LENSA AL-FATIH #2
Zaman sekarang adalah zaman yang memiliki banyak peluang untuk menenggelamkan generasi muda ke dalam zona nyaman yang keberadaannya tidak selalu baik. Di tengah arus hiburan, tren digital, dan gaya hidup konsumtif, tak sedikit dari mereka yang kehilangan arah perjuangan. Generasi muda seolah dimanja oleh zaman yang serba mudah ini. Hal ini membuat potensi mereka terasa sempit untuk memiliki peluang sebagai pelopor pembebasan Al-Aqsha, yang kini berada dalam tekanan dari segala arah. Namun, apakah generasi muda benar-benar kehabisan kesempatan untuk itu? Seperti halnya siang yang berseberangan dengan malam, dan segala hal di dunia ini yang punya tolak belakang, generasi muda juga pasti memiliki ruang yang membuka potensi untuk menjadi pelopor pembebasan Al-Aqsha yang sangat mungkin terwujud. Maka, di antara dua kemungkinan tersebut, mari kita analisa apa saja yang membuat generasi muda atau Gen Z sebagai pembebas Al-Aqsha menjadi potensial, atau sebaliknya—tidak demikian. Mengacu pada fenomena yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan dari mulut ke mulut, tidak lain adalah maraknya praktik joki ujian masuk perguruan tinggi. Fenomena ini mencerminkan adanya krisis integritas dan mentalitas instan yang tumbuh subur di kalangan sebagian generasi muda. Alih-alih berjuang dengan proses yang seharusnya, mereka memilih jalan pintas demi hasil yang tidak mengecewakan, meski harus mengorbankan kejujuran. Seperti yang kita ketahui, masa-masa penuh kesusahan cenderung melahirkan generasi yang tangguh, sementara masa yang dipenuhi kenyamanan kerap melahirkan generasi yang lemah. Di zaman yang serba mudah ini, tak sedikit orang yang terlena dan tenggelam dalam kenyamanan. Akibatnya, lahirlah generasi yang lemah: enggan berjuang, takut gagal, dan alergi terhadap kekecewaan. Tentu tidak semua generasi muda seperti itu—tidak bisa dipukul rata—. Namun sayangnya, yang seringkali terekspos adalah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, yang pada akhirnya melunturkan nama baik seluruh generasi secara merata. Sekarang, mari kita telisik lebih dalam kelebihan generasi muda masa kini. Gen Z dikenal sebagai generasi yang kritis, berani bersuara, mampu menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu, cepat dalam mempelajari hal baru, penuh inisiatif, serta melek teknologi. Lalu, apakah semua kelebihan tersebut cukup untuk membuka jalan menuju potensi sebagai pelopor pembebasan Al-Aqsha? Dalam diskusi bulanan kami, muncul dua jawaban yang kontras. Sebagian meyakini bahwa hal itu nyaris tidak mungkin terjadi, dan kelebihan-kelebihan yang ada pada Gen Z tidak mampu mengubah hal itu, karena terlalu banyak kekurangan yang menghambat. Namun, sebagian lainnya berpandangan bahwa itu sangat mungkin terwujud, karena kekurangan-kekurangan yang ada bisa dialihfungsikan menjadi pemicu perubahan. Misalnya, sifat FOMO (Fear Of Missing Out) bisa diarahkan untuk ikut dalam gerakan kebaikan dan keinginan tampil bisa diarahkan untuk menyuarakan isu-isu penting. Gen Z juga cenderung memiliki jiwa pemberontak, dalam konteks positif, hal ini justru menjadi kabar baik. Jika egonya bisa ‘disentil’ untuk peduli terhadap isu Palestina maupun pembebasan Al-Aqsha, maka bukan tidak mungkin Gen Z mampu tampil sebagai pelopor utama dalam perjuangan tersebut. Terlebih lagi, sifat keras kepala dan sulit diatur yang sering melekat pada mereka justru bisa menjadi kekuatan—keteguhan mereka dalam memperjuangkan sesuatu akan sulit digoyahkan—. Jadi, Gen Z sebagai pelopor pembebasan Al-Aqsha adalah sesuatu yang sangat potensial, namun bukan tanpa syarat. Upaya pembebasan Al-Aqsha, tentu saja hanya bisa terwujud bagi mereka yang mau berjuang. Ironisnya, tantangan terbesar bisa jadi bukan datang dari luar, tapi dari generasi itu sendiri: Gen Z juga bisa jadi penghalang jika tidak diarahkan dengan tepat. Pada akhirnya, semua kembali pada pilihan: mau mulai atau tidak.
Dan perlu diingat, perjuangan ini tidak bisa dilakukan hanya dengan satu-dua orang, melainkan harus menjadi cita-cita kolektif yang diwujudkan bersama-sama. Allahul Musta’an..
