Bandung, bagi saya istimewa. Setelah sebelum-sebelumnya hanya bisa mendengar lewat cerita tentang keindahannya dan keramahan orang-orang yang tinggal disana, sabtu kemarin kesampaian juga kesempatan untuk berkunjung. Departemen humas LDK Al Fatih mengisiasi untuk melakukan silaturrahim ke Gamais ITB (Keluarga Mahasiswa Islam Institut Teknologi Bcndung). Perjalanan yang sangat berkesan.
Kami berangkat dari Jakarta pukul tujuh pagi. Selalu menarik melakukan perjalanan bersama-sama. Lelah bersama, tidur bersama, tertawa bersama, menjadikan ikatan ukhuwah yang terjalin semakin erat. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Hanya saja pak sopir sempat kelolosan sampai kampus UPI. Tepuk jidat. Kami sampai ITB jam 12.00 siang.
Masjid Salman yang terkenal itu terlihat megah. Puluhan mahasiswa terlihat lalu-lalang. Kami mengambil wudhu kemudian menjamak taqshir taqdim zuhur dan ashar. Selepas shalat kami disambut oleh teman-teman dari GAMAIS ITB. Tikar-tikar digelar di halaman masjid. Seperti tahu kekeroncongan perut kami, makan siang ternyata telah disediakan. Ditemani semilir angin dan suasana keakraban, aduhai nikmatnya.
Setelah itu kami ke acara inti. Lokasi di salah satu gedung Salman. Dimulailah diskusi panjang berbalut suasana ukhuwah. Dimulai dengan perkenalan LDK masing-masing kampus kemudian membentuk kelompok-kelompok kecil sesuai departemen.
Jika menilas balik sejarah LDK di Indonesia, GAMAIS ITB memiliki peran yang besar bahkan termasuk yang pertama menginisiasi terbentuknya FSLDK, forum nasional menaungi seluruh LDK seindonesia. Maka duduk berdiskusi denga mereka adalah sebuah penggalian pengalaman dan ilmu yang sangat bermanfaat. Kader-kader kami terlihat antusias mendengarkan pemaparan dari teman-teman GAMAIS.
Azan ashar berkumandang. Diskusi setiap departemen sudah mencapai puncaknya. Acarapun ditutup. “Bagaimana jika kami mengajak kalian berkeliling?” Teman-teman GAMAIS ITB menawarkan menjadi guide. Tawaran yang terlalu menarik untuk ditolak. Bergerombol, kami berkelana menjelajah gedung-gedung tinggi ITB, menselonjorkan kaki di taman-taman, berselfie ria di monumen-monumen penting. Sangat mengasyikkan. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Akhirnya setelah puas mengelilingi ITB kami dengan berat hati harus mengucapkan salam perpisahan. Ada haru yang mengiringi. Sampai berjumpa lagi teman-teman GAMAIS ITB. Nuhibbukum Fillah.
Bandung, tentu tak akan lengkap tanpa berkunjung ke Alun-alun kota. Malam minggu, orang-orang begitu ramai. Kami menjamak shalat maghrib dan isya di Masjid Agung. Setelah itu bercanda ria di atas reumputan sentetis yang terkenal itu. Kemudian berburu kuliner. Jam 7 malam, kami berkemas-kemas bersiap balik ke Jakarta. Banyak pelajaran dan kenangan yang kami dapatkan, yang rasa-rasanya mustahil didapatkan jika hanya berpuas diri di Jakarta saja.
Ilal liqo’ Bandung. Mudah-mudan kita berjodoh kembali, atau jika tidak, mudah-mudahan jodohku berasal darimu. (red/jhr)
kunjungi media sosial Al-fatih :
| Al-fatihFacebook.com | Al-fatihInstagram.com | Al-fatihTwitter.com |



