Dosen LIPIA: Belajar Bahasa Arab seperti Belajar Berenang

 

dosen-lipia-belajar-bahasa-arab-seperti-belajar-berenang

SABTU – (20/02) Dosen LIPIA, Ustadzah Irianis memaparkan belajar bahasa arab seperti belajar berenang. Sebanyak apapun mendapat materi berenang yang baik, bila belum terjun ke air maka belum dikatakan bisa.

Pada acara Tarhib Aam Jadid 2016 di Aula Masjid Al Ikhlas pagi tadi, Ustadzah Irianis menyempatkan diri ceritakan LIPIA dari masa ke masa. Perbedaan mahasiswi dulu dengan sekarang. Kisah Ustadzah, dulu jilbab masih asing di masyarakat. Bahkan orang tua tak sudi anaknya berjilbab. Namun hal ini tidak mengendurkan semangat tholibah terdahulu. Mereka terus gigih menghimpun dan menerapkan ilmu yang didapat.

Dulu nama LIPIA adalah Lembaga Pembelajaran Bahasa Arab (LPBA). Hanya menyediakan waktu belajar sepekan dua hari, dua jam setiap harinya. Itu berarti hanya 4 jam dalam sepekan mahasiswa/i LIPIA dulu mendulang ilmu.

Ketika ditanya secara rinci perbedaan tholibah (mahasiswi) dulu dan sekarang, Ustadzah perdana di LIPIA itu menjelaskan, dulu motivasi mahasiswa ‘hanya’lah ilmu. Bagaimana mereka paham agama secara benar, bagaimana mereka bisa mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang mereka dapat di LIPIA, bagaimana mereka bisa beemanfaat untuk keluarga dan orang-orang sekitar. Motivasi mereka bukan sekadar gelar LC. Bukan sekadar ijazah dan cap lulusan LIPIA.

“Dan maaf-maaf, ya. Tholibah dulu gak ada kepikiran nikah,” sambung Ustadzah yang disambut tawa para mahasiswi.

Sebagaimana diketahui, LIPIA merupakan cabang Universitas Imam Muhammad bin Su’ud di Arab Saudi. Alasan mengapa membangun cabang di Indonesia yaitu jumlah muslim Indonesia yang mendominasi. Pun bagi Arab Saudi, warga Indonesia adalah warga yang akrab dengan Al Qur’an. Ada potensi besar untuk menyebarkan ajaran Islam di negara ini.

Lalu hubungan belajar bahasa arab dan berenang kembali dipaparkan Ustadzah.

“Saya mampu berbicara Arab lancar karena saya mengajar,” jelas Ustadzah.

Ya, karena mengajar menuntut untuk berbicara. Maka pesan Ustadzah, sampaikanlah apa yang dipelajari di kampus.

“Mengajarlah walau dalam bentuk apapun. Karena ilmu kalau tidak diajarkan akan hilang,” nasihat Ustadzah.

“Zaman sekarang banyak yang membutuhkan bahasa Arab, banyak umat yang mau belajar bahasa Arab. Jadi kalian jangan minder. Kalian di jalan yang mulia. Bahasa arab adalah bahasa yang indah dan mahal,” tutup Ustadzah di akhir penyampaiannya.

Acara persembahan Panitia Lintas Organisasi ini dihadiri kurang lebih 170 mahasiswi. Di bawah sayap LDK Al Fatih, program penyambutan mahasiswi baru ini merangkul berbagai elemen kampus. Dari LDK Al Bashiroh, KAMMI Lipia, FDK Hawary, forum-forum daerah seperti FORMALIS, FORMASIS, FOSKADIYAH dan SYAMIL.

Acara dengan sponsor Yayasan Mitra Wakaf dan Yayasan Hijaz ini juga dimeriahkan oleh bingkisan-bingkisan cantik bagi 10 pendatang pertama, pemenang doorprize dan tentu kutaib gratis bagi seluruh peserta.
“Wah, bagi-bagi buku gratis juga?” takjub salah satu peserta ketika diminta mengambil buku sesuai pilihannya. [red/ldkalfatih]

kunjungi media sosial Al-fatih : 

| Al-fatihFacebook.com | Al-fatihInstagram.com |  Al-fatihTwitter.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *