Alexis, Mengapa dan Ada Apa?

PROLOG

Hotel Alexis dahulunya memiliki nama Hotel Ancol. Tahun 1990-an, Hotel Ancol adalah tempat maksiat.  Kemudian, muncul isu hantu di sana, sehingga pihak hotel merugi dan akhirnya menjual hotel tersebut. Tahun 2000, hotel tersebut dibeli oleh Alex Tirta dan berubah nama menjadi Hotel Alexis. Setelah direnovasi tahun 2006, pihak manajemen berupaya menghilangkan image hantu yang kadung melekat agar hotel ini laku. Akhirnya mereka menemukan sebuah ide, yaitu “Melawan setan adalah dengan bidadari, bidadari diimpor biar mantap”. Maka berangkat dari ide itu, akhirnya konsep “one stop entertainment for man” menjadi konsep hotel alexis. Izin pendirian Alexis sendiri dikeluarkan di masa Gubernur Sutiyoso dan Wakil Gubernur Fauzi Bowo. Alasannya, sebagai kota metropolitan, Jakarta harus memiliki pusat hiburan bagi warga asing. Alexis memanfaatkan keputusan gubernur no 98/2004 pasal 2 ayat 4 & 5. (Penyelenggaraan usaha pariwisata sebagaimana dimaksud pada angka 1, 2 dan 3 yang diselenggarakan di hotel berbintang berlaku ketentuan Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5). Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 98 Tahun 2004 tentang Waktu Penyelenggaraan industri Pariwisata di Provinsi Daerah Khusus ibukota Jakarta. Penyelenggaraan usaha pariwisata sebagaimana dimaksud pada angka 1, 2, 3, dan 4 wajib tutup pada:

  1. Satu hari sebelum dan selama bulan Ramadan
  2. Hari pertama bulan Ramadan
  3. Malam Nuzulul Qur’an
  4. Satu hari sebelum Hari Raya ldul Fitri atau Malam Takbiran
  5. Hari pertama dan kedua Hari Raya Idul Fitri
  6. Satu hari setelah Hari Raya ldul Fitri)

BISNIS PROSTITUSI DI ALEXIS

Berdasarkan pernyataan Gubernur Ahok dan beberapa pemberitaan media serta informasi dari masyarakat sekitar, bisnis prostitusi terjadi di hotel ini. Namun dalam kasus Alexis, berbeda dengan Kalijodo. Hotel Alexis sangat tertutup. Sedangkan bukti fisik yang dapat menjelaskan dan menguatkan penutupan Kalijodo sangat banyak. Selain itu, status perizinan mereka adalah Griya Kesehatan (Pijat keluarga, massage, relaksasi, dsb.), sehingga hampir mustahil mendapatkan bukti fisik (seperti rekaman video, gambar, dan semacamnya) untuk memperkuat delik aduan masyarakat. Selain itu, setoran pajak mereka sangat besar ke Pemda DKI (hampir 30 milyar rupiah per tahun.

AWAL MENCUATNYA ISU BISNIS PROSTITUSI DI HOTEL ALEXIS

Awal kasus Alexis menjadi pusat perhatian, yaitu ketika Gubernur Ahok berhasil menutup prostitusi Kalijodo. Saat itu, ketua DPRD DKI, H. Lulung berkomentar mengenai kenapa tidak ditutup Hotel Alexis juga? Kemudian Ahok mengutus salah satu pegawainya untuk mencari tahu dan bukti mengenai prostitusi di tempat tersebut. Pada awalnya tidak didapat bukti tersebut karena pegawai tersebut datang sebagai pegawai pemda. Maka pihak keamanan di sana hanya membawa utusan Ahok itu ke lantai 1 sampai 3, sedangkan pusat prostitusi berada di lantai 7, seperti yang disampaikan informan Ahok. Kemudian utusan itu kembali datang sebagai turis dan baru menemukan bukti yang ada, tetapi bukti itu tidak terdokumentasi sehingga sulit untuk dibuktikan kebenarannya.

Alexis sendiri baru dapat ditutup oleh Gubernur Anies sebagai realisasi salah satu poin dari janji kampanye Anies-Sandiaga, yaitu menutup hotel ini, sehingga salah satu tindakan awal mereka saat menjabat sebagai gubernur adalah menutup hotel tersebut. Tapi sebenarnya penutupan Alexis ini bersifat politis, karena mereka berkata berdasarkan pengaduan dan keluhan masyarakat sekitar yang oleh Alexis sendiri sulit dikroscek kebenarannya. Sementara pihak Alexis tidak diterima bisnis mereka ditutup sehingga mereka mengajukan tinjauan ulang atas keputusan gubernur tersebut sambil mengumpulkan bukti-bukti serta bantahan-bantahan terhadap tuduhan yang mengarah ke mereka. Dan salah satu mengapa Alexis berhasil ditutup oleh Anies adalah kebetulan momentumnya saat izin operasional Alexis habis pada masa Gubernur Anies, sehingga gubernur memanfaatkan momentum itu untuk belum melanjutkan izin operasional Alexis.

SOLUSI DARI PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA BAGI PARA KARYAWAN ALEXIS

Dengan ditutupnya Alexis, ancaman pengangguran terbuka lebar. Ada 400 pegawai yang bekerja di sana, tidak mencapai 1000 seperti yang diberitakan pihak Alexis dan media. Pemerintah menyatakan akan ikut mencari solusi atas permasalahan ini sehingga alasan pekerja tidak menjadi hambatan pemerintah untuk menutup Alexis, meskipun kemungkinan bahwa pengangguran akan terjadi tetap ada.

Pemprov bergagasan untuk mengalihkan para pekerja di sana ke Komunitas Masyarakat Ekonomi Syariah, dan ada juga sebagian dari mereka yang diusulkan agar dijadikan supir kantor DPRD DKI. Kebijakan terkait hal ini masih belum dirilis resmi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sementara untuk orang-orang asing, mereka akan dipulangkan kembali ke negara asalnya.

BAGAIMANA MENGHINDARI PROSTITUSI

Dari kacamata seorang muslim, penyebab jatuhnya seseorang ke dalam prostitusi adalah:

  1. Lemahnya Iman
  2. Kurangnya pemahaman aspek agama mengenai dampak dari zina dan mendekati zina.
  3. Kehidupan yang terbangun dengan hedonisme dan materialisme, dan
  4. Rasa penasaran yang tinggi.

Dan untuk terhindar dari jurang maksiat—utamanya prostitusi yang saat ini menjadi topik pemicaraan, ada beberapa cara:

  1. Memperkuat Iman dan pemahaman agama
  2. Banyak berdiskusi dengan orang-orang yang dapat menjelaskan dan bukan menjerumuskan, dan
  3. Hindari penasaran. Hal inilah yang biasanya sulit dibendung kalangan remaja. Narkoba dan prostitusi adalah dua hal yang dimulai dari penasaran dan ikut-ikutan karena ingin ditemani.

Ada beberapa cara menghindari rasa penasaran itu, di antaranya:

  1. Pilih lingkungan yang baik untuk kita masuki.
  2. Pilihlah teman yang baik. Jangan khawatir dengan tidak memiliki teman karena sikap kita yang tegas
  3. Pegang idealisme, dan kuatkan dengan logika. Manusia dituntut untuk mampu menyeimbangkan otak dan hati mereka. Karena itu agama tidak bisa tanpa ilmu begitu juga sebaliknya. Terlalu idealisme kemudian menjadi gegabah dalam tindakan juga salah, muslim dituntut untuk cerdas karena Allah jauh lebih menyukai hamba-Nya yang cerdas

PENUTUP

Generasi muda adalah agen perubahan. Mumpung masih muda, berusahalah untuk selalu menegakkan kebenaran. Masyarakat akan menjadi hormat kepada remaja idealis, karena merekalah yang akan menjadi pelawan arus di era sekarang. Apalagi kalua hal tersebut dilakukan oleh setidaknya satu institusi secara bersama-sama. Begitu lulus dan menyebar ke masyarakat, orang-orang yang ada di dalamnya akan saling berlomba-lomba dalam kebaikan.

Kemudian, Islam lahir dalam keadaan asing, dan akan kembali asing. Jangan pernah takut dengan keterasingan selama kita menegakkan kebenaran yang benar-benar kita pahami. Tetapi jangan pula bertindak gegabah dalam membela kebenaran tersebut karena sejatinya tindak tanduk kita diperhatikan oleh orang lain. Sikap kita tersebut sejatinya mencerminkan akhlak kita. Sikap kita tersebut juga bak dua sisi koin; ia bisa menjadi lahan dakwah sekaligus lahan celaan, baik bagi kita maupun orang lain. Karena itu semoga kita senantiasa tawadhu dan cerdas dalam bersikap.

Resume Diskusi Maktab Al Fatih bersama Pemantik Hardianto Widyo Priohutomo (Mahasiswa S2 FISIP Universitas Indonesia)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *