 2 jenderal IRGC dan beberapa militan.
- Oktober 2024 -> eskalasi kedua, Iran meluncurkan lebih dari 180 misil balistik merespon pembunuhan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh di Teheran.
- Juni 2025: skalasi memuncak ketika Israel menyerang fasilitas nuklir Iran, diikuti pembalasan Iran dengan ratusan rudal dan drone, hingga AS ikut campur mendukung Israel.
- 24 Juni: Genjatan senjata diberlakukan, tetapi tidak di resmikan secara permanen sehingga situasi tetap genting.
Kesimpulan: Iran menyerang Israel sebagai bentuk pembalasan terhadap serangan Israel, bukan murni membela Palestina.
Lantas Bagaimana Kita Menyikapinya?
- Memahami latar belakang, sejarah dan motif politik.
- Menjadi muslim yang cermat, bijak, dan arif dalam menyikapi sebuah isu.
- Mengutamakan semangat persatuan ummat.
- Fokus dalam gerakan pembebasan Al-Aqsha.
- Memastikan informasi didapat dari sumber yang terpercaya.
- Menjadikan ilmu sebagai bagian dari perjuangan.
Tanggapan hasil dari diskusi masing-masig Kelompok:
Kelompok 1:
- Sebagai penuntut ilmu, kita harus cari tau informasinya lewat informasi yang valid dan terpercaya
- Fokus ke peran yang bisa kita lakukan, sekecil apapun perannya
- Kita melawan satu musuh yang sama, tapi tetap jaga batasan, terutama dari sisi akidah. Cukup fokus pada perlawanan
- Salah satu faktor kenapa negara-negara Sunni cenderung pasif karena; terlalu fokus dengan konflik internal dan terhalang oleh alur birokrasi
Kelompok 2:
- Konteks dua golongan zalim yang saling berperang, mendukung serangannya saja
- Berbangga atas kehancuran keduanya
- Dari segi penjajahan, Iran juga punya sejarah menjajah negara-negara Sunni
- Perlu kita ingat bahwasannya Iran tidak hanya memerangi Zionis, tapi juga Sunni
- Iran bermain bersih, mengambil momentum menjadi pahlawan, ke ekstern-mereka atas fakta sejarah tertutup
- Serangan Iran terhadap penjajah tidak boleh membuat kita melupakan fakta sejarah
Kelompok 3:
- Boleh merasa senang atas serangan Iran kepada Israel, tapi jangan sampai mendukung Iran secara penuh
- Karena kita tidak terjun langsung ke ranah geopolitik, maka kita perlu perlu memposisikan diri dengan tepat, yaitu sebagai penuntut ilmu
- Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu; perang pun kini memasuki ranah narasi
- Membuat konten edukasi di media sosial
- Ketika fokus umat muslim terpecah, solidaritas umat lah yang harus kita perkuat
- Tetap melanjutkan boikot
- Berusaha untuk membimbing generasi kita agar memiliki semangat juang dalam membebaskan Al-Aqsha
